Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Fast & Furious 7: (And) Another Seven F’s

It’s been already fourteen years ago since the first movie of The Fast and The Furious was released. At that time, I do not have an ID card and a habit of going to the movies is not that huge like now. I grew up with this movie franchaise, considering the time span of fourteen years, there are seven films were born. Yet this post is not a general review of the movie, it may contain spoilers. So, if you have not had a chance to watch, it’s good to immediately close this page.

Continue reading “Fast & Furious 7: (And) Another Seven F’s”

Advertisements

What Happens in Leeds Stays in Leeds

Meski detik adalah salah satu satuan waktu yang terkecil, tetaplah tidak ada manusia yang bisa menerka apa yang bakalan terjadi satu detik dari sekarang. Karena hidup selalu diwarnai dengan kejutan yang terkadang berujung bahagia atau nestapa yang menderaikan air mata. Dan bukan hanya waktu yang memasang ranjau-ranjau penuh misteri yang siap mengejutkan manusia tapi juga tempat yang baru. Continue reading “What Happens in Leeds Stays in Leeds”

Birmingham: All England (GF)

The day before, I  was ran a little staggered and almost had crashed while going down the stairs of Barclaycard Arena. After watching the semi-final matches, I headed to the counter to buy a ticket for tomorrow, the grand-final day of the 2015 All England. One of the badminton most prestigious event.

Continue reading “Birmingham: All England (GF)”

Birmingham: All England (SF)

Teriakan In-do-ne-sia sudah saling bersahutan ketika saya masuk ke dalam Barclaycard Arena.  Continue reading “Birmingham: All England (SF)”

Tour de London: Day 2

28 Desember 2014. Keriuhan di rumah tusuk sate sudah dimulai jauh sebelum kokok ayam terdengar. Ada yang sedari pagi sekali sudah berkutat dengan pisau dan racikan bumbu di dapur, rebutan kamar mandi, ada juga yang masih berjuang sekedar untuk membuka mata dari lelap tidurnya.

Selamat pagi, London! Di hari kedua, setelah mendatangi markas Arsenal sehari yang lalu, Tour de stadiums pun dilanjutkan.

-oOo-

Klub dengan logo seekor ayam berdiri di atas bola yang keduanya didominasi oleh warna biru tua dengan siluet putih menjadi destinasi pertama. Tottenham Hostpur F.C. bermarkas di White Hart Lane stadium dan terletak di London bagian utara. Sebagai orang yang buta arah mata angin, entah bagaimana mendefinisikan sisi bagian utara, selatan, barat, dan timur dari kota ini. Thank you, google maps!

Bayangkan sosok seseorang yang sedang terperanjat dengan bola mata yang hampir keluar dan mulut menganga. Itulah ekspresi dari kami ketika mendapati stadion klub ini. Dari segi fisik bangunan, tak ada tulisan nama klub dengan ukuran besar yang biasa terpasang di bagian depan. Ditambah adanya penjagaan yang diperketat karena pada hari itu ada pertandingan antara tuan rumah melawan Manchester UnitedSayang hasil akhirnya berupa skor imbang tanpa gol, karena berharap tim setan merah meraih poin tiga. Tak banyak waktu yang dihabiskan di White Hart Lane, karena setelah sekali tawaf mengelilingi stadion tak begitu banyak sudut-sudut stadion yang bisa dijadikan objek bidikan kamera.

Tottenham Hotspur
Tottenham Hotspur F.C.

Dari stadion klub si ayam biru, perjalanan dilanjutkan ke stadion yang klub sepak bolanya sudah berdiri sejak tahun 1905, Chelsea F.C. Bermarkas di wilayah Fulham, stadion klub ini memiliki nama Stamford Bridge yang memiliki kapasitas sekitar 41.000 penonton. Tampak luar, stadion ini tidak tampak mencolok. Tersamarkan oleh bangunan sekitar. Tidak seperti di klub sebelumnya, kami menghabiskan banyak waktu di sini. Mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, begitu seterusnya sembari menunggu toko merchandise buka. Maklum, kami datang saat hari Minggu dan jam operasional toko buka lebih siang dari hari biasanya.

Chelsea F.C.
Wefie with Chelsea F.C. Logo as Backdrop

Stadionnya tidak begitu luas tapi beruntunglah di sini terdapat beberapa spot yang menarik buat dijadikan lokasi pemotretan. Hitung-hitung sebagai killing time menunggu toko souvenir buka dan juga seorang temannya-teman-kami yang berniat datang untuk menyusul. Please pardon us for these crazy pictures!

Entah berapa lama yang waktu yang dihabiskan di markas tim biru, yang jelas sudah melewati hampir setengah jam dari jadwal yang disusun sehari sebelumnya. Next stop, Fulham F.C.

-oOo-

Tak banyak yang saya tahu tentang klub Fulham selain lokasi stadionnya yang tidak begitu jauh dari Chelsea. Hanya sekali naik bus dan dilanjutkan berjalan kaki dan surprisingly melewati taman kota yang cantik. Iya, di ujung taman akan tampak sebuah bangunan dengan pagar teralis dan tiang-tiang lampu penerang stadion dan di situlah berdiri Stadion Craven Cottage. Tidak seperti stadion lain yang bagian luarnya bisa dimasuki oleh pengunjung, entah kenapa hal itu tidak berlaku di sini. Tertutup, semacam tempat para gangster berkumpul di film-film Hollywood. Alhasil, cuma pose di depan gerbang.

Gadis Galau Di Tepi Danau
Gadis Galau Di Tepi Danau
Fulham F.C.
Fulham F.C.

Dari seantero London, mungkin stadion ini yang memiliki lokasi paling pres-ti-si-us layaknya iklan properti miliki perusahaan yang harganya naik esok hari. Selain bersebelahan dengan taman kota, rumah-rumah penduduk di sini pun tertata dengan amat sangat rapi. Seperti Menteng tapi rumahnya lebih kecil. Sungai Thames yang termahsyur pun melintasi tepat di bagian belakang stadion. Kala itu, airnya seperti sedang surut. Kurang dramatis jika dijadikan sebagai tempat melompat para manusia-manusia galau yang berniat bunuh diri.

Nggak sanggup nulis caption di foto ini. #IfYouKnowWhatIMean
Gadis Penunggu Sungai Thames 🙂

-oOo-

Rencananya, tour de stadiums hari ini akan diakhiri di stadion kebanggaan masyarakat Inggris pada umumnya karena tempat biasa diselenggarakan pertandingan-pertandingan internasional dan juga sebagai tempat konser musik dengan skala yang besar. Yup, Wembley Stadium!

Sebelum mencapai stadion terakhir di daftar rencana yang disusun, kami melipir sejenak ke London Central Mosque untuk melaksanakan kewajiban sekaligus beristirahat, mengingat sudah jauh melwati jam makan siang tapi bekal yang kami bawa masih tertutup rapat.

The Regents Park adalah sebuah taman yang terletak tak jauh dari Masjid dan di situlah akhirnya cacing-cacing kelaparan di perut kami berhenti berteriak. Tapi tunggu sebentar, bukanlah penghuni rumah tusuk sate jika tidak suka membuat drama. Mencari kursi untuk ditempati saja harus melewati proses penimbangan bobot-bibit-dan-bebet terlebih dahulu. Ada yang ingin di sini, ada yang ingin di situ, apalagi kalau mengingat banyaknya burung, bebek, dan angsa yang berkeliaran dan meninggalkan sambal hijau ala restoran padang. Imajinasi ini sudah terlalu liar atau rasa rindu tanah air yang sudah tak tertahankan, hasil buangan binatang unggas pun di-korelasi-kan dengan kemahsyuran kuliner ranah minang.

Selepas makan siang, perut pun senang? Tentu saja, tapi tidak dengan hati dan perasaan ini. Adalah sebuah patung paddington yang terletak dekat pintu masuk taman ini yang menjadi pemicu sekaligus saksi kekesalan seorang wanita Asia, sebut saja Mawar (suara tidak disamarkan, dan wajahnya tidak dibuat kotak-kotak) terhadap kami. Menjelang perilisan film keluarga Paddington, pihak rumah produksi membuat sebelas patung beruang cokelat tersebut dalam sebelas kostum yang berbeda dan tersebar di penjuru kota London yang satu diantaranya ada di markas besar klub Chelsea.

With The Paddington Bear
With The Paddington Bear

Mawar, si wanita Asia yang dimaksud rupanya berniat juga ingin mengambil foto si beruang. Tapi, kemudian aktivitasnya sedikit terhambat karena satu per satu diantara kami juga ingin mengabadikan diri dan hingga akhirnya kami minta tolong untuk mengambilkan foto kami berlima dan terlontarlah komentar dari mulutnya yang membuat telinga ini berdarah-darah layaknya remaja putri yang mendapatkan siklus bulanan. Sungguh, senyuman dalam foto di atas adalah sunggingan bibir yang terpaksa.

-oOo-

Stadion Wembley lokasinya ternyata cukup jauh dari lokasi terakhir kami. Harus berganti berbagai moda rel ditambah bus serta dikombinasikan dengan berjalan kaki. Belum lagi drama salah jurusan. Matahari mulai menghilang ketika dari kejauhan tampak lengkungan baja stadion Wembley yang terkenal. Pilar-pilar metal yang pucuknya berhiaskan cahaya penerangan serta merta mengingatkan kepada salah satu masjid di Saudi Arabia. 

-oOo-

Biasanya, tempat terakhir adalah yang paling berkesan atau setidaknya jadi bahan obrolan di sepanjang perjalanan. Tapi entah kenapa topik pembicaraan tidak bisa jauh-jauh dari si Mawar. She will always be remembered, mostly her two red eyes!

Malham!

Katakalah saya sebagai seorang yang terlambat jatuh cinta kepada gunung. Jadi semenjak dua tahun setelah kuliah, seumpama sekarang ada ajakan untuk mendaki semacam gak pakai pikir-pikir lagi, langsung di-iya-kan. Dulu, jika ada ajakan pergi, misal ke gunung A, pasti selalu terbentur restu ibu. Entahlah, beliau lebih rela jika saya sebagai bungsu dari tiga bersaudara, bepergian ke pantai. Padahal kan di pantai godaan mata itu sungguh maha berat, sedangkan di gunung setidaknya satu banding seribu ada pendaki yang tank-top-an, apalagi di UK dan sedang musim dingin.  Continue reading “Malham!”

Malham: A Short Description

One of the reason why I do I’m in love with Yorkshire Dales National Park more, more, and more than The Peak District National Park. It has beautiful and seriously peaceful lake in the middle of main hiking trail while row of hills covered by snow could be seen from a distance. Trust me, though the snow layers are looks thin by far, in fact it can make your feet sink up to your calf as long as you had the same height with me. Beside a group of sheep, you’ll see more animals like huge cows and big buffalos. Another fun fact of this national park is have a rock mountain named Malham Cove, one of the filming locations Harry Potter and The Deathly Hallows (Part 1). It’s like a puzzle rocks on the ground. Meanwhile, the national park also has a waterfall site but too bad me and my friends missed it as we have another path which is the longest route and took us up to the highest hill. – at Yorkshire Dales National Park View on Path

Tour de London: Day 1

Meski tidak tertulis secara resmi dan bahwasanya Leeds adalah salah satu kota terbesar di Inggris Raya, tapi apalah artinya menginjakkan negeri ini kalau kaki ini belum menapaki kota London. Selayaknya belum ke Jakarta kalau belum ke Monas, meskipun kalau saya pribadi belum sah ke Jakarta kalau tidak masuk ke Pacific Place. Akhirnya, di minggu terakhir bulan Desember kemarin hingga dua hari setelah pergantian tahun, tubuh ini terkukung diantara besarnya kota London. Berhubung datang saat musim liburan akhir tahun, ribuan manusia memadati tiap sudut bangunan atau tempat yang masuk dalam daftar-lokasi-yang-harus-dikunjungi selama di London.

Sebelumnya, ucapan terima kasih ditujukan kepada tiga manusia penghuni rumah tusuk sate yang penuh drama dan tak pernah kehabisan cerita. Yang langkah kakinya seribu kali lebih cepat dari pengantin wanita tradisional Solo. Yang hobi menerobos lampu merah! Betha, Inggit, dan Ronaldthank you because you have been given a place for me to stay for a week! Kota yang sedemikian mahalnya, menjadi lebih bersahabat bagi kantong karena kalian. Oh iya, juga untuk operator Mega Bus cabang UK karena sudah menyediakan tiket PP Leeds – London dengan harga miring £11.

-oOo-

Matahari belum menampakkan diri tapi dua sosok manusia sudah menerjang dinginnya angin musim dingin dengan berjalan kaki menuju Leeds Bus Station. Kebetulan bus yang ditumpangi adalah yang paling awal di jadwal keberangkatan menuju London tiap harinya. Selanjutnya, cerita dilanjutkan dengan menutup mata (tidur -red) karena perjalanan akan ditempuh sekitar hampir empat jam menuju Victoria Coach Station, London jika tanpa halangan. Selama perjalanan, bus akan mampir dulu ke beberapa pemberhentian untuk mengangkut penumpang yang lain serta pergantian supir.

Deretan bukit-bukit landai yang menghiasi sepanjang jalan tol berubah menjadi gedung tua menjulang. Menandakan bus yang dinaiki sudah berjalan di atas aspal basecamp keluarga kerajaan. Sulit mendapati tulisan “Welcome to London” untuk membuat yakin saya tidak berada di kota yang salah. Hingga akhirnya bus tingkat berwarna merah tua yang menjadi icon kota ini melintas. Ah… Kate Middleton, lubang hidung kita saat ini menghirup oksigen di radius yang sama.

Victoria Coach Station tidak terlalu ramai dan hectic ketika saya sampai. Selanjutnya, memanggul tas sembari geret koper menuju Victoria Underground Station yang lokasinya hanya butuh sekitar 5 menit berjalan kaki. Berada di London artinya harus terbiasa naik turun tangga dan mempercepat langkah kaki, mengingat kereta bawah tanah adalah moda paling utama di kota ini. Salah seorang teman dari yang sudah disebutkan diatas sudah menunggu di sana, meminjamkan kartu oyster untuk diisi saldo selama tujuh hari. Oyster card adalah kartu sakti untuk bisa “menikmati”  moda transportasi di kota ini. Jatuhnya lebih murah jika bisa memprediksikan berapa lama kunjungan anda di kota ini sebagai turis. Harganya pun dibagi lagi menjadi beberapa zona, semakin luar zona maka harganya semakin mahal harganya. Penjelasan lebih detail tentang oyster card terutama untuk turis bisa dilihat di sini.

There’s nowhere else like London. Nothing at all, anywhere!

Vivienne Westwood

-oOo-

Tour de Stadiums!

Tahukah kamu kalau London adalah penyetok klub sepakbola yang bertarung di Liga Inggris terbanyak musim ini (2014-2015) dan (mungkin) musim-musim yang lalu dan musim-musim yang akan datang? Sebut saja Chelsea, Arsenal, Westham United, Tottenham Hotspur, dan Queens Park Ranger. Dan karena sedemikian banyaknya, entah kenapa tercetus wisata ini. Hampir menjelang malam di hari pertama, setelah mampir dulu di rumah tusuk sate untuk beristirahat sejenak dan makan siang, tour de stadiums dimulai. Meski hanya sempat mengunjungi satu saja, tapi sudah cukup sebagai awal, mengingat sebaran titik stadion yang cukup tersebar. Arsenal, you’re lucky number one dan itu pun karena tidak terlalu jauh dari lokasi keberangkatan.

Sejauh ini, Arsenal Football Club adalah klub sepakbola London yang paling sukses karena sudah mengantongi 13 kali juara liga. Kali pertama adalah tahun 1931 dan terakhir kalinya satu dekade yang lalu. Bukan berarti Arsenal tidak berprestasi, tahun 2014 kemarin klub ini berhasil memenangi Piala FA dan FA Community Shield. Sedangkan untuk liga champions eropa, prestasi tertinggi yang pernah dicapai adalah tampil sebagai finalis pada musim 2005-2006. Kalah 2-1 dari Barcelona. Beberapa pemain terkenal yang berasal dari klub berjuluk The Gunners adalah Thiery Henry, Dennis Bergkamp, Patrick Veiera, Sol Campbell, Nicholas Anelka. Ingin menulis Van Persie di daftar ini, tapi sepertinya dia lebih bersinar di Manchester United. Untuk pemain yang sedang memperkuat musim ini ada Mesut Özil dan Lukas Podolski dengan nomor punggung masing-masing 11 dan 9.

Berhubung terletak di pusat kota, Emirates Stadium tidak memiliki pekarangan yang luas di luarnya. Ketika sampai langsung disambut oleh bentuk stadion dengan bertuliskan nama klub. Dua buah meriam yang saling membelakangi menjadi garda paling depan. Semacam menjaga keamanan stadion ini dari serangan musuh.

Langit semakin kehilangan cahaya, maka sebelum melakukan tawaf mengelilingi stadion, incaran pertama adalah memasuki toko souvenir demi memenuhi keinginan para penggila klub ini dengan membelikan beberapa pesanan yang diminta.

Emirates Stadium - Bagian Bawah
Emirates Stadium – Bagian Bawah
Emirates Stadium – Bagian Atas [*]

Secara umum, dari luar stadion ini seperti terbagi menjadi dua bagian, lantai satu dan lantai dua. Lantai satu berupa tempat penjualan souvenir khas The Gunners sedangkan atasnya lagi seperti pintu masuk menuju ke dalam stadion. Di lantai dua, terdapat beberapa patung yang bukan hanya pemain legendaris yang pernah memberikan kontribusi kepada team, sebut saja Thierry Henry, Dennis Bergkamp, dan Tony Adams. Selain itu, juga terdapat dua patung non-pemain, Ken Friar dan Herbert Chapman.

-oOo-

Tour de Emirates Stadium usai seusai tawaf satu putaran dan langit mulai menghitam. Satu buah klub asal kota London yang harus dikunjungi selama di UK sudah berhasil dicoret dari daftar. Klub lainnya akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Disclaimer : foto dengan tanda [*] pada bagian keterangan / caption bukan milik pribadi melainkan berasal dari kamera teman. Efek kemerahan yang dihasilkan murni dari kamera dan juga karena ke-tidak-tahu-an pemiliknya mengapa bisa terjadi demikian. 

(Still) My Best Birthday, Though…

There are some reasons why I do fvcking love January. I celeberates my bornday on 11th January is the first reason. Secondly, in the spirit of happy new year and in the name of resolution of life, most of people are still think of positive things that must be achieved in a year ahead. Thirdly, because January is in between of December and February. December is month of holiday and party season so at least I can lose control a little bit. February is month of love and the shorthest based on the number of dates, means I get my monthly salary a few days faster. Haha 🙂 Continue reading “(Still) My Best Birthday, Though…”

Blog at WordPress.com.

Up ↑