Karena hujan bukan hanya sekedar peristiwa alam. Tentang jatuhnya tetesan air yang dikirim oleh langit untuk membasuh bumi atau tentang udara dingin yang tetiba menyergap tulang. Hujan juga lebih dari sekedar petrichor yang menyeruak bersama rerumputan.

Tak hanya air, hujan juga turut menjatuhkan kenangan. Bukan hanya yang manis yang terkadang membuat senyum tertahan tapi juga pahit yang datangkan tangis berderai. Atau setidaknya desiran jantung yang serasa menghujam.

Sudah berapa hujan yang kau habiskan sembari menatap nanar dari balik jendela besar? Atau berdiam di balik dekapan selimut bersama secangkir kopi pekat dan lantunan lagu menyayat?

Mungkin benarlah Dewi Lestari berkata dalam lagu karyanya, “ku percaya alam pun berbahasa…”. Meski telinga ini tidak menangkap suaranya, tapi entah kenapa hati kemudian bisa menerjemahkannya. Duhai alam, kamu sungguh luar biasa.

Biarkan detik waktu terus jalan. Karena tidak juga ada yang mampu hentikan terkecuali Tuhan. Kita tunggu siapa gerangan yang kemudian datang dan bertahan. Tidaklah perlu mengutuk untuk dia yang sekedar singgah kemudian menghilang. Dan seperti halnya hujan, ia pun tidak selamanya. Tetapi ketahuilah bahwa hujan datang dengan memberi kabar dan meninggalkan kesan berupa pelangi dalam lengkungan atau semburat bau tanah dan bebatuan yang menenangkan.

Leeds, selepas hujan.
27 Juli 2015

image
Lengkungan Pelangi antara Leeds – Bradford
Advertisements