Entahlah siapa yang sebenarnya kali pertama yang mencetuskan sebuah petuah bijaksana berikut, “yesterday is history, tomorrow is mystery, today is a gift, that is why it is called the present”. Tapi memang begitulah adanya. Bahwasanya, satu detik di depan tak ada yang tahu apa yang bakalan terjadi, satu detik yang berlalu terkadang berakhir untuk disesali, dan satu detik yang sedang berjalan adalah sebuah jembatan dengan bahagia atau sedih di kanan dan kirinya.

Kali kedua merayakan lebaran di tanah seberang tetaplah tidak semanis di tanah tercinta dengan keriuhan sanak saudara. Meskipun di sini ada penawar dengan kehadiran para diaspora beserta keluarganya yang mencoba tetap menghadirkan sebaik-baiknya atmosfir ke-tanah-air-an di satu Syawal dalam wujud potongan daging rendang dan kawan-kawan.

Kemarin, bisa dikatakan lebaran paling random yang pernah terjadi di dalam hidup saya. Selepas shalat eid yang langsung disusul ke kampus demi berbicara mengenai perkembangan tentang disertasi sebelum akhirnya berkumpul dengan sesama warga Indonesia dan (mendadak) bertemu dengan seorang Andrea Hirata. Iya, Andrea Hirata, si Abang Ikal!

-oOo-

Setengah tergopoh-gopoh sekembalinya dari kampus untuk sekedar mengisi perut sebelum sajian lebaran yang sebenarnya, kemudian entahlah tetiba ajakan untuk melipir ke kota sebelah yang lagi-lagi adalah Sheffield untuk menghampiri sang penulis kisah Laskar Pelangi. Sebelumnya, saya hanya sebatas tahu kalau beliau sedang berada di Inggris. Beliau sedang apa pastinya dan bersama siapa, sama sekali tidak ada keinginan lebih saya untuk mengetahuinya terlebih ketika belenggu disertasi memenuhi setiap sekat-sekat otak yang membuatnya semakin mampat.

Merayakan lebaran yang diselipi bayang-bayang disertasi adalah sebuah ironi. Maka dari itu, rencana menonton film Ant-Man pada sore harinya sebagai pelipur lara ala kadarnya. Tapi ketika mendapati pilihan antara Andrea Hirata di depan mata atau Scott Lang di layar bioskop bukanlah perkara sulit untuk memutuskan yang mana yang seharusnya menjadi pilihan. Dan tiket bioskop pun berpindah tangan. Kemudian yang menjadi permasalahan adalah ketika mendapati perjalanan dari Leeds ke Sheffield mendadak tidak semudah biasanya. Satu tiket perjalanan bus terpaksa hangus karena salah dalam mengestimasi waktu. Dan tiket bus berikutnya diperoleh dalam penggalan nafas karena sekian detik terlambat bus berjalan meninggalkan.

Normalnya, waktu tempuh Leeds menuju Sheffield dengan menggunakan bus adalah kurang dari satu jam. Tapi entah mengapa suasana Pantura saat mudik lebaran hadir di tengah perjalanan karena adanya pekerjaan perbaikan jalan. Dari yang seharusnya tiba jam empat sore kemudian molor setengah jam. Belum lagi ke-kikuk-an saat mencari lokasi kedai kopi Costa sebagai tempat bertemu. Tidak pernah terbersit dalam otak jika seorang Andrea Hirata yang rela untuk memilih menunggu demi dua orang mahasiswa dari kota tetangga. Semoga novel Ayahnya semakin laku, Bang!

Ketika dari kejauhan kedai kopi tempat janjian diketemukan, rasanya setapak demi setapak jalan yang dilalui berubah seperti altar pernikahan dimana mempelai sudah berdiri menunggu di ujungnya. Duh, maafkan imajinasi ini. Beliau duduk di satu sudut ditemani seorang yang juga pengisi soundtrack film Laskar Pelangi, Meda. Hingga kemudian saling menyapa, duduk, dan kemudian terjadilah percakapan tidak normal antara pemuja dan yang dipuja yang berlangsung hingga tiga jam tanpa terasa. Oh iya, perihal keberadaan seorang Andrea Hirata di Inggris adalah untuk menerima honorary doctorate dari Warwick University dan kalau di Sheffield tidaklah usah ditanya. Karena di kota ini lah beliau bersekolah dan kemudian akhirnya ‘menemukan’ Edensor dan memperkenalkannya kepada kita. Ingin melakukan napak tilas, katanya.

Sementara itu topik pembicaraan antara kami tak jauh-jauh dari semangat Laskar Pelangi dan cerita tentang pengalaman-pengalaman beliau di kota ini ketika bersekolah dan sebagian haru-birunya beliau ketika menjadi pegawai perusahaan pelat merah dan kecintaannya terhadap Belitong dan isi-isinya yang disambutlah dengan rangkaian kisah Wanda -yang punya ide mengajak ke Sheffield, ketika ‘mengabdikan diri’ di Kalimantan. Selebihnya, sedikit sesi foto-foto dan tanda tangan selayaknya

-oOo-

Sekali lagi, kemarin adalah lebaran paling random saya. Pagi harinya sama sekali tidak ada gambaran, pertanda, atau firasat apalah untuk bisa bertemu dengan seorang Andrea Hirata terlebih bisa duduk dalam satu lingkaran meja yang sama di tiga jam lamanya. Bahwasanya lingkaran misteri bukan hanya milik hari esok tetapi juga satu detik yang ada di depan. Kali ini Andrea Hirata, siapa tahu satu detik ajakan mendadak di entah kapan mempertemukan dengan Kendall Jenner, mungkin? Sebagai penutup, jika diakumulasikan apa yang terjadi kemarin, it was a history and a gift as well on Eid Mubarak day.

Advertisements