Karena kemana kaki melangkah, di situlah tujuan berada. Dan sebuah perjalanan sejatinya terdiri dari dua macam. Yang terencana dan yang tercetus begitu saja. Kadang, yang terencana bisa saja tak terlaksana di-karena-kan beberapa alasan yang mendadak muncul ke permukaan. Kembali lagi, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan. Ataupun yang tercetus begitu saja malahan lantjar djaja seperti ruas jalan tol Jagorawi di tengah malam ketika libur lebaran.

-oOo-

Kota Sheffield terletak tepat di selatan Leeds. Butuh sekitar satu jam menggunakan kereta ataupun bus antar kota untuk bisa mencapainya. Beberapa hari yang lalu, sembari menenteng beberapa lembar dokumen yang menyatu dalam satu map berwarna kuning, saya bepergian ke kota di mana Andrea Hirata pernah menceritakan sebagian kisahnya.

Singkatnya, saya menapaki kaki di Sheffield sekitar jam delapan pagi yang kemudian bergegas berjalan kaki menuju lokasi kantor UK Border berada untuk mengurus dokumen. Tidak begitu jauh, dibutuhkan sekitar sepuluh hingga limabelas menit saja dari Interchange. Sehubungan tidak ada gambaran berapa lama saya akan menghabiskan waktu hingga pengurusan dokumen selesai, sebuah tiket open-return sengaja dipesan. Siapa sangka, sekitar pukul sebelas siang dan saya baru bisa diperbolehkan untuk pulang. Terasa lama, apalagi ditambah kalau sinyal handphone yang biasa muncul di pojokan layar mendadak menghilang karena disengaja oleh pengelola gedung.

Masih dalam satu rangkaian, seharusnya saya menghadiri undangan seminar teman di universitas kota setempat. Sayangnya, ketika datang sesi presentasi dia sudah selesai dan hanya bertatap muka di halaman kampus sembari ber-ha-ha-hi-hi ala muda-mudi di penghujung usia duapuluh-an.

Salah satu obrolan diantara kami adalah berbagi pengalaman menjalani puasa sembilan belas jam yang cukup panjang ini. Selain kehilangan deretan iklan produk sirup, sarung, ataupun obat maag yang biasa seliweran di layar kaca, aktivitas berupa menunggu adzan maghrib berkumandang dengan berjalan-jalan alias ngabuburit pun sirna. Oh dear thesis, I blame you! 

Dan dari sinilah tercetus untuk kembali mengunjungi Edensor dan sekitarnya. Apalagi saya tidak harus mempermasalahkan waktu kepulangan karena tiket open-return sudah ada dalam genggaman.

-oOo-

Kali kedua ke Edensor  tidak ada perasaan yang istimewa. Hanya saja kali ini saya yakin lebih dimudahkan ketimbang yang pertama. Baik dari segi cuaca, emosi, ataupun rutenya. Well, adapun perjalanan ini bukanlah bentuk napak tilas ataupun balas dendam karena ada drama yang terselip di kunjungan pertama. Begitulah, namanya juga lembaran hidup dimana drama adalah deretan spidol berwarna yang siap untuk ditorehkan.

Kemudahan pertama, meski sedikit dinaungi awan hitam, perjalanan kali ini tidak disertai oleh hembusan angin kencang. Beberapa pasangan paruh baya pun tampak mengisi bangku-bangku penumpang. Duh, kalau lihat pemandangan ini tuh rasanya damai gimanalah gitu. Sebelum bus melaju, sang supir mengingatkan kalau di tiket perjalanan kali ini para penumpang berkesempatan mendapatkan potongan sebesar £2 ditambah harga khusus bagi pelajar untuk masuk ke Chatsworth House. Sebuah museum yang kemarin belum sempat disambangi bagian dalamnya.

Back to Edensor
Back to Edensor

Tak begitu lama waktu yang dihabiskan di Edensor, mengingat tempat ini hanyalah desa kecil dengan bangunan gereja sebagai garda terdepan dan rumah-rumah mungil yang kemudian berjejer mengikuti di belakangnya. Tergoda dengan potongan tiket masuk Chatsworth House, saya pun menuju ke sana.

Kawanan Sapi
Kawanan Sapi

Pernah dengar cerita hewan ternak yang bebas berkeliaran di jalan raya di Indonesia? Saya pernah mengalami di satu ruas jalan di Gorontalo dan Aceh. Jangan kaget kalau hal tersebut juga terjadi di UK. Harap maklum, namanya juga pedesaan. Hanya saja di sini tidak ada gadis desa yang membawa bakul berupa cucian yang pulang dari sungai ala cerita rakyat tanah Jawa.

-oOo-

Chatsworth House bisa dibilang mirip dengan Kebun Raya Bogor yang memiliki istana dan hamparan luas halaman berupa taman. Nah, Chatsworth House sekarang bisa dikatakan sebagai museum yang menyimpan peninggalan para penghuninya terdahulu yaitu Duke of Devonshire dan penerusnya. Jadi bisa ditebak jika bagian dalamnya adalah koleksi perabotan yang sedianya memang sedari dulu digunakan. Ruang kamar tidur, perpustakaan, hingga tampat dimana terbentang meja makan panjang, semuanya masih terjaga dengan rapi. Sentuhan klasik bernuansa katolik dominan menghiasi isi Chatsworth House secara keseluruhan. Terkecuali ketika menuju pintu keluar yang menghubungkan dengan bagian taman, didominasi oleh deretan patung-patung klasik khas Yunani dan Romawi.

-oOo-

Bagian taman dari Chatsworth House adalah yang paling favorit oleh kaum muda. Apalagi tidak ada kasak-kusuk seperti yang ada di Kebun Raya Bogor kalau hubungan bakalan putus bagi pengunjung yang datang bersama pacar. Jadi jangan heran jika ada banyak yang saling pegangan tangan, senderan, gelayutan, ataupun selonjoran berdampingan di atas hamparan rumput hijau sembari menikmati paparan sinar matahari.

Padang rumput hijau, air mancur di tengah kolam besar, pepohonan tua, dan deretan bunga-bunga. Apalagi yang kurang dari sebuah taman yang menyatu dengan istana. Entahlah berapa kira-kira luas tamannya. Hanya saja saya tidak bisa menyusuri hampir semua sudutnya karena harus kembali lagi ke kota asal dengan menggunakan bus keberangkatan jam tujuh malam. Berharap ketika sampai tak terlalu lama menunggu adzan maghrib berkumandang.

-oOo-

Memaksakan rumah-rumah jaman sekarang untuk bisa memiliki taman seluas di Chatsworth House adalah sebuah kemustahilan terkecuali ada nominal rupiah dengan jumlah angka nol panjang di belakangnya. Perkembangan populasi yang sedemikian pesat pun merubah konsep hunian terutama di kota besar. Rumah-rumah konvensional itu kini berubah wujud menjadi gedung-gedung menjulang dengan label apartemen atau kondominium. Atas nama pemanfaatan lahan, memang pembangunan rumah yang vertikal adalah jalan keluar. Sementara itu, biarlah saya menabung dulu.

Advertisements