Kemampuan untuk beradaptasi bahwasanya adalah suatu bakat alamiah yang Tuhan turunkan kepada seluruh mahluk ciptaannya. Dari pelajaran biologi ketika masih menggunakan seragam putih-biru, ada banyak contoh mahluk hidup yang digunakan sebagai contoh dari yang namanya adaptasi. Bahwa jatuhnya dedaunan pohon jati ketika musim kemarau bukan karena si-pohon-jati ikut-ikutan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, beserta warganya yang berbondong-bondong memangkas rambut di kepala, merayakan kemenangan Persib menggondong juara liga. Ataupun ketika landak yang membangunkan duri-duri di tubuhnya, bukan karena dia mendadak merinding saat melihat sebuah penampakan di ujung jalan.

-oOo-

Dalam rentang enam hari terakhir, adaptasi memaksa saya untuk mengubah sedikit kebiasaan yang telah mengakar dan mendarah-daging. Perkara sederhana, tas selempang yang biasa bersemayam di pundak kanan harus rela berpindah ke sisi satunya. Membuka pintu, gosok gigi, membubuhkan paraf di lembar essay, hingga senam jari di atas keyboard kini menjadi pekerjaan tangan kiri. Beberapa yang sedikit membuat tak enak hati adalah ketika harus makan menggunakan tangan kiri di depan khalayak ramai, meski dulu ketika masih ingusan sering terobsesi menjadi seorang kidal. Jabat tangan dari yang satu mahrom pun terpaksa dibalas dengan senyuman dan sedikit embel-embel memberi penjelasan. Kalau terpaksa, ya disambut dengan tangan kiri juga.

Derita si tangan kanan bermula ketika sedang melakukan rutinitas lari pagi, entah mahluk apa yang melintas dan membisikian wangsit untuk melakukan handstand yang kemudian dituruti. Duh, lupa kalau umur tak lagi muda dan kelenturan tulang harus berhadapan dengan fenomena osteoporosis yang diidap oleh manusia jaman sekarang. Kegagalan handstand tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang mendera esok harinya. Jika hati adalah perpaduan antara tulang dan otot, mungkin kini saya tahu rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. #TersenyumGetir

Semenjak bahu kanan tidak bisa beroperasi optimal, setidaknya malam-malam di benua biru tidak terasa dingin seperti biasanya. Lotion counterpain tidak pernah absen memberikan kehangatan. Berhubung saya bukan penikmat durian, mungkin ketika pancaran hangatnya counterpain yang diusapkan tipis-tipis, menembus ke dalam lapisan kulit dan menjalar ke titik yang cedera, sama seperti nikmatnya belah durian di lagu yang Julia Perez kumandangkan.

Sayangnya, hangat saja belum cukup. Kemudian ada yang menyarankan agar rutin dikompres dengan es batu. Well, berhubung air keran sudah cukup dingin jadilah hari-hari berikutnya mesin pemanas dimatikan dan rasanya seperti merasakan kembali cipratan air hujan yang turun di Lembang ataupun basuhan air danau di dataran tinggi tanah Minangkabau.

Terakhir, meluncur saran dari seorang rekan yang tetesan keringat yang dihasilkan hanyalah dari olahraga. Laksana seorang marketer produk-produk olahraga, dia memperkenalkan sebuah produk sejenis susu dalam kemasan yang konon katanya berkhasiat memulihkan otot yang cedera. Terkecuali yang ini, rasanya sungguhlah aneh di lidah. Kental seperti lendir yang dihasilkan dari potekan daun lidah buaya.

Susu Pemulih Cedera Otot
Susu Pemulih Cedera Otot

-oOo-

Di hari keenam ini, bahu kanan sudah dirasa mulai membaik. Kombinasi counterpain, air dingin, dan susu sepertinya kombinasi jitu dalam meredakan bahu yang terkilir. Perlahan rasa sakitnya mulai menghilang dan setidaknya memakai baju tak perlu ekspresi meringis lagi dan bisa mengetik dengan dua tangan lagi. Yang namanya sakit, tak ada yang mau dan sanggup menolak jika memang harus datang. Setidaknya semoga sakit ini kelak semakin menguatkan bahu ini dalam menanggung beban hidup ataupun bisa menjadi sandaran ternyaman bagi seseorang kelak. Can I get an aamiin?

Shoulder to lean on (source: http://k-leb-k.deviantart.com/)
Shoulder to lean on (source: http://k-leb-k.deviantart.com/)
Advertisements