Edensor, yang kemudian dibaca menjadi ɛnzər (mirip pelafalan kata answer) adalah sebuah desa mungil yang berada di tepian wilayah bernama Derbyshire. Gaung namanya sangat gegap gempita oleh masyarakat Indonesia, karena dijadikan sebagai judul novel ketiga karya Andrea Hirata dalam rangkaian tetraloginya. Iya, Ikal menceriterakan keindahan desa ini dengan sangat bersahaja hingga apa yang tertulis di lembaran halaman adalah sama seperti apa yang mata saya tangkap. Meski demikian, Edensor tetaplah desa mungil yang oleh masyarakat sekitar pun perlu sedikit memicingkan mata dan mengerenyitkan dahi jika bertanya di mana letak desa ini.

-oOo-

29 Maret 2014. Tersebutlah dua orang gadis London yang merencanakan perjalanan sakral ini. Jauh sebelum hari H tiba, komunikasi via dunia virtual antara saya dan mereka terjalin sekedar untuk meyakinkan saya untuk bisa ikut padahal sebuah alasan yang tidak bisa diganggu gugat sudah dipersiapkan sebagai amunisi. Tapi apalah saya yang lemah akan rayuan wanita, akhirnya luluh juga.

Secara geografis, letak Leeds dan Sheffield hanya berjarak satu jam perjalanan menggunakan kendaraan umum. Intinya, pemberhentian utama yang menjadi titik untuk meyakinkan Anda tidak tersesat jika ingin menuju Edensor adalah Sheffield Interchange.Sesuai namanya, ini adalah semacam pemberhentian bus. Kemudian, perjalanan akan dilanjutkan dengan bus lain yang akan membawa Anda ke desa yang memberikan Ikal berbagai macam perenungannya.

Sebagai catatan, umumnya bus umum antar kota di UK yang digunakan adalah operator Megabus dan National Express. Jika menggunakan Megabus, biasanya tidak langsung turun di Sheffield Interchange melainkan Meadowhall Interchange yang kemudian harus dilanjutkan dengan menggunakan bus bernomor X78 menuju Sheffield. Jarak antara keduanya sekitar 20 menit. Pilihan menggunakan kereta pun juga tersedia. Silakan sesuaikan dengan waktu perjalanan serta budget. Lain halnya jika menggunakan bus National Express, maka Anda akan turun di Sheffield Interchange.

Dari Sheffield Interchange, perhatikan sebuah bus panjang berwarna biru dengan nomor 218. Bus inilah yang akan membawa Anda menuju Edensor. Seperti yang sudah disebutkan, nama desa ini tidaklah begitu terkenal. Jika supir bus bertanya kemana tujuan Anda, kemungkinan besar dia akan bingung. Katakan saja Chatsworth House sebagai tempat pemberhentian terakhir. Chatsworth House adalah sebuah stately home ala Inggris atau bisa juga dibilang sebagai mansion atau villa. Dibutuhkan £6 sebagai biaya perjalanan dari Sheffield menuju Chatsworth House, pulang-pergi. Artinya hanya berlaku dua kali perjalanan, pulang dan kembali. Tidak bisa digunakan sepuasnya selama seharian karena di perjalanan kedua tiket yang diberikan akan disobek oleh pengemudi. Jangan kaget jika Anda mendadak merasa muda jika mendapati penumpang bus ini yang didominasi oleh para sepuh yang mungkin seusia dengan kakek dan nenek kalian.

Oh iya, tidak semua bus bernomor 218 akan menuju Chatsworth House sebagai pemberhentian terakhir. Ada yang hanya sampai di Bakewell. Dan pemberhentian di Bakewell inilah yang membawa saya kepada jalan lain menuju Edensor. Terima kasih kepada ibu paruh baya penjaga Bakewell Visitor Centre yang menggambarkan rute trekking via Peak District yang tingkat ketelitiannya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Bayangkan, hingga bentuk tikungannya pun bisa sama persis.  Ah, andai saja kala itu hujan deras tak turun dan berteduh di sana, mana mungkin bisa bertemu beliau dan perjalanan menuju Edensor menjadi tidak biasa (baca: absurd).

IMG_7006
Bakewell | All Saints Church

Syarat utama jika melakukan perjalanan saat spring adalah rajin-rajin memeriksa ramalan cuaca. Karena hujan dan angin kencang di Inggris adalah sangat-amat-enggak-banget. Pernah melihat foto Marilyn Monroe dan gaunnya yang tertiup angin? Mungkin kedua tangannya tak akan mampu menahan gaunnya tetap melekat di tubuhnya jika itu adalah angin kencang khas perbukitan Inggris. Apesnya, saya dan teman melakukan trekking di Peak District menuju Edensor saat hujan dan angin kencang menerjang. Berharap Doraemon jatuh dari langit dan pintu kemana saja bisa keluar dari kantongnya. Ini adalah kali kedua saya menapakkan kaki di Peak District, hanya saja berlainan tempat. Jika sebelumnya adalah saat winter, maka kali ini saat hujan.

Perjalanan jalan kaki dari Bakwell menuju Edensor via Peak District adalah hampir tiga jam. Cukup panjang, tapi percayalah barisan perbukitan dan deretan pepohonan yang basah karena hujan sangat memanjakan mata. Sepanjang trekking, hanya ada sedikit jalan yang bercampur dengan lumpur, sisanya sudah beraspal dengan mulus.

Trekking Under The Rain
Peak District | Trekking Under The Rain
Peak District | The Scenery
Peak District | The Scenery 1
Peak District | The Scenery 2
Peak District | The Scenery 2
Peak District | The Scenery 3
Peak District | The Scenery 3

-oOo-

Tanda-tanda Anda sampai di Edensor adalah penampakan St Peter’s Church yang menjadi sampul buku karya Andrea Hirata di sisi kanan bagian jalan. Edensor seperti desa mungil yang berpagar, dimana gereja menjadi garda paling depan. Semakin ke dalam, jalan akan menanjak karena masih dalam rangkaian perbukitan yang menyatu dengan Peak District. Kami tidak masuk ke bagian dalam gereja karena saat itu sedang ada acara pernikahan.

Edensor | St. Peter's Church
Edensor | St. Peter’s Church
Edensor | Took a Pose With St. Peter's Church As Background
Edensor | Took a Pose With St. Peter’s Church As Background

Tidak banyak yang bisa dilakukan di desa ini. Selain berpose ala-ala sampul buku Edensor, mungkin berkeliling melihat rumah-rumah cantik meski tidak sekuno desa lain di Inggris tapi cukup menarik apalagi ada beberapa yang menjajakan penganan ringan di bagian terasnya. Hanya saja, hujan hari itu membuat toko pada tutup.

Dari Edensor, menyeberanglah menuju jalan setapak yang membelah perbukitan. Dengan berjalan kaki tidak lama, Anda akan sampai di Chatsworth House. Mansion dengan ukuran besar yang di depannya dihuni segerombolan domba-domba yang bermalas-malasan sembari mengunyah rumput dan meninggalkan beberapa jebakan batman. Mereka  tidak peduli dengan kehadiran para turis.

Chatworth House
Chatsworth House by Far

Jika Edensor lebih terkenal oleh pelancong dari Indonesia, maka Chatsworth House lebih banyak dikunjungi oleh turis. Anda bisa masuk ke bagian dalam mansion berwarna kuning kelabu ini dengan membayar biaya yang bervariasi di setiap tempat atraksinya. Ada tiket yang hanya untuk memasuki bagian taman atau rumah saja, bisa juga keduanya. Bagian farmyard dan playground juga berbeda lagi tiketnya.

  -oOo-

Terima kasih Andrea Hirata karena telah memperkenalkan desa mungil dan cantik bernama Edensor. Entah pergulatan batin apa yang tidak tergambarkan olehmu di barisan kata-kata di buku yang berjudul sama. Entah apakah sama dengan jatuh cintanya saya kepada desa kecil di dekat Leeds bernama Ilkley.

Meanwhile, here is my pose impression of the famous Edensor’ book cover by Andrea Hirata.

My pose impression of Andea Hirata’s Edensor

All the picture credits belongs to Betha, except the last one belongs to Inggit.
Advertisements