Meski detik adalah salah satu satuan waktu yang terkecil, tetaplah tidak ada manusia yang bisa menerka apa yang bakalan terjadi satu detik dari sekarang. Karena hidup selalu diwarnai dengan kejutan yang terkadang berujung bahagia atau nestapa yang menderaikan air mata. Dan bukan hanya waktu yang memasang ranjau-ranjau penuh misteri yang siap mengejutkan manusia tapi juga tempat yang baru.

Dari sekian banyak umat manusia, sudah  beribu-ribu kepala yang mengalami yang namanya pindah rumah, pindah sekolah, pindah kantor, menuju kota yang berbeda yang kelak bakalan menghadirkan sensasi baru bersamaan dengan detik jarum jam yang berlalu.

Beberapa tahun silam, seorang gadis kecil periang mendadak bersungut-sungut karena harus pindah sekolah dari Jakarta ke Bandung. Berat rasanya dia meninggalkan kawan sejawatnya yang setelah sekian tahun bersama tapi apalah daya seorang yang masih duduk di bangku sekolah dasar selain mengikuti kemana orang tua melangkah. Tak disangka, kepindahannya memberikan sebuah pengalaman yang sangat berkesan meski saya yakin tidak ingin terulang di masa yang akan datang. Pengalaman yang tidak pernah diduga akan dilalui bersama seorang yang awalnya tak ubahnya seperti duri dalam daging.

Selang waktu kemudian, seorang remaja pria tanggung meninggalkan sebuah janji kepada seorang perempuan melalui goresan penanya. Satuan waktu berupa satu purnama yang selalu ditunggu tak pernah terwujud. Mungkin pesona New York terlalu indah untuk diganggu dengan bayang-bayang perempuan berkemeja putih abu-abu yang mengiba kepada malam untuk menghadirkan purnama di setiap harinya.

Jika Sherina, Saddam, Cinta, dan Rangga sudah pernah menceritakan perjalanan (fiksinya) tentang ruang dan waktu, maka saya dengan segala (banyak) salah dan khilafnya mulai memilih cerita mana yang harus dibiarkan teronggok di pojokan kota Leeds hingga tertelan oleh angin empat musim negeri ini.

Cerita yang sengaja ditinggal adalah pengalaman yang pernah membuat malam yang seharusnya tenang menjadi sedikit mencekam. Atau ketika logika di-ke-samping-kan demi sesuatu yang lebih diinginkan oleh perasaan. Sungguh, kota ini terlalu kecil untuk bisa menampung hembusan nafas penyesalan.

Kedai-kedai kopi yang disinggahi mungkin bisa menjadi pengingat jika berkesempatan kembali ke kota ini. Satu tenggukan yang masuk ke kerongkongan banyak diantaranya adalah bentuk pelarian. Meski kopi di sini tak sanggup menenggelamkan permasalahan, sekedar menghanyutkan, tapi di tempat yang sama. Bunga-bunga yang bermekaran di awal musim semi pun tak bisa menutupi ada sebuah titik hitam pernah saya tinggalkan.

Apa yang terjadi di Leeds, beberapa diantaranya memang ada baiknya dibiarkan saja di kota ini. Ingat, ketika pulang nanti, maskapai penerbangan hanya menerima berupa barang yang bisa masuk bagasi dan itu pun dibatasi. Beban emosi, tanggung jawab penumpang itu sendiri. Adapun sekembalinya nanti, jika bertemu dengan kamu di satu ruang dan waktu, dimana ujung-ujung syaraf membangkitkan sel-sel otak yang memuat tentang kenangan di kota ini. Tentang perkuliahan, pertemanan, ataupun perasaan, semoga yang tersisa hanyalah cerita-cerita tentang keindahan.

What Happens in Leeds Stays in Leeds
What Happens in Leeds Stays in Leeds
Advertisements