The day before, I  was ran a little staggered and almost had crashed while going down the stairs of Barclaycard Arena. After watching the semi-final matches, I headed to the counter to buy a ticket for tomorrow, the grand-final day of the 2015 All England. One of the badminton most prestigious event.

For this year, Indonesia has only managed to send one representative to the final. Yes, Butet-Owi did it once again! Followed by India and Spain. Denmark has two finalists, men’s single and men’s double while China passed all athletes in all games except women’s single.

-oOo-

Langit kota Birmingham nampak sedikit gelap dibandingkan hari sebelumnya. Ada barisan air yang turun dari langit meski dalam intensitas ringan. Berhubung hari Minggu, hampir semua angkutan umum di penjuru kota di UK mengurangi intensitas jadwalnya. Dari yang biasanya lima hingga sepuluh menit sekali, berubah menjadi setengah jam sekali. Kalau lagi apes, terpaksalah menunggu bus tigapuluh menit berikutnya. Tapi tenang, tingkat kepastiannya tinggi kok. Tidak seperti (mungkin) pacar-pacar kamu terdahulu yang sering memberi harapan semu.

Sampai di Barclaycard Arena, saya kemudian menelepon seorang teman yang sudah terlebih dahulu sampai. Sembari menunggu tiket yang dipegang oleh rekan yang lainnya, mengalir obrolan-obrolan singkat-padat-dan-memikat tentang dunia bulutangkis yang dicampur dengan sedikit hal-hal yang absurd. Hingga kemudian melintas sesosok manusia dalam kukungan jaket merah dengan rambut yang memancarkan kilau gel, Lilyana Natsir, salah satu punggawa ganda campuran bersama Tontowi Ahmad yang bakalan bertanding di game pembuka. Meski kemarin sudah sempat berfoto, apa salahnya jika diminta sekali lagi.

Lilyana Natsir
Lilyana Natsir | Picture taken by British guy with Adwin’s iPhone 6

Saya memutuskan untuk masuk ke dalam arena pertandingan terlebih dahulu, mengingat saya duduk terpisah bersama yang lainnya. Tapi yang namanya rejeki anak soleh, dari yang awalnya duduk di kursi paling atas tiba-tiba diberi kabar oleh teman untuk pindah saja ke tiga deretan kursi paling depan bersama mereka karena ada satu bangku misterius yang kosong tak berpenghuni. Meski sedikit terhalang oleh monitor penunjuk skor pertandingan, itu sudah jauh lebih dari cukup.

Supporters of Indonesia | Taken by Tantra with Adwin's iPhone 6
Supporters of Indonesia | Taken by Tantra with Adwin’s iPhone 6

-oOo-

Laga pertama dimulai, meski kalah banyak dibandingkan supporter dari China, teriakan-teriakan Indonesia masih tetap terdengar membahana di sudut Barclaycard Arena. Set pertama berjalan sangat cepat, ganda Indonesia kalah dengan performa yang tidak biasanya yang kemudian kembali berulang di set yang kedua. Pupus harapan untuk kembali memenangkan gelar yang sama untuk yang keempat kalinya. Tapi yang namanya usaha, apapun hasilnya patutlah diapresiasi sebagaimana mestinya. Apalagi untuk mereka yang berjuang atas nama bangsa. Semoga tidak sia-sia tetesan keringat yang jatuh di atas lapangan ataupun helaan nafas karena kelelahan yang mereka hembuskan. Sigh, mendadak bijak.

Tontowi Ahmad - Lilyana Natsir on the Court
Tontowi Ahmad – Lilyana Natsir on the Court

Terkecuali partai ganda putri yang mempertemukan sesama pemain China, saya memang berniat untuk menonton seluruh pertandingan meski tak ada lagi atlet Indonesia yang bertanding.

Carolina Marin versus Saina Nehwal adalah laga selanjutnya. Tunggal puteri adalah laga yang menarik karena tidak satupun pebulutangkis negeri tirai bambu yang melangkah sampai tahap ini. Secara pribadi, saya lebih mendukung Carolina Marin sebagai juara meski banyak yang tidak suka dengan sikapnya yang hobi berteriak kencang jika mendapatkan angka. Banyak yang menilai itu sebagai bentuk intimidasi kepada lawannya. Dia pun bukan sekali-dua-kali diberi peringatan oleh wasit. Bertarung hingga tiga set, akhirnya Spanyol mencetak sejarah melalui Carolina Marin di ajang All England.

Carolina Marin vs Saina Nehwal on the Court
Carolina Marin vs Saina Nehwal on the Court

Laga ketiga adalah tunggal putera yang mempertemukan Chen Long dan Jan O Jorgensen. Masing-masing di semi-final berhasil mengalahkan Lin Dan dan Shao Sasaki. Di sini saya terang-terangan mendukung Chen Long dan teman yang lainnya memilih membela Jorgensen. Tenang, kali ini kami berlaku hanya sebagai penikmat olahraga ini saja. Tidak ada imbalan layaknya penonton bayaran ataupun pasukan nasi bungkus yang marak berdemo di gedung-gedung pemerintahan. Tunggal putera adalah laga yang tepat untuk bisa menikmati indah dan seninya bulutangkis karena segala macam teknik bisa terlihat. Tidak terlalu cepat membunuh seperti di ganda putera/i/campuran ataupun selambat tunggal puteri. Chen Long dan Jorgensen sama-sama berada pada level yang berimbang, posisi skor yang tipis dan saling mengejar selalu terjadi. Berlarian di tiap sudut lapangan hingga jatuh tersungkur rela dilakukan demi mengamankan lapangan dari jatuhnya kok bulu angsa dan memberikan angka tambahan bagi lawan. Sama seperti laga sebelumnya, keduanya harus bermain hingga tiga set yang kemudian dimenangkan oleh jawara China.

Denmark's Jorgensen after Losing the Game
Denmark’s Jorgensen after Losing the Game

-oOo-

Laga keempat yang menampilkan dua pasangan ganda puteri China terpaksa saya lewatkan dan memilih keluar dari Barclaycard Arena dan menuju Villa Park, markas besar milik Aston Villa F.C. All hail to Adwin and his uber taxi account yang akhirnya menjadi solusi kebingungan kami bagaimana untuk bisa menuju ke sana. Koneksi data di ponsel saya kebetulan bermasalah, jadi segala bentuk layanan internet sama sekali tidak berfungsi. Tak sampai 5 menit, mobil yang dijanjikan pun datang dan tidak tanggung-tanggung ternyata yang datang adalah jenis mobil yang biasa keluar masuk di lobi arena judi di Las Vegas seperti yang biasa terlihat di film.

Kiranya tidak sampai limabelas menit, kaki ini sampai di Villa Park. Layaknya sebuah stadion sepakbola yang lainnya, bangunannya meninggi di bagian kursi penonton yang melingkari lapangan pertandingan. Di dominasi warna perak dan sedikit merah bata, Villa Park terlihat sangat sepi. Bahkan toko suvenir pun sudah keburu tutup.

Selepas berfoto-foto, kami segera menuju kembali ke Barclaycard Arena dan kebetulan supir mobil yang dinaiki memberikan opsi untuk bersedia menunggu dan mengantar ke tempat kami diangkut.

-oOo-

Rejeki anak soleh bagian kedua, sebelum kembali masuk rupanya ada beberapa gerombolan pemudi yang sedang berfoto ria dengan pemain bulutangkis yang meninggalkan Barclaycard Arena dan “terpaksalah” kami juga ikut berkumpul. Meski hanya mendapati dua pemain, Carolina Marin dan Jan O Jorgensen, tak apalah demi sebuah kenangan yang mungkin susah untuk terulang kembali.

With Jorgensen | Taken by stranger with Adwin's iPhone 6
With Jorgensen | Taken by stranger with Adwin’s iPhone 6
With Carolina Marin | Taken by stranger with Adwin's iPhone 6
With Carolina Marin | Taken by stranger with Adwin’s iPhone 6

Berharap masih mendapati Chen Long keluar dari ruangan, tapi rupanya setelah limabelas menit menanti tak nampak ujung raketnya keluar dan kami pun kembali memasuki arena pertandingan dan mendapati laga ganda putera sudah berlangsung set yang kedua. Kali ini kami kompak untuk memberikan dukungan kepada pasangan Denmark yang kemudian menjadi pemenang.

-oOo-

Meskipun kali ini atlet Indonesia gagal meraih kemenangan dan dari Leeds menuju Birmingham butuh hampir tiga jam untuk sampai, tak sebandinglah teriakan-teriakan kami jika disandingkan dengan peluh keringat atlet-atlet yang berlaga di sini. Setidaknya saya yang selama ini cuma bisa menyaksikan lewat layar kaca, kini bisa merasakan atmosfir yang sama ataupun sekedar berinteraksi dengan penonton yang lainnya.

See you at another badminton events!

After the All England Final Matches | Taken by stranger with Adwin's iPhone 6
After the All England Final Matches | Taken by stranger with Adwin’s iPhone 6
Advertisements