Teriakan In-do-ne-sia sudah saling bersahutan ketika saya masuk ke dalam Barclaycard Arena. 

Saat itu, di lapangan 2 sedang berlangsung babak kedua laga pertandingan ganda campuran antara pasangan Indonesia (Jordan & Debby) melawan pasangan Cina (Zhang Nan &Zao Yunlei).

Setelah menduduki kursi yang sesuai dengan nomor di tiket, kontan volume suara langsung melengking layaknya penyanyi opera ikut meneriakan In-do-ne-sia. Meskipun penonton di kiri, kanan, depan, dan belakang bukanlah teman senegara. Sayang, hasil akhirnya pasangan Indonesia harus menerima kekalahan dan tinggal bertumpu pada ganda campuran berikutnya, Owi dan Butet, sang juara bertahan.

Sebelum Owi dan Butet turun bertandingan, laga-laga yang dimainkan oleh pemain dari negara lain juga tak kalah seru. Hanya saja, tidak ada teriakan-teriakan yang menggema dalam stadion, mengingat penontonnya tidak ada yang se-ber-se-ma-ngat penonton Indonesia. Meski harus tersempil di bangku penonton paling ujung, niscaya gaung teriakannya juga terdengar hingga ujung seberang.

Salah satu pertandingan yang paling menarik adalah tunggal putra antara Sho Sasaki (Jepang) vs Jan O Jorgensen (Denmark) dan dua semifinalis negeri tirai bambu, Lin Dan dan Chen Long. Kalau kata teman saya yang “maniak” olahraga raket ini, partai tunggal pertama menyajikan seni permainan bulutangkis yang paling menarik. Dia menyebutkan analisanya, tapi saya kurang paham dengan penjelasannya. Lalu kenapa saya bilang menarik karena secara pribadi laga ini tidak secepat ganda putra/i dalam perolehan point dan tidak selambat tunggal putri yang rata-rata pemainnya suka permainan yang panjang. Pun karena ada Chen Long, dia adalah yang terbaik setelah era Super Dan, Taufik Hidayat, dan Lee Chong Wei. Meski sekarang juga terus dibayang-bayangi oleh Jorgensen dari segi peringkat.

-oOo-

Malam sebelumnya, saya menyaksikan pertandingan All England melalui layanan streaming yang disediakan oleh penyelenggara. Rasa ketar-ketir sedikit menyelinap di tiap sendi tulang saat menyaksikan duet Butet-Owi harus berjuang keras meraih kemenangan melawan pasangan (kebetulan) suami-istri asal England, tuan rumah. Apa yang akan terjadi saat melawan J.A Nielsen-Christina Pedersen yang memiliki peringkat lebih baik.
Well, perkara di atas lapangan bukan lagi siapa yang punya peringkat lebih bagus. Jalannya pertandingan yang akan membuktikan. Siapa yang (jauh) lebih siap.

-oOo-

Teriakan In-do-ne-sia yang diikuti suara tepuk tangan sekali lagi bergemuruh tatkala diumumkan pertandingan berikutnya adalah laga antara Butet-Owi dan J.A Nielsen-Christina Pedersen. Tak mau kalah, penonton Denmark yang juga bisa dibilang tidak sedikit ikut membuat yel-yel tandingan. Kemudian, mendadak lagu Indonesia Raya berkumandang yang dinyanyikan oleh penonton Indonesia yang rata-rata adalah para mahasiswa.

Babak pertama berjalan cukup alot. Saling kejar-mengejar angka yang kemudian ditutup dengan skor 21-17 untuk Butet-Owi. Yeah, In-do-ne-sia!

Babak kedua, intensitas pertandingan sedikit meredup. Ke-dig-da-ya-an Butet-Owi terlalu mendominasi pertandingan dan pasangan Denmark tersebut hanya diberi skor 11 saja hingga akhir pertandingan yang secara total berjalan selama hampir 45 menit. Yeah, Indonesia mengirimkan satu finalis ke laga final All England.

image

-oOo-

Dari keseluruhan pertandingan laga semifinal, yang menjadi favorit saya adalah partai ganda putera yang mempertemukan antara pasangan Jepang dan Denmark, Hiroyuki Endo-Kenichi Hayakawa dan Mathias Boe-Carsten Mongensen. Berjalan selama tiga babak, keduanya menyajikan pertandingan dengan ritme yang menegang hingga angka match point babak ketiga diraih pasangan Denmark. Ah, padahal saya tak henti-henti merapal mantera yang berharap pasangan Jepang meraih kemenangan. Kemenangan di babak pertama yang diraih Endo-Kenichi tidak diikuti di babak berikutnya.

image

Selepas semua pertandingan usai, saya terhuyung-huyung berlarian menuju meja pembelian tiket untuk laga esok hari. See you tomorrow, Butet-Owi. Chen Long juga!

Advertisements