28 Desember 2014. Keriuhan di rumah tusuk sate sudah dimulai jauh sebelum kokok ayam terdengar. Ada yang sedari pagi sekali sudah berkutat dengan pisau dan racikan bumbu di dapur, rebutan kamar mandi, ada juga yang masih berjuang sekedar untuk membuka mata dari lelap tidurnya.

Selamat pagi, London! Di hari kedua, setelah mendatangi markas Arsenal sehari yang lalu, Tour de stadiums pun dilanjutkan.

-oOo-

Klub dengan logo seekor ayam berdiri di atas bola yang keduanya didominasi oleh warna biru tua dengan siluet putih menjadi destinasi pertama. Tottenham Hostpur F.C. bermarkas di White Hart Lane stadium dan terletak di London bagian utara. Sebagai orang yang buta arah mata angin, entah bagaimana mendefinisikan sisi bagian utara, selatan, barat, dan timur dari kota ini. Thank you, google maps!

Bayangkan sosok seseorang yang sedang terperanjat dengan bola mata yang hampir keluar dan mulut menganga. Itulah ekspresi dari kami ketika mendapati stadion klub ini. Dari segi fisik bangunan, tak ada tulisan nama klub dengan ukuran besar yang biasa terpasang di bagian depan. Ditambah adanya penjagaan yang diperketat karena pada hari itu ada pertandingan antara tuan rumah melawan Manchester UnitedSayang hasil akhirnya berupa skor imbang tanpa gol, karena berharap tim setan merah meraih poin tiga. Tak banyak waktu yang dihabiskan di White Hart Lane, karena setelah sekali tawaf mengelilingi stadion tak begitu banyak sudut-sudut stadion yang bisa dijadikan objek bidikan kamera.

Tottenham Hotspur
Tottenham Hotspur F.C.

Dari stadion klub si ayam biru, perjalanan dilanjutkan ke stadion yang klub sepak bolanya sudah berdiri sejak tahun 1905, Chelsea F.C. Bermarkas di wilayah Fulham, stadion klub ini memiliki nama Stamford Bridge yang memiliki kapasitas sekitar 41.000 penonton. Tampak luar, stadion ini tidak tampak mencolok. Tersamarkan oleh bangunan sekitar. Tidak seperti di klub sebelumnya, kami menghabiskan banyak waktu di sini. Mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, begitu seterusnya sembari menunggu toko merchandise buka. Maklum, kami datang saat hari Minggu dan jam operasional toko buka lebih siang dari hari biasanya.

Chelsea F.C.
Wefie with Chelsea F.C. Logo as Backdrop

Stadionnya tidak begitu luas tapi beruntunglah di sini terdapat beberapa spot yang menarik buat dijadikan lokasi pemotretan. Hitung-hitung sebagai killing time menunggu toko souvenir buka dan juga seorang temannya-teman-kami yang berniat datang untuk menyusul. Please pardon us for these crazy pictures!

Entah berapa lama yang waktu yang dihabiskan di markas tim biru, yang jelas sudah melewati hampir setengah jam dari jadwal yang disusun sehari sebelumnya. Next stop, Fulham F.C.

-oOo-

Tak banyak yang saya tahu tentang klub Fulham selain lokasi stadionnya yang tidak begitu jauh dari Chelsea. Hanya sekali naik bus dan dilanjutkan berjalan kaki dan surprisingly melewati taman kota yang cantik. Iya, di ujung taman akan tampak sebuah bangunan dengan pagar teralis dan tiang-tiang lampu penerang stadion dan di situlah berdiri Stadion Craven Cottage. Tidak seperti stadion lain yang bagian luarnya bisa dimasuki oleh pengunjung, entah kenapa hal itu tidak berlaku di sini. Tertutup, semacam tempat para gangster berkumpul di film-film Hollywood. Alhasil, cuma pose di depan gerbang.

Gadis Galau Di Tepi Danau
Gadis Galau Di Tepi Danau
Fulham F.C.
Fulham F.C.

Dari seantero London, mungkin stadion ini yang memiliki lokasi paling pres-ti-si-us layaknya iklan properti miliki perusahaan yang harganya naik esok hari. Selain bersebelahan dengan taman kota, rumah-rumah penduduk di sini pun tertata dengan amat sangat rapi. Seperti Menteng tapi rumahnya lebih kecil. Sungai Thames yang termahsyur pun melintasi tepat di bagian belakang stadion. Kala itu, airnya seperti sedang surut. Kurang dramatis jika dijadikan sebagai tempat melompat para manusia-manusia galau yang berniat bunuh diri.

Nggak sanggup nulis caption di foto ini. #IfYouKnowWhatIMean
Gadis Penunggu Sungai Thames 🙂

-oOo-

Rencananya, tour de stadiums hari ini akan diakhiri di stadion kebanggaan masyarakat Inggris pada umumnya karena tempat biasa diselenggarakan pertandingan-pertandingan internasional dan juga sebagai tempat konser musik dengan skala yang besar. Yup, Wembley Stadium!

Sebelum mencapai stadion terakhir di daftar rencana yang disusun, kami melipir sejenak ke London Central Mosque untuk melaksanakan kewajiban sekaligus beristirahat, mengingat sudah jauh melwati jam makan siang tapi bekal yang kami bawa masih tertutup rapat.

The Regents Park adalah sebuah taman yang terletak tak jauh dari Masjid dan di situlah akhirnya cacing-cacing kelaparan di perut kami berhenti berteriak. Tapi tunggu sebentar, bukanlah penghuni rumah tusuk sate jika tidak suka membuat drama. Mencari kursi untuk ditempati saja harus melewati proses penimbangan bobot-bibit-dan-bebet terlebih dahulu. Ada yang ingin di sini, ada yang ingin di situ, apalagi kalau mengingat banyaknya burung, bebek, dan angsa yang berkeliaran dan meninggalkan sambal hijau ala restoran padang. Imajinasi ini sudah terlalu liar atau rasa rindu tanah air yang sudah tak tertahankan, hasil buangan binatang unggas pun di-korelasi-kan dengan kemahsyuran kuliner ranah minang.

Selepas makan siang, perut pun senang? Tentu saja, tapi tidak dengan hati dan perasaan ini. Adalah sebuah patung paddington yang terletak dekat pintu masuk taman ini yang menjadi pemicu sekaligus saksi kekesalan seorang wanita Asia, sebut saja Mawar (suara tidak disamarkan, dan wajahnya tidak dibuat kotak-kotak) terhadap kami. Menjelang perilisan film keluarga Paddington, pihak rumah produksi membuat sebelas patung beruang cokelat tersebut dalam sebelas kostum yang berbeda dan tersebar di penjuru kota London yang satu diantaranya ada di markas besar klub Chelsea.

With The Paddington Bear
With The Paddington Bear

Mawar, si wanita Asia yang dimaksud rupanya berniat juga ingin mengambil foto si beruang. Tapi, kemudian aktivitasnya sedikit terhambat karena satu per satu diantara kami juga ingin mengabadikan diri dan hingga akhirnya kami minta tolong untuk mengambilkan foto kami berlima dan terlontarlah komentar dari mulutnya yang membuat telinga ini berdarah-darah layaknya remaja putri yang mendapatkan siklus bulanan. Sungguh, senyuman dalam foto di atas adalah sunggingan bibir yang terpaksa.

-oOo-

Stadion Wembley lokasinya ternyata cukup jauh dari lokasi terakhir kami. Harus berganti berbagai moda rel ditambah bus serta dikombinasikan dengan berjalan kaki. Belum lagi drama salah jurusan. Matahari mulai menghilang ketika dari kejauhan tampak lengkungan baja stadion Wembley yang terkenal. Pilar-pilar metal yang pucuknya berhiaskan cahaya penerangan serta merta mengingatkan kepada salah satu masjid di Saudi Arabia. 

-oOo-

Biasanya, tempat terakhir adalah yang paling berkesan atau setidaknya jadi bahan obrolan di sepanjang perjalanan. Tapi entah kenapa topik pembicaraan tidak bisa jauh-jauh dari si Mawar. She will always be remembered, mostly her two red eyes!

Advertisements