Katakalah saya sebagai seorang yang terlambat jatuh cinta kepada gunung. Jadi semenjak dua tahun setelah kuliah, seumpama sekarang ada ajakan untuk mendaki semacam gak pakai pikir-pikir lagi, langsung di-iya-kan. Dulu, jika ada ajakan pergi, misal ke gunung A, pasti selalu terbentur restu ibu. Entahlah, beliau lebih rela jika saya sebagai bungsu dari tiga bersaudara, bepergian ke pantai. Padahal kan di pantai godaan mata itu sungguh maha berat, sedangkan di gunung setidaknya satu banding seribu ada pendaki yang tank-top-an, apalagi di UK dan sedang musim dingin. 

Malham di Yorkshire Dales National Park adalah kawasan pendakian kedua yang saya kunjungi di UK. Sebelumnya, sudah terlebih dahulu mengunjungi The Peak National District tapi belum sempat diceritakan dalam blog ini. Btw, secara fisik yang disebut dengan gunung di sini agak sedikit berbeda. Bukan berbentuk kerucut seperti yang biasa dilihat atau yang terekam di alam bawah sadar, di-karena-kan sedari kecil selalu menggambar dua buah gunung segitiga kembar dengan matahari menyembul ditengahnya. Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah (per)bukit(an).

Petualangan kali ini berawal dari tawaran salah seorang teman dari Indonesia untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh salah satu klub mahasiswa pecinta hiking tanggal 1 Februari kemarin. Dari tawaran tersebut, terkumpulah beberapa yang berminat untuk ikut serta hingga seleksi alam menggugurkannya satu persatu. Dari jumlah yang tidak seberapa, tersisa empat orang saja. Intinya, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.

-oOo-

Seperti halnya kegiatan kampus yang lain, starting point selalu bermula di Parkinson Steps alias trotoar depan gedung Parkinson. Jam delapan pagi, beberapa mahasiswa/i yang akan ikutan sudah ada yang berkumpul. Beberapa mudah dikenali karena kostumnya ada yang sudah mendukung banget, terutama dari sepatunya. Meski ada juga sih yang nyeleneh bin ajaib. Kalau pakai training shoes masih dalam kategori normal buat saya, tapi kalau sepatu boat dengan hak runcing? Tersebutlah seorang wanita yang menggunakan sepatu dengan jenis tersebut, ditambah lagi dengan celana melekat kulit bewarna merah menyala yang membuat kantuk hilang seketika dan tas jinjing semacam sekalian pergi kondangan.

Meski dikoordinir oleh mahasiswa juga, tapi jangan main-main dengan SOP kegiatan di sini. Bagi yang kostum tidak sesuai, maka mohon maaf jika harus menelan pil pahit bernama ke-kecewa-an karena tidak diperbolehkan ikut dalam rombongan. Sebelumnya, sewaktu mendaki The Peak National District bagi mereka yang kedapatan tidak menggunakan sepatu hiking maka dipaksa untuk mengambil rute yang berbeda setelah sampai di puncak. Rute yang memungkinkan lebih aman bagi mereka untuk terhindar dari jatuh atau ke-pe-le-set karena medan yang sulit, meski tetap banyak yang jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti.

Dari sejumlah mahasiswa/i yang sudah berkumpul di Parkinson Steps, bisa dikatakan setengahnya menghilang karena adanya seleksi alam jilid 2 yang dilakukan oleh panitia. Kasihannya lagi, tidak ada pengembalian biaya atas uang yang sudah dikeluarkan oleh peserta.

Dengan menggunakan bus, diperlukan waktu tempuh sekitar hampir satu setengah jam untuk sampai. Sepanjang perjalanan, sudut-sudut pinggiran kota Leeds yang jarang dihampiri menjadi pemandangan. Sebenarnya kota ini besar, tapi kehidupannya banyak berpusat di tengah kota. Beberapa sisa-sisa salju yang menumpuk menjadi penghias tepi jalan. Hingga akhirnya deretan bukit yang bagian pucuknya memutih mulai menyita perhatian bola mata. Saat ini, cukuplah Malham terlebih dahulu, siapa tahu besok-besok ada giliran untuk mendaki Jaya Wijaya, Alpen dan Himalaya. Can I get Aamiin?

 -oOo-

Peserta yang tersisa kemudian dibagi secara sukarela ke dalam tiga kelompok. Tidak juga bisa dijelaskan kenapa saya dan tiga teman lainnya memilih dalam kelompok yang terakhir (sepertinya). Selain seorang pria jangkung, pemandu kelompok ini adalah seorang wanita bertubuh kecil, jadi (siapa tahu) jalannya tidak terlalu cepat alias bisa santai sedikit. Tapi kemudian itu salah! Meski kemudian dia harus terjatuh dua kali, langkah kakinya seperti dua ketukan lebih cepat dari kami

Menuju Tanjakan Pertama
Menuju Tanjakan Pertama

Bukan salah Bunda mengandung atau kaki sering tersandung, sehingga kami selalu berada di belakang. Sungguh Tuhan itu menciptakan manusia yang berbeda-beda. Selain ritme jalan yang tak secepat orang Eropa, kami juga memiliki gen yang tak tahan untuk tidak mengambil foto kanan-kiri. Hingga akhirnya (mungkin) salah satu pemandu hilang kesabaran dan memilih untuk pindah ke barisan belakang. Jadi satpam.

Selepas Tanjakan Pertama
Selepas Tanjakan Pertama

Dari segi medan, mungkin ini tidak se-ekstrim The Peak National District karena banyak jalan yang landai. Tapi lelahnya juga habis tersalurkan karena ternyata rute yang ditempuh cukup panjang. Satu-satunya pemberhentian yang lama adalah ketika jam makan siang tiba. Mengambil tempat di pinggir danau yang memantulkan warna biru langit. Perut boleh saja lapar dan keroncongan tapi mata mendadak kenyang karena disajikan landscape sedemikian ketje. Sebelum sampai di sini, yang membedakan antara The Peak National District dan Yorkshire Dales National Park adalah adanya beberapa hewan yang bisa ditemui selain domba. Ada gerombolan sapi warna dengan kombinasi warna hitam dan putih yang biasa tercetak di kaleng susu dan (mungkin) sejenis sapi dengan bulu-bulu tebal berwarna cokelat. Bisa saja pernah ada leluhur sapi di sini yang selingkuh dengan banteng atau bison.

64298-original
Itu Bukan Sumur Sadako!
Lunch break!
Lunch break!

Selain danau, di belakang kami juga berdiri kokoh bukit bebatuan yang warnanya sangat kontras antara biru langit, putih salju, dan sentuhan hijau rerumputan yang bertahan hidup di tengah gempuran udara dingin.

Rock Mountain
Rock Mountain

-oOo-

Hal yang paling berkesan dari perjalanan kali ini adalah adanya tumpukan salju yang melimpah ruah. Jika sebelumnya salju yang turun di Leeds sekedar menutupi permukaan, tapi di sini benar-benar ada yang membuat kaki tenggelam hingga sebetis. Andaikan si pemandu tidak tergesa-gesa, mungkin sebuah snowman setinggi orang dewasa bisa dibuat.

Seiring perjalanan, entah kenapa rasa semangat melihat hamparan salju menjadi menipis. Ketika warna putih menjadi dominan sekali dan pegal yang menggerogoti betis semakin tak terkendali. Apalagi jika harus bertemu medan yang berlapis es licin dan tumpukan salju yang diam-diam mengahanyutkan, ketika dipijak mendadak longsor ke dalam. Percayalah, untuk menarik kaki keluar butuh perjuangan.

Hit the snow. I mean, the proper one.
Hit the snow. I mean, the proper one.

Sesaat kemudian mendadak kembali bersemangat ketika sampai di Malham Cove. Ini adalah salah satu lokasi syuting film Harry Potter and the Deathly Hallows [Part 1]. Sebuah tebing yang permukaannya berupa bebatuan retak serupa puzzle. Sekali lagi, salahkan si pemandu karena kami tidak bisa berlama-lama di sini. Padahal kali ini yang ambil foto bukan cuma kami, tapi semua peserta. Mungkin mereka tidak suka Harry Potter baik buku ataupun filmnya. Permasalahannya, memang ada gitu yang tidak suka?

Source: http://www.malhamdale.com

-oOo-

Dan selepas Malham Cove, perjalanan pun berakhir menuju sebuah bar kecil dekat pintu masuk sembari menunggu bus yang akan datang menjemput. Secara keseluruhan, ada sekitar 17 kilometer jarak yang kami tempuh. Dari yang landai, menanjak, menurun, lapisan es, bebatuan, kubangan air yang tertutup rumput, jebakan betmen berupa kotoran domba dan sapi, dan salju yang diam-diam menghanyutkan. Di website saat penawaran kegiatan ini, disebutkan kalau kegiatan ini diberi label beginner alias cocok untuk pemula. Bisa dikatakan demikian, karena tidak dibutuhkan yang namanya tali temali, tongkat, ataupun alat pendukung. Pun kalau ada yang jatuh, masih dalam tahap wajar. Tapi kalau untuk family trip, sepertinya harus pilih rute yang lain.

Dear Malham, I’ll see you around!

Advertisements