Meski tidak tertulis secara resmi dan bahwasanya Leeds adalah salah satu kota terbesar di Inggris Raya, tapi apalah artinya menginjakkan negeri ini kalau kaki ini belum menapaki kota London. Selayaknya belum ke Jakarta kalau belum ke Monas, meskipun kalau saya pribadi belum sah ke Jakarta kalau tidak masuk ke Pacific Place. Akhirnya, di minggu terakhir bulan Desember kemarin hingga dua hari setelah pergantian tahun, tubuh ini terkukung diantara besarnya kota London. Berhubung datang saat musim liburan akhir tahun, ribuan manusia memadati tiap sudut bangunan atau tempat yang masuk dalam daftar-lokasi-yang-harus-dikunjungi selama di London.

Sebelumnya, ucapan terima kasih ditujukan kepada tiga manusia penghuni rumah tusuk sate yang penuh drama dan tak pernah kehabisan cerita. Yang langkah kakinya seribu kali lebih cepat dari pengantin wanita tradisional Solo. Yang hobi menerobos lampu merah! Betha, Inggit, dan Ronaldthank you because you have been given a place for me to stay for a week! Kota yang sedemikian mahalnya, menjadi lebih bersahabat bagi kantong karena kalian. Oh iya, juga untuk operator Mega Bus cabang UK karena sudah menyediakan tiket PP Leeds – London dengan harga miring £11.

-oOo-

Matahari belum menampakkan diri tapi dua sosok manusia sudah menerjang dinginnya angin musim dingin dengan berjalan kaki menuju Leeds Bus Station. Kebetulan bus yang ditumpangi adalah yang paling awal di jadwal keberangkatan menuju London tiap harinya. Selanjutnya, cerita dilanjutkan dengan menutup mata (tidur -red) karena perjalanan akan ditempuh sekitar hampir empat jam menuju Victoria Coach Station, London jika tanpa halangan. Selama perjalanan, bus akan mampir dulu ke beberapa pemberhentian untuk mengangkut penumpang yang lain serta pergantian supir.

Deretan bukit-bukit landai yang menghiasi sepanjang jalan tol berubah menjadi gedung tua menjulang. Menandakan bus yang dinaiki sudah berjalan di atas aspal basecamp keluarga kerajaan. Sulit mendapati tulisan “Welcome to London” untuk membuat yakin saya tidak berada di kota yang salah. Hingga akhirnya bus tingkat berwarna merah tua yang menjadi icon kota ini melintas. Ah… Kate Middleton, lubang hidung kita saat ini menghirup oksigen di radius yang sama.

Victoria Coach Station tidak terlalu ramai dan hectic ketika saya sampai. Selanjutnya, memanggul tas sembari geret koper menuju Victoria Underground Station yang lokasinya hanya butuh sekitar 5 menit berjalan kaki. Berada di London artinya harus terbiasa naik turun tangga dan mempercepat langkah kaki, mengingat kereta bawah tanah adalah moda paling utama di kota ini. Salah seorang teman dari yang sudah disebutkan diatas sudah menunggu di sana, meminjamkan kartu oyster untuk diisi saldo selama tujuh hari. Oyster card adalah kartu sakti untuk bisa “menikmati”  moda transportasi di kota ini. Jatuhnya lebih murah jika bisa memprediksikan berapa lama kunjungan anda di kota ini sebagai turis. Harganya pun dibagi lagi menjadi beberapa zona, semakin luar zona maka harganya semakin mahal harganya. Penjelasan lebih detail tentang oyster card terutama untuk turis bisa dilihat di sini.

There’s nowhere else like London. Nothing at all, anywhere!

Vivienne Westwood

-oOo-

Tour de Stadiums!

Tahukah kamu kalau London adalah penyetok klub sepakbola yang bertarung di Liga Inggris terbanyak musim ini (2014-2015) dan (mungkin) musim-musim yang lalu dan musim-musim yang akan datang? Sebut saja Chelsea, Arsenal, Westham United, Tottenham Hotspur, dan Queens Park Ranger. Dan karena sedemikian banyaknya, entah kenapa tercetus wisata ini. Hampir menjelang malam di hari pertama, setelah mampir dulu di rumah tusuk sate untuk beristirahat sejenak dan makan siang, tour de stadiums dimulai. Meski hanya sempat mengunjungi satu saja, tapi sudah cukup sebagai awal, mengingat sebaran titik stadion yang cukup tersebar. Arsenal, you’re lucky number one dan itu pun karena tidak terlalu jauh dari lokasi keberangkatan.

Sejauh ini, Arsenal Football Club adalah klub sepakbola London yang paling sukses karena sudah mengantongi 13 kali juara liga. Kali pertama adalah tahun 1931 dan terakhir kalinya satu dekade yang lalu. Bukan berarti Arsenal tidak berprestasi, tahun 2014 kemarin klub ini berhasil memenangi Piala FA dan FA Community Shield. Sedangkan untuk liga champions eropa, prestasi tertinggi yang pernah dicapai adalah tampil sebagai finalis pada musim 2005-2006. Kalah 2-1 dari Barcelona. Beberapa pemain terkenal yang berasal dari klub berjuluk The Gunners adalah Thiery Henry, Dennis Bergkamp, Patrick Veiera, Sol Campbell, Nicholas Anelka. Ingin menulis Van Persie di daftar ini, tapi sepertinya dia lebih bersinar di Manchester United. Untuk pemain yang sedang memperkuat musim ini ada Mesut Özil dan Lukas Podolski dengan nomor punggung masing-masing 11 dan 9.

Berhubung terletak di pusat kota, Emirates Stadium tidak memiliki pekarangan yang luas di luarnya. Ketika sampai langsung disambut oleh bentuk stadion dengan bertuliskan nama klub. Dua buah meriam yang saling membelakangi menjadi garda paling depan. Semacam menjaga keamanan stadion ini dari serangan musuh.

Langit semakin kehilangan cahaya, maka sebelum melakukan tawaf mengelilingi stadion, incaran pertama adalah memasuki toko souvenir demi memenuhi keinginan para penggila klub ini dengan membelikan beberapa pesanan yang diminta.

Emirates Stadium - Bagian Bawah
Emirates Stadium – Bagian Bawah
Emirates Stadium – Bagian Atas [*]

Secara umum, dari luar stadion ini seperti terbagi menjadi dua bagian, lantai satu dan lantai dua. Lantai satu berupa tempat penjualan souvenir khas The Gunners sedangkan atasnya lagi seperti pintu masuk menuju ke dalam stadion. Di lantai dua, terdapat beberapa patung yang bukan hanya pemain legendaris yang pernah memberikan kontribusi kepada team, sebut saja Thierry Henry, Dennis Bergkamp, dan Tony Adams. Selain itu, juga terdapat dua patung non-pemain, Ken Friar dan Herbert Chapman.

-oOo-

Tour de Emirates Stadium usai seusai tawaf satu putaran dan langit mulai menghitam. Satu buah klub asal kota London yang harus dikunjungi selama di UK sudah berhasil dicoret dari daftar. Klub lainnya akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Disclaimer : foto dengan tanda [*] pada bagian keterangan / caption bukan milik pribadi melainkan berasal dari kamera teman. Efek kemerahan yang dihasilkan murni dari kamera dan juga karena ke-tidak-tahu-an pemiliknya mengapa bisa terjadi demikian. 
Advertisements