Kembali mengingat-ingat benda apa saja yang kemarin saya bawa dalam koper menuju Leeds, yang sekiranya aura Indonesia-nya begitu terasa. Beberapa bungkus Indomie, dua pack saus sachet, dua buah kemeja batik, wayang kulit, dan sebuah selendang batik. Dua benda terakhir merupakan titipan teman di University of Birmingham sebagai souvenir untuk diberikan kepada dosen pembimbing tesisnya. Dia sempat berwanti-wanti agar saya juga jangan lupa melakukan hal yang sama, yaitu memberikan benda sebagai kenang-kenangan khas Indonesia buat siapa pun calon dosen pembimbing tesis yang namanya akan saya catat di lembaran ucapan terima kasih.

Ah, satu lagi. Sebuah tumbler keluaran kedai kopi ternama bertuliskan Jakarta. Sebenarnya agak ragu untuk membawanya, karena dipastikan saya akan membeli edisi UK. Hobi baru ini kira-kira dimulai sekitar dua tahun yang lalu. Entah beli sendiri jika berkunjung ke negara tetangga ataupun titip teman yang sedang melancong. Saya teringat, sewaktu di setahun di Jogja kemarin bertemu dua kali dengan dua turis berbeda yang kedapatan membawa tumbler serupa tapi bertuliskan dua kota yang berlainan yaitu Sydney dan Washington DC. Nah, mudah ditebak nama negara yang tercetak di passport mereka masing-masing. Pun jika salah, setidaknya sebuah awal yang bagus untuk memulai pembicaraan dengan orang asing dengan menebak negara asal berdasarkan nama kota di tumbler yang mereka bawa. Hingga akhirnya saya kemudian berpikir untuk menjadikan tumbler bertuliskan ibukota tercinta ini menjadi identitas non-formal dari negara mana saya berasal.

-oOo-

Kemarin siang, setelah menuntaskan perkuliahan pertama tepat jam 12. Saya dan dua orang teman senasib dan seperantauan dari Indonesia melakukan ibadah makan siang di salah satu sudut ruangan di Leeds University Union yang sering digunakan oleh para mahasiswa mengotori mulut dan lidah mereka dengan makanan. Tak lama kemudian datang seorang mahasiswa dari Ghana dan bergabung makan siang di satu meja yang sama. Hingga akhirnya diantara kunyahan makanan di mulutnya, mengalirlah pertanyaan mengenai Indonesia, berawal dari tumbler saya yang berdiri kokoh di tengah meja. Kirain dia bakalan bertanya tentang transportasi, lumayan kan bisa nambahin bahan pembicaraan tentang keputusan pemerintahan yang baru untuk menaikkan harga bahan bakar. Tapi, kenyataannya dia lebih tertarik membahas tentang bahasa dengan sedikit bumbu-bumbu tentang agama.

Sore harinya, setelah menyelesaikan urusan birokrasi di International Student Office. Melipirlah saya ke supermarket yang masih berada di gedung yang sama dengan tempat makan siang tadi, untuk membeli roti demi mengganjal usus-usus di perut yang sepertinya sudah mulai terguncang. Seperti biasa, tangan kanan bergerak otomatis ke rak roti yang diberi label paket hemat jika membeli dua.

Permasalahan abadi ditemui ketika harus membuka plastik untuk memasukkan roti. Entah kenapa saya selalu kesulitan membuka plastik. Pasti dikucek-kucek dulu ujungnya sampai kusut, terkadang sampai dilihatin oleh kasirnya atau yang lagi bayar di mesin sebelah. Mungkin mereka kasihan dan ingin membantu, tapi masa iya sama orang yang kesusahan buka plastik. Sigh!

“I like your tumbler, JA-KAR-TA”

Suara itu seketika menghentikan asyiknya (baca: sibuknya) jari-jari saya mengucek ujung plastik.

“Oh, thank you. You are from…”

Belum selesai pertanyaan, dia keburu menyelanya dengan sebuah jawaban.

“I’m from here, but I had families in Jakarta” Dia menjawab sembari mengambil pencapit untuk mengambil roti yang sama.

“You’re… half… Indonesia?” Tanya saya sembari memicingkan mata

Kali ini dia menjawab dengan anggukan. Saya terdiam saat melihatnya membuka plastik dengan begitu mudahnya.

“But you’re British?”

“Yes, I am!”

Semenjak hari pertama menginjakkan kaki di sini, orang Indonesia yang saya temui adalah yang benar-benar raut muka penghuni negeri zamrud khatulistiwa. Lagi pula belum pernah saya mendengar di percakapan sehari-hari dengan sesama Indonesia kalau di sini juga ada yang memiliki darah campuran dari negara lain.

Dia bernama Nicholas, tanpa Saputra. Rambutnya hitam seperti halnya orang Indonesia kebanyakan. Meskipun orang British yang bukan pendatang ada juga yang berwarna hitam. Sekilas ada nuansa warna kehijauan di sisi luar bola matanya. Tidak yakin kalau itu adalah soflens, mengingat jurusan yang diambil adalah aviation yang rasa-rasanya penglihatan adalah faktor penting. Entah apakah ayah atau ibunya yang memiliki darah Indonesia. Umurnya jelas jauh jika dibandingkan dengan saya. Mungkin belum duapuluh tahun.

“Kamu disini belajar apa?”

Dheg! Dia bisa berbicara Bahasa Indonesia, dengan sedikit dialek ala Cinta Laura.

“Transport, di ITS.”

“Ah, ITS. I have a class there for tomorrow.”

“Too bad, my class for tomorrow will be placed in another building.”

-oOo-

Tak berapa lama kemudian, dia pamit untuk undur diri dan mengakhiri percakapan ala-ala tali kasih ini. Sepertinya tidak enak dengan seorang temannya yang entah dari negara mana asalnya, terdiam mematung di pojokan karena lupa diajak untuk bergabung. Bahkan saya lupa untuk memperkenalkan nama. Meski tidak penting juga sebenarnya. Tapi siapa tahu ketika dia kembali pulang, kemudian bercerita kalau baru saja bertemu dengan orang Indonesia yang sekiranya bisa dijadikan calon untuk kakak perempuannya dan bersedia dibawa ke Indonesia.

Tsah, kemudian membayangkan souvenir sepasang tumbler dengan tulisan dua kota yang berbeda.

The Tumbler
The Tumbler
Advertisements