Orang-orang menengadahkan kepalanya ke arah langit. Semburat cahaya warna-warni terpapar di sana bersamaan dengan suara-suara letupan kecil. Tangan-tangan yang biasanya disembunyikan di balik saku karena menahan dingin, kini direntangkan ke atas untuk sekedar merekam keindahan percik-percik api yang bermekaran melaui telepon genggam. Dinginnya malam menjelang datangnya musim dingin tak menjadi soal, sisa-sisa hangatnya api unggun sebelum pesta kembang api dimulai, masih terasa.

Happy new year? 

No, but happy bonfire night!

-oOo-

Perayaan tahun baru masehi masih sekitar satu setengah bulan lagi, tapi masyarakat Inggris bisa menyaksikan pesta kembang api setidaknya dua tahun sekali. Ya, selain saat pergantian hari dari 31 Desember menjadi 1 Januari, langit-langit malam di negara berjulukan “negeri para raja”, juga akan berwarna-warni setiap tanggal 5 di bulan November.

Ihwal kapan tahun persis dirayakannya bonfire night, saya kurang tahu pasti. Bagi yang pernah menonton film V for Vendetta, mungkin bisa mempunyai sedikit gambaran tentang sejarah bonfire night. Yang kemudian menjadi semacam perayaan besar-besaran setiap tahunnya.

Bermula tentang seorang anggota kelompok revolusioner Katolik Roma bernama Guy Fawkes untuk melawan para kaum bangsawan Inggris yang memiliki pengaruh terhdap pemerintahan pada tahun 1605. Fawkes ingin pengaruh kerajaan Spanyol kala itu, memiliki pengaruh yang lebih terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kerajaan Inggris. Suatu ketika, dia merencanakan semacam serangan berupa peledakan di the Houses of Parliament. Dimana saat itu ada King of James I dan keluarga dan kaum bangsawan Protestan. Tapi kemudian rencana itu gagal. Fawkes keburu ditangkap oleh yang berwenang.

Oleh kerajaan Inggris, Fawkes dijatuhi hukuman “bertubi-tubi” berupa digantung, ditenggelamkan, kemudian dimutilasi. Tapi dia tidak meninggal dengan salah satu bentuk hukuman tadi. Saat menjelang eksekusi (31 Januari 1606), sebelum digantung dia berhasil meloloskan diri. Namun sayang, kakinya tergelincir saat melompat dari pelataran eksekusi dan terjatuh hingga membuat lehernya patah.

Guy Fawkes (source: http://harpers.org)

Kemudian, tanggal pemberontakan yang dilakukan oleh Fawkes yakni 5 November dikenal dengan bonfire night. Disebut demikian karena ada ritual wajib berupa api unggun ukuran besar, dimana tumpukan-tumpukan kayu disusun menjulang kemudian dibakar. Setelah itu, dilanjutkan dengan pesta kembang api. Secara tersirat, mungkin maksud dari api unggun dan kembang api sebagai simbol gagalnya Fawkes meledakkan gedung parlemen.

-oOo-

Perayaan bonfire night di Leeds dirayakan di beberapa tempat dan yang paling umum adalah diadakan di taman. Salah satunya di Hyde Park. Sebuah taman yang cukup luas tapi minim penerangan saat malam dan bersebelahan dengan lokasi University of Leeds. Karena gelap itulah, saya sebagai pendatang diwanti-wanti untuk menjauh kawasan tersebut saat malam dan warga lokal sendiri pun menghindarinya. Acara dimulai secara serentak pada pukul setengah delapan malam. Ada sedikit rasa penasaran bagi saya yang baru kali pertama mendatangi event ini. Apalagi ini berkaitan dengan sepenggal sejarah kerajaan Inggris. Yah, setidaknya bisa melihat mimik-mimik muka ekspresif warga lokal Leeds, mengingat dingin dan kakunya para mahasiswa Inggris di kelas selama ini.

Mendatangi Hyde Park  hanya butuh kurang dari lima menit berjalan kaki dari flat. Walau harus berjalan ala Syahrini yang maju-mundur-cantik sekali pun, tak butuh waktu satu purnama dikali 12 tahun seperti Cinta menanti Rangga. Saat datang, kerumunan manusia sudah mengelilingi pagar pembatas tempat api unggun akan dinyalakan. Yes, kehangatan yang selama ini jadi barang mahal di Leeds sekarang bisa didapatkan secara gratis. Kalau ada orang lain yang masih merasa kedinginan, mungkin itu hatinya yang sudah membeku.

Susunan kayu sebelum dibakar
Susunan kayu sebelum dibakar

Tak beberapa lama kemudian, terdengar teriakan panitia acara dari pengeras suara. Bayangkan penyanyi dangdut pantura yang suka berteriak sebelum lagu dimulai, “SEMUA SIAP DIGOYANG?”. Di sini pun demikian, mengingat orang lokal di sini pun berbicaranya dengan suara yang lantang, “ARE YOU READY?” dan disusul dengan penghitungan mundur dari lima. Api dinyalakan dan berakhirlah nasib kayu-kayu naas itu.

Susunan kayu berubah menjadi api unggun
Susunan kayu berubah menjadi api unggun

Sekitar 15 menit berlalu, ketinggian api unggun mulai menurun. Abu-abu sisa pembakaran ada yang membumbung dan berterbangan seiring hembusan angin. Beberapa gadis-gadis negeri Tiongkok sibuk menutup kepalanya dengan hoodie jaketnya. Mungkin rambutnya tak ingin dihinggapi oleh abu. Cukup beralasan, semenjak saya berdiri dekat mereka, rambutnya tercium sangat harum. Sepertinya habis nyalon bareng.

Ah, suara panitia terdengar lagi melalui pengeras suara, “MASIH KUAT DIGOYANG?”. Haha, hampir serupa dengan sebelumnya. Penghitungan mundur lagi dan kemudian disusul sekelabatan asap yang melesat cepat menuju langit yang kemudian pecah menjadi kembang api. Cantik! Bentuknya pun beragam.

Sekali lagi pengunjung menjunjung tinggi ponselnya.

Kembang api [1]
Kembang api [1]
Kembang api [2]
Kembang api [2]
Kembang api [3]
Kembang api [3]
Kembang api [4]
Kembang api [4]
-oOo-

Selepas pesta kembang api yang cukup panjang tadi, maka berakhirlah perayaan bonfire night. Kurang lebih mungkin tak sampai satu jam dari awal hingga akhir acara. Sayang, acara yang sebenarnya mempunyai makna sejarah bagi orang Inggris ini kurang dikemas secara menarik. Mungkin bisa didahului oleh semacam teatrikal tentang Guy Fawkes dari awal konspirasi hingga tragedi leher patah. Meski selepas acara bisa melipir ke pasar malam, tetap saja itu tidak ada keterkaitan dengan sejarah bonfire night.

Advertisements