Sebuah mobil van berwarna putih membunyikan suara klakson berkali-kali. Bentuknya seperti ambulance yang biasa terlihat di Leeds. Mungkin sedang terburu-buru. Tapi, kemana bunyi sirinenya? Bisa jadi juga itu adalah mobil polisi. Duh, melanggar peraturan-kah mobil yang kami naiki? Lagi-lagi, kemana bunyi sirinenya?  Dear God, please do not make the incident being ticketed by the police as our “sweet experience” renting a car in the UK for the first time.

Mobil kemudian mengambil sisi terluar badan jalan dan berjalan sangat pelan, seperti langkah seorang puteri keraton, untuk memberi kesempatan mobil di belakang-yang-entah-ambulance-atau-mobil-polisi untuk menyiap dari sisi kanan. Setelah dikira cukup lebar, entah kenapa si pengendara mobil van putih tidak berusaha mendahului kami. Kemungkinan pertama kalau itu adalah ambulance, murni gugur sudah. Kemungkinan kedua,  itu adalah polisi juga sepertinya tak mungkin karena si-penegak-keadilan tidak turun dan menghampiri. Ataukah mungkin kami sedang diikuti? Let say, oleh organisasi kriminal paling ditakuti di Scotland. Apalagi setelah mereka membunyikan klakson kembali. Oh, maafkan imajinasi liar ini.

Hingga akhirnya mobil kami saling bersebelahan. Itu hanyalah sebuah mobil catering. Ah, saya lupa namanya. Kami yang di mobil sempat terdiam, tak lama kemudian menyerapahi mobil tadi. Perihal bunyi klakson, entahlah apa maksudnya. Mungkin akan terjawab ketika Pangeran Harry mengumumkan calon pendamping hidupnya. Entah kapan.

Meanwhile, welcome to Glasgow.

-oOo-

Jika membandingkan Edinburgh dengan Glasgow, keduanya memiliki karakteristik dan ciri yang sungguh jauh berbeda. Edinburgh sengaja tumbuh sebagai kota yang nilai-nilai sejarah masa lalunya untuk dipertahankan sebagai daya tarik pariwisatanya, sedangkan Glasgow berkembang sebagai kota besar seperti halnya Leeds. Mall, pertokoan, dan pusat bisnis.

Sesampai di tujuan pertama di Glasgow yang sekaligus sebagai tujuan utama adalah sebuah gereja katolik tua yang berubah sebagai gedung serbaguna tapi masih tetap mempertahankan ornamen di dalamnya. Bisa dibilang hanya menghilangkan deretan kursi-kursi kayu untuk para jemaat yang biasanya saya lihat di film. Sehingga ada ruang di bagian tengah yang berubah menjadi hall. Acara yang kami datangi, berlangsung disini.

Angin kencang menghiasi Glasgow pada sore hari menjelang malam selepas acara selesai. Rintik hujan pun setia menemani. Kami berpisah ke tempat menginap masing-masing. Ada yang di hostel yang disediakan oleh panitia, adapula yang menumpang di tempat teman. Sedangkan saya dan seorang teman menuju sebuah hostel yang berada sedikit menjauh dari pusat kota. Alba Hostel Glasgow, namanya. Tarif per malamnya £15.

Sekitar 10 menit dari tempat acara menuju hostel, beberapa pemandangan tentang kota ini bisa terlihat. Sebuah sungai yang membelah kota dengan jembatan yang membentang, design-nya hampir serupa dengan Millenium Bridge di Newcastle upon Tyne. Bisa disimpuljan, kota ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Leeds, beberapa ruas jalan dibuat meninggi. Mirip seperti Jakarta dan jalan layangnya, tentu saja tanpa kemacetan.

-oOo-

Good morning, Glasgow.

Kembali lagi ke venue yang sama sebelum akhirnya bisa berkesempatan mengelilingi kota ini lebih jauh lagi. Penyelenggara acara mengadakan kegiatan yang mengadopsi nama acara televisi populer yang pesertanya harus mengunjungi suatu tempat dari sebuah clue yang diberikan. Yup, the amazing race. Dari yang awalnya bersemangat, saya menjadi sedikit malas karena hujan dan angin di luar gedung semakin menjadi. Hujannya sih tidak terlalu bermasalah, tapi anginnya yang butuh diantisipasi. Hingga akhirnya, saya dan teman yang lainnya pun memutuskan untuk ikutan. Walaupun harus terpecah dalam beberapa grup yang berbeda.

Pemberhentian pertama adalah The Clock Tower. Sebuah menara jam klasik dan terletak diantara lima ruas jalan. Posisinya tidak presisi berada di tengah-tengah, mungkin karena perkembangan tata kota tiap tahunnya dan akhirnya menetap pada titik yang sekarang.

The Clock Tower
The Clock Tower

Selepas The Clock Tower, perjalanan dilanjutkan ke Glasgow Central Station. Sesuai namanya, ini adalah titik henti utama jalur kereta yang akan dari dan menuju Glasgow. Di sepanjang jalan yang dilewati, hujan tak kunjung henti. Jubah-jubah ber-hoodie menjadi satu-satunya penyelamat dari basah dan kuyup. Payung sepertinya tidak disarankan untuk digunakan di negara ini. Hembusan angin kencangnya niscaya akan menghilangkan fungsinya. Berada di dalam Glasgow Central Station, tak ubahnya seperti oase di gurun pasir. Karena berada di dalam gedung, kami bisa sedikit meneduh dari air langit yang tercurah. Lagipula, di dalam terasa lebih hangat.

Glasgow Central Station
Glasgow Central Station

Pemberhentian ketiga adalah Mackintosh MuseumSebelum mengetahui nama tempatnya, dari petunjuk yang diberikan, awalnya saya mengira itu adalah nama tempat yang memajang barang-barang karya Steve Jobs. Hingga akhirnya Mackintosh yang dimaksud adalah nama seorang seniman termahsyur di Scotland. Duh, maafkan otak kapitalis ini.

The Glasgow Royal Concert Hall menjadi pemberhentian selanjutnya. Ini adalah gedung yang biasa digunakan sebagai tempat pertunjukan musik, sesuai dengan namanya. Selain itu juga digunakan sebagai kegiatan seperti wisuda. Sebelas-duabelas dengan Balai Sidang Jakarta alias JCC, tentu saja yang di Glasgow lebih kece tampilan luarnya. Entah bagian dalamnya.

The Glasgow Royal Concert Hall
The Glasgow Royal Concert Hall

Semenjak Mackintosh Museum, sebenarnya antara satu lokasi dengan lokasi berikutnya tidak terlalu jauh. Tapi karena ke-tidak-tahu-an dimana persisnya, apalagi buat saya yang baru kali pertama menginjakkan kaki di bumi Highlander ini. Apalagi pemakaian google maps tidak diperkenankan digunakan sembari berjalan. Hanya boleh digunakan ketika sebelum menuju tempat berikutnya dan diberi kesempatan hanya tiga kali untuk masing-masing team. 

Tempat terakhir, meski bukan dalam arti yang sebenarnya, dalam the Amazing Race ini adalah George Square. Ini adalah semacam alun-alun Kota Glasgow yang dihiasi beberapa patung tokoh terkenal yang berasal dari Scotland. Salah satunya adalah James Watt. Gedung Dewan Kota Glasgow dijadikan latar para turis yang mengabadikan diri di sini. Apalagi bangunannya yang memanjang dan didukung desain klasik yang sangat cantik. 

aIMG_5837
Gedung Dewan Kota di George Square
James Watt
James Watt

-oOo-

Terpisah dari acara yang tadi, sebelum kembali pulang ke Leeds. Kami memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di beberapa tempat yang memang di-niat-kan untuk dihinggapi dan salah satunya adalah klub sepakbola kebanggan setempat, Glasgow Celtic. Universitas ternama setempat pun menjadi pilihan, meskipun hujan deras, kebingungan dalam mencari lahan parkir, dan hanya bisa mengabadikan diri dari luar karena salah pintu masuk, kami tetap nekat berfoto ria dengan latar gedung utama University of Glasgow. 

University of Glasgow
University of Glasgow

-oOo-

Sebuah kastil sempat menjadi pemberhentian kami selanjutnya. Kali itu langit sudah gelap benar dan hujan masih saja membasahi bumi. Posisinya berada di atas bukit dan kerlip lampu kota Glasgow bisa terlihat. The National Wallace Monument, namanya. Sayangnya, saat itu kastil sudah ditutup dan kami pun harus sesegera mungkin kembali ke Leeds.

Advertisements