Sebelumnya mari saling menyamakan persepsi terlebih dahulu kalau ibukota negara Scotland adalah Edinburgh, bukan Glasgow! Selama ini saya berkeyakinan sebaliknya. Ah, rasanya ingin kembali lagi duduk di bangku sekolah dasar dan menyimak pelajaran IPS dengan seksama.

-oOo-

Scotland adalah negara yang sampai saat ini masih tergabung dalam “komunitas” Britania Raya. Belum lama ini, diadakan referendum oleh pemerintah setempat untuk memilih apakah masih terus bergabung di bawah bendera Union Jack atau merdeka secara sepenuhnya seperti Irlandia. Hasilnya, meski perbedaan tidak terlalu jauh, mayoritas rakyat Scotland masing menginginkan negaranya bersatu di bawah kuasa Ratu Elizabeth.

Untuk perjalanan kali ini, saya yang terbiasa solo trip merasakan kalau persiapan kali ini sedikit ribet. Ribet karena sebelumnya tidak pernah memikirkan hal-hal diluar kepentingan pribadi. Apalagi ini kali pertama bepergian tengah malam menggunakan mobil yang disewa dengan perjanjian kontrak yang bikin kepala garuk-garuk.

Perjalanan dimulai sekitar benar-benar menjelang perpindahan dari hari Jum’at menuju Sabtu dengan pemberhentian utama adalah Edinburgh Castle yang didahului dengan menghampiri tempat makan buat ganjel perut, minimarket, gas station, dan rest area. Berdasarkan aplikasi google maps, waktu tempuh diperkirakan sekitar empat jam lebih sedikit. Nah, berhubung kami benar-benar pemula dalam mengendalikan mobil di sini, maka perkiraaan empat jam tadi benar-benar meleset jauh dari kenyataan. Bayangkan, cara mengisi bensin saja kami masih kebingungan. Bertanya pada orang, malah dikira pelaku kriminal. Ah, nasib!

Belum lagi menterjemahkan rambu lalulintas yang lumayan membuat ragu dan traffic light yang bertebaran. Melanggar? Siap-siap dapat kiriman surat cinta dari kepolisian. Di sini tidak ada polisi di pinggir jalan yang secara khusus mencari pelanggar lalulintas. Cukup dengan pantauan kamera.

Tengah malam sepanjang perjalanan, tak ada yang spesial. Hanyalah obrolan-obrolan absurd yang menjadi topik pembicaraan. Meski tak sedikit yang bisa membuat bibir tersenyum, sekedar untuk membuat sang pengendali kendaraan tak larut dalam kantuknya.

-oOo-

Selamat pagi, Scotland!

Pagi yang dingin menyelimuti kota Edinburgh. Rasanya belum cocok untuk dibilang pagi, karena jam enam pagi tak ubahnya seperti sepertiga malam. Gelap! Kami terdiam di pelataran parkir sebuah gas station yang buka 24 jam, sekedar untuk beristirahat terutama untuk dua manusia yang duduk di kursi bagian depan mobil. Kurang lebih hampir tiga jam lamanya dan matahari mulai menampakkan sinarnya, Edinburgh Castle pun siap untuk kami datangi.

Edinburg Castle
Edinburg Castle

Edinburgh Castle yang berada di atas bukit pernah dijadikan sebagai pusat kerajaan Scotland pada masanya. Dibangun dengan susunan bebatuan cadas dan keras sebagai pondasi pada sekitar abad ke-12. Dari atas sini, pemandangan kota Edinburgh dapat dilihat dari berbagai sisi. Berhubung kami hanya menyambangi bagian pelatarannya saja, jadi tak ada banyak hal yang bisa diceritakan lebih mendalam. Untuk menyusuri bagian dalam kastil, setiap pengunjung diperlukan tiket dengan harga £16 untuk pengunjung dewasa.

Kota Edinburgh dilihat dari Edinburgh Castle
Kota Edinburgh dilihat dari Edinburgh Castle
Pintu gerbang di Edinburgh Castle
Pintu gerbang di Edinburgh Castle

Selepas dari sini, kami menuju Royal Mile, yaitu sebuah jalur tersohor dan tersibuk di kawasan kota tua Edinburgh. Bisa dikatakan semacam Jalan Malioboro di Jogjakarta. Sayangnya, kami hanya melintasinya saja. Belum berkesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh karena sepertinya banyak hal-hal menarik yang bisa ditemui. Sebuah gang kecil berupa lorong yang menghubungkan dengan Scottish National Gallery kami lalui dan mendapatkan obat sedikit rasa kecewa karena tidak berkesempatan masuk ke Edinburgh Castle. Seorang pria paruh baya dengan pakaian khas Scotland berupa bawahan serupa dengan rok dengan motif kotak-kotak, sembari memainkan alat musik big pipe menjadi pelipur lara. Belum ke Jakarta kalau belum melihat Monas, dan rasanya belum sah ke Scotland jika belum berpose dengan Scottish men with his outfit.  Siapkan beberapa uang untuk bisa mengabadikan diri bersama. Selain itu, sepertinya beliau sadar akan kotanya yang banyak dikunjungi oleh orang dari berbagai belahan dunia, sehingga kemampuan untuk memainkan lagu dari negara lain pun menjadi daya tarik tersendiri. Saya tidak pernah menyangka kalau dari alat musik tiupnya mengalun lagu Yamko Rambe Yamko.

Pose with a scottish old man
Pose with a scottish old man

Diburu waktu, kami mengambil rute searah dengan lokasi parkir kendaraan berada. Edinburgh Castle dikelilingi oleh taman kota yang cukup luas dan ditata dengan amat-sangat-rapi. Meski dikunjungi banyak orang, Princess Street Garden kebersihan dan keindahannya tetap terjaga. Pepohonan dengan daun berwarna kuning ke-emas-an khas musim gugur sangat mendominasi. Terdapat juga beberapa patung sebagai pemanis taman, entah sudah berapa tahun usianya.

Princess Street Garden
Princess Street Garden
Princess Street Garden (2)
Princess Street Garden (2)
Princess Street Garden (3)
Princess Street Garden (3)

-oOo-

Hampir jam 12 siang dan kami terpaksa meninggalkan kota ini yang baru seujung kuku saja tiap sudutnya yang terjelajahi oleh kaki-kaki kami. Buku Lonely Planet edisi UK menuliskan cukup banyak tentang Edinburgh dan yang diceritakan disini, mungkin baru satu halaman bagian depannya saja yang baru ter-eksplor-asi oleh kami kali ini.

Sesaat sebelum menutup pintu mobil terselip harapan agar masih diberikan waktu dan kesempatan untuk bisa kembali ke sini. Mengenal lebih dalam lagi. Suara mesin mobil ketika dinyalakan pun terdengar. Glasgow, are you ready for us?

 

Click here for more pictures (facebook).

 

Advertisements