Jika saya disuruh menuliskan daftar keinginan selama hidup di dunia, maka mengunjungi markas besar Manchester United bakalan masuk di dalamnya. Bisa menginjakkan kaki di Old Trafford bukan hanya menggenapi rasa cinta saya dengan klub berjuluk Setan Merah alias Red Devil. Meskipun jika disandingkan dengan fans yang lain, mungkin saya belum ada apanya. Apalagi jika dihadapi dengan mereka yang menganggap klub bola kesayangan sebagai agama kedua.

Tulisan ini tidak langsung bermula di depan gerbang Old Trafford. Biar lebih santai sedikit, dimulainya dari proses keberangkatan saya dari Leeds. Tapi seumpama mau di-skip, silakan geser kursor anda sedikit lebih cepat.

-oOo-

Dari Leeds menuju Manchester, saya menggunakan bus sebagai moda transportasi. Ada pilihan lain yaitu dengan menggunakan kereta, tapi karena pertimbangan harga yang lumayan jauh berbeda dengan waktu tempuh yang tidak terlalu jauh berbeda sekitar satu jam, maka menggunakan bus dengan jadwal keberangkatan pagi menjadi pilihan. Tiga hari sebelum keberangkatan, saya sudah memesan tiket bus melalui layanan online. Adapun untuk operator busnya bisa dipilih antara Megabus atau National Express. Saya memilih menggunakan Megabus karena lagi-lagi perihal harga yang lebih miring. Tidak perlu canggung dengan layanan tiket online-nya karena mudah untuk dipahami. Masih (jauh) lebih ribet sistem booking tiket pesawat pokoknya. Tinggal memilih kota asal dan tujuan, jumlah penumpang, tanggal dan waktu keberangkatan, lalu memilih metode pembayaran. Konfirmasi tiket yang dipesan berupa kode unik yang dikirimkan melalui email, atau smsHarga tiket juga tergantung kepada jam keberangkatan. Untuk jam yang tidak terlalu padat, seperti tiket yang saya pesan untuk keberangkatan dibawah jam 7 pagi, harganya lebih murah.

Berhubung di kota ini dituntut untuk sebisa mungkin berjalan kaki, maka sekitar hampir jam setengah 6 saya sudah keluar dari flat menuju Leeds City Bus Station. Berjalan selama 15 – 20 menit sembari diterpa angin dingin itu sungguh butuh perjuangan buat saya yang dibesarkan dengan limpahan sinar matahari negara tropis. Meskipun di sini sedang musim panas dan sudah tinggal sebulan lebih, baru kali ini bisa merasakan ada uap yang keluar dari mulut.

Bus yang bakalan mengangkut saya datang terlambat sekitar 15 menit. Ah, masih masuk dalam toleransi jadi tak menjadi persoalan, apalagi sayanya pun yang kelewat bersemangat. Ditambah di iPod sedang memainkan lagu kebangsaan.

Glory glory Man united,
Glory glory Man united,
Glory glory Man united,
As the reds go marching on on on!

 -oOo-

Bus yang saya tumpangi didominasi oleh warna biru gelap dan kuning. Sebelum naik, petugas akan memeriksa nomor konfirmasi tiket. Ada yang menunjukkan dalam bentuk print, email, sms, dan ada juga lho yang ditulis di tangan. Nggak kebayang seumpama nanti luntur. Berhubung di Eropa dan pelayanan transportasi publiknya (jauh) lebih maju, setidaknya itu yang saya alami ketika mendarat di bandara Manchester berlanjut naik kereta, taksi, dan beberapa kali menggunakan bus dalam kota. Nah, untuk bus antar kota ada catatan tersendiri. Busnya bagus, kursinya nyaman, hanya saja ketika naik dan sepanjang perjalanan samar-samar tercium bau (sedikit) pesing. Sempat curiga kalau kursi yang saya duduki bekas di-pipis-i oleh penumpang sebelumnya atau pintu toilet yang lupa ditutup. Eh, nggak tahu juga sih kalau busnya ada toilet atau nggak. Pun demikian bus yang dari Manchester balik ke Leeds, banyak sampah yang ditinggalkan penumpang.

Saran saja, seumpama tidak membawa barang dan memilih naik bus, langsung naik ke atas dan ambil posisi paling depan. Meski jadi sedikit sulit untuk tidur jika perjalanan jauh, tapi ini cara paling jitu menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.

Walau datang terlambat, perjalanan bus dari Leeds menuju Manchester tetap ditempuh satu jam. Sekitar hampir jam setengah delapan pagi saya sudah sampai di Shudenhill Bus Station dan langsung disapa dengan terpaan angin yang dinginnya serupa dengan ketika berangkat menuju Leeds Bus City Station. Brrrr….

Dari sini menuju Old Trafford bisa menggunakan bus ataupun kereta. Anggap saja saya sedang gila karena memutuskan untuk berjalan kaki. Bermodalkan aplikasi google maps di ponsel, diperkirakan sekitar satu jam untuk bisa sampai. Estimasi sekitar satu jam itu kan tergantung kepada masing-masing orang. Pun saya sekalian untuk menikmati kota di tengah kesunyiannya karena kebetulan sedang hari Minggu dan baru sedikit orang yang sudah keluar rumah.

Manchester Arndale, gedung pertama yang ditemui setelah keluar dari Shudenhill Bus Station. Adalah sebuah mall terbesar yang juga berdekatan dengan kawasan pertokoan komersial dan beberapa tempat makan di pusat kota Manchester. Nama-nama merek ternama yang terasa familiar di telinga bakalan bisa ditemui.

Manchester Arndale
Manchester Arndale

Tak jauh dari sana, juga berdiri sebuah bangunan megah dengan arsitektur klasiknya yang sangat menawan, Manchester Cathedral. Didominasi oleh warna-warna khas bangunan tua Eropa dengan ujung-ujung puncak bangunannya yang meruncing. Sayang, ketika sedang melintas pintu gereja masih tutup sehingga tidak bisa mengintip bagian dalamnya. Dari seberang gereja, ada semacam alun-alun kota dan titik-titik lubang air mancur dari permukaannya.

Manchester Cathedral
Manchester Cathedral

Menjauhi pusat kota, deretan ruko sepanjang jalan dan beberapa buah gereja masih menghiasi. Satu hal, disini saya menemui beberapa terowongan dengan usia yang terlihat sama tuanya layaknya usia kota ini, yang sampai sekarang belum saya temui di Leeds. Setelah sekali lagi melintasi terowongan, akhirnya bisa melihat deretan tempat tinggal dan flat lima tingkat yang tentu saja dihiasi dengan taman-taman cantik dan terjaga rapi meskipun di pinggir jalan. Tolong jangan beritahu Syahrini, nanti ada video I Feel Free jilid 2.

Aroma-aroma mendekati Old Trafford mulai tercium ketika mendapati jalan dengan kata ford di bagian belakangnya, seperti Stafford Road dan tentu saja Trafford Road, dan papan penunjuk arah yang dengan sangat jelas menuliskan nama stadion.

Papan Penunjuk Arah
Papan Penunjuk Arah

-oOo-

Sebuah bangunan dengan bata merah yang pada bagian atasnya bertuliskan Liverpool Waterhouse Inc. disertai tahun berdirinya yaitu 1932 menjadi penanda bahwa selangkah (baca: sebentar) lagi sampai di Old Trafford. Tidak usah heran mendengar kata Liverpool di sini. Keduanya adalah kota bertetangga. Dulu sama-sama sebagai kota industri sebelum akhirnya klub sepakbola masing-masing menjadi alasan untuk (agak) bersitegang. Jadi, ini bukan saya sedang tersesat apalagi di depannya terpasang deretan huruf-huruf cukup besar membentuk tulisan Trafford Park. Perihal rantai terputus dengan pengait super besar yang teronggok disana, entahlah apa maksudnya.

Trafford Park
Trafford Park

Dari Trafford Park, tinggal berjalan lurus saja ke Old Trafford hingga menemui sebuah jalan bertuliskan Sir Alex Ferguson Way. Sebaiknya ambil trotoar di sisi bagian kanan jalan karena bisa sembari menikmati pemandangan sungai yang membelah kota ini yang disertai deretan pepohonan dan beberapa kursi taman.

Sir Alex Ferguson Way
Sir Alex Ferguson Way

-oOo-

Menginjakkan kaki di Old Trafford!

Menangis?

Histeris?

Hmmm, cuma (sedikit) deg-deg-an dengan mata (sedikit) membesar dan lompat-lompat kecil. Tuhan tahu sejak kapan saya memasukkan Old Trafford di daftar salah satu tempat yang harus dikunjungi sebelum menutup usia. Semakin lengkap jika bisa menyaksikan pertandingannya langsung. Sayang, saat itu jadwal Manchester United sedang melakukan tandang ke stadion milik Sunderland AFC dan dari timeline twitter saya ketahui jika skor akhir adalah imbang 1-1.

Buru-buru saya menghapus bayangan Stadion Gelora Bung Karno yang tampak ramai di hari Minggu pagi. Ketika sampai, mungkin saya adalah pengunjung pertama yang datang di Old Trafford. Hanya terdapat petugas yang sedang tampak membersihkan beberapa sampah yang tergeletak tidak pada tempatnya. Oh iya, berdasarkan google maps tadi jika dengan berjalan kaki dari Shudenhill Bus Station membutuhkan waktu satu jam lima menit, maka saya menempuhnya lebih cepat sekitar limabelas menit, sekitar pukul 8.20 pagi. Sedangkan jadwal kunjungan museum dan tur paling pagi adalah jam 9.40. Ada untungnya datang kelewat pagi, bisa berfoto dengan latar foto para pemain yang terpasang menghiasi stadion dan belum banyak pengunjung yang berlalu lalang.

Tiket museum dan tur lagi-lagi saya memesan via onlineKemarin lupa menanyakan apakah bisa membeli di tempat atau tidak. Harga tiket untuk dewasa adalah £18, silakan di-konversi sendiri ke rupiah jadi berapa. Saya membeli tiket untuk pelajar, lebih murah £2. Pada saat menuju loket, identitas pelajar juga harus diperlihatkan. Saya pun tidak tahu apakah harga untuk pelajar hanya berlaku untuk UK atau seluruh negara.

Berpose di depan Old Trafford
Berpose di depan Old Trafford

Saya memilih jadwal untuk museum dan tur jam 10.10. Sembari menunggu, saya mengeluarkan bekal yang dibawa dari flat. Kapan lagi bisa sarapan sembari dipandangi oleh Van Persie dkk, kebetulan disediakan deretan bangku dan meja dimana di tiap selanya terpasang gambar-gambar pemain maupun mantan pemain ketika berseragam Manchester United.

Wayne Rooney
Wayne Rooney
David Beckham
David Beckham

Sekitar pukul 9 pagi, saya menuju pintu masuk museum. Setelah melakukan konfirmasi tiket yang dikirim melalui email, pengunjung diberikan kalung name tag yang harus dipakai sebagai bukti anda bukan pengunjung ilegal. Satu jam sembari menunggu tur, saya menuju museum yang menyimpan berbagai kenangan tentang klub besar ini. Dari awal berdiri hingga prestasi terkini. Foto, piala, medali, jersey, video, hingga tulisan tangan pun tersedia dan disajikan dengan menarik. Saat memasuki museum, sebenarnya kita sedang berada di lantai teratas dan pada lantai terbawah setelah melihat semua benda koleksi adalah titik temu para pengunjung untuk melakukan tour stadion Old Trafford.

Beberapa Koleksi Piala di Museum
Beberapa Koleksi Piala di Museum
Display Robby Keane di Museum
Display Roy Keane di Museum
aDSC_5562
Jenis Topi yang Digunakan Pengunjung dan Sejarahnya
Display Koleksi Jersey para Pemain
Display Koleksi Jersey Pemain

Selama tour, pengunjung akan dikawal oleh seorang guide yang akan menjelaskan segala informasi di setiap pemberhentiannya. Tour dimulai dengan memasuki stadion. Baru duduk di bangku penonton meski hanya memandang hijaunya rumput Old Trafford ada rasa mendebarkan yang membuncah di dada, apalagi jika menonton pertandingan langsung. Oh Tuhan, tolong kabulkanlah permintaan hamba.

Sang tour guide awalnya menjelaskan Old Trafford dari segi fisik. Nama sisi yang sedang kita kunjungi, jumlah penonton yang bisa ditampung, kursi VIP hingga tribun dengan aksen English British kental yang terkadang seumpama lost focus membuat saya jadi (sedikit) bingung. Dari sini berlanjut untuk melihat stadion dari sisi yang berbeda, salah satu yang favorit karena disini bisa terlihat deretan bangku yang terdapat deretan bangku yang membentuk kata Manchester United.

Old Trafford
Old Trafford (1)
Old Trafford (2)
Old Trafford (2)

Bagian dalam stadion juga tidak luput dikunjungi, diantaranya ruang pers conference setelah pertandingan usai, tempat ngemil para pemain, ruang ganti pemain, dan lorong dimana pemain keluar menuju lapangan. Disini biasanya tour guide akan bertanya apakah diantara pengunjung ada yang bukan fans Manchester United. Jika ada, maka seperti layaknya pemain ketika akan menuju lapangan berbaris sesuai dengan timnya. Nah, yang bukan fans Manchester United akan memiliki barisan sendiri dan akan keluar dari lorong bersama-sama. Seumpama ada anak kecil, akan lebih menarik lagi. Pengunjung akan bergandengan tangan. Benar-benar sudah mirip pemain profesional.

De Gea's Jersey
De Gea’s Jersey

Tour berlangsung sekitar hampir satu jam yang pintu keluarnya tak lain dan tak bukan adalah toko suvenir. Semua yang berbau Manchester United ada disini. Dari ujung kaki seperti kaos kaki, hingga ujung kepala yakni topi. Perihal harga, kembali lagi ke dompet pengunjung masing-masing. Untuk season 2014 / 2015, kebetulan jersey yang dijual adalah made in Indonesia dan saya sudah membelinya sebelum berangkat ke UK. Sama asli dan (jujur) sama mahalnya. Di sini, saya hanya membeli sebuah tumbler berwarna silver seharga £8.

Sekedar saran, kalau bisa jangan pergi sendiri. Bukan masalah keamanan atau apa tapi karena alasan ada seseorang yang bisa kita minta tolong foto-in karena spot di dalam stadion sangat menggiurkan sebagai latar, hahaha. Pun seumpama datang sendiri, perhatikan pengunjung yang juga bernasib sama jadi bisa saling tolong menolong. Karena saya juga datang sendirian.

Me :)
Me 🙂

-oOo-

Rekapitulasi pengeluaran :

  • Tiket bus Leeds (Leeds Bus City Station) – Manchester (Shudenhill Bus Station) : £3
  • Shudenhill Bus Station – Old Trafford : £0 (by walk). Seumpama naik kereta, dari Shudenhill bisa turun di Old Trafford Metrolink Station. Kalau bus, saya kurang tahu pemberhentiannya dimana.
  • Tiket Old Trafford Museum and Tour : £16 (student) + £1 (online charge)
  • Makan siang : £0 (bawa bekal sendiri). Di Old Trafford ada tempat makan di sebelah museum, Red Cafe. Masalah harga tidak tahu, karena belum coba untuk cek menu.
  • Beli tumbler : £8
  • Tiket bus Manchester (Shudenhill Bus Station) – Leeds (Leeds Bus City Station) : £5
  • Total biaya dikeluarkan : £33
Advertisements