Kebanyakan pintu yang tersebar di kampus sini, jika tidak terbuka secara otomatis seperti kebanyakan pintu mall yang sering kalian singgahi, adalah seperti pintu yang harus didorong atau ditarik yang akan kembali menutup dengan cepat. Semacam pintu di film koboi, hanya saja dia tidak menggantung. Sama seperti pintu pada umumnya. Nah, dikarenakan pintu yang manual tadi dengan cepat menutup, maka mau-nggak-mau (harus) ada kesadaran bagi orang yang membuka untuk menoleh ke belakangnya apakah ada orang atau tidak, untuk sekedar menahan pintu.

Lumayanlah untuk saya yang seumpama kangen dengan salam khas mbak dan mas Indomaret, “Selamat datang di Indomaret. Selamat belanja”. Tentu saja disini tidak se-ekstrim itu, tapi dipastikan jika kebetulan harus menahan pintu setidaknya mendapatkan sunggingan senyuman dan ucapan thank you.

-oOo-

Saya berjalan dengan sedikit tergesa sembari memperhatikan setiap jam yang terpasang di dinding yang ditemui. Berharap tiap detak jarumnya melambat sehingga saya tidak terlambat. Beberapa orang yang berada di depan terpaksa dilewati meskipun hanya ada sedikit ruang untuk bisa melalui mereka. Tak lupa seraya berkata, “excuse me” dan “I’m sorry”.  

Mendekati akhir tujuan, saya melihat seorang wanita tua di depan saya. Rambutnya berwarna dua, saling berselang-seling antara hitam dan uban putihnya. Entah umurnya berapa, mungkin sekitar limapuluh tahun keatas. Tangan kanannya menggamit sebuah tongkat yang terlihat tidak begitu menapak pada permukaan jalan. Sepertinya, tongkatnya hanya digunakan pada medan tertentu saja seperti menaiki tangga. Sedangkan untuk jalan yang mendatar, kedua kakinya masih bisa menopang dengan sempurna.

“Excuse me…” 

Saya melalui sang wanita tua dan tak jauh setelah itu ternyata ada sebuah pintu manual yang harus didorong. Saya menoleh ke arah wanita tua tadi. Adakah dia memiliki arah yang sama?

“I’m sorry, are you going this way?” tanya saya sembari menggunakan telunjuk sebagai penunjuk arah.

Ia tidak menjawab secara verbal. Hanya mengangguk sembari tersenyum.

Kemudian saya mendorong pintu yang akan kami lewati. Saya mempersilakannya untuk masuk terlebih dahulu sembari menahan laju pintu dengan tangan kiri.

“Thank you. Do you speak cantonese?”

Saya mengangguk untuk menjawab ucapan terima kasihnya lalu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya. Dari segi fisik agak sulit untuk menerka ternyata dia berasal dari daratan Hongkong. Matanya tidak terlalu kecil, kulitnya tidak seputih porselen, dan rambutnya tidak lurus seperti yang lainnya. Ah, kenapa dia harus bertanya saya berbahasa kanton atau tidak. Sebentar lagi pasti dia akan bertanya darimana saya berasal.

“So you are from Thailand?” tebaknya sembari menapaki anak tangga.

Tuh kan, benar! Saya menggeleng sembari membentuk mulut sesuai dengan pengucapan kata No.

“Malaysia?” 

Saya kembali merespon dengan gerakan yang sama. Baru ingin menjawab kalau saya berasal dari negara kepulauan terbesar di dunia, dia sudah keburu menerka dengan nama negara lain yang lagi-lagi salah. Rasanya seperti sedang bermain kuis Eat Bulaga. Dia menerka dan saya merespon dengan jawaban, “TIDAAAKKKK…”.

“Singapore? Vietnam? “

Keep trying hard, Aunty. Anda sudah berada di jalur yang benar dengan menyebutkan nama-nama negara di kawasan Asia Tenggara.

“Australia?”.  Ini saya mendengarnya seperti sedang bercanda, tapi entahlah siapa tahu dia serius.

ARGGHHHH, TIDAAAKKKK….!!!  Dear Aunty, tahukah kalau dari dua negara yang kau sebutkan terakhir pastinya akan melewati negara saya tercinta terlebih dahulu untuk menuju Australia? Dari atas pesawat, akan terlihat deretan pulau-pulau yang mungkin yang terakhir bisa terlihat adalah pulau Bali dan bagian dari kepulauan Nusa Tenggara sebelum akhirnya benar-benar memasuki wilayah Australia. Itu pun kalau pesawatnya melintas bukan malam hari.

“I’m from Indonesia” jawab saya untuk mengakhiri rasa penasarannya.

“Indonesia, really? But why you can’t speak cantonese? I’ve some family from my husband in Indonesia and can speak cantonese as well as your local language.”

“Ummm, maybe I’m the exception.”

-oOo-

Ah, saya merasa gagal. Salah satu bait lagu milik Paramore seperti mendadak mengalun yang semakin lama semakin keras suaranya.

You are the only exception
You are the only exception
You are the only exception
You are the only exception

Advertisements