Pagi kemarin, seseorang tetiba memotong obrolan saya dengan salah satu pegawai kampus di gedung administrasi. Bicaranya cepat sembari diselingi napas yang tersengal-sengal. Sepertinya sedang panik. Saya terdiam sejenak sementara si pegawai kampus – lawan bicara saya – menggelengkan kepala sembari mengangkat kedua tangan dengan bahu sedikit naik. Pertanda tidak tahu.

“Sorry, I don’t speak mandarin” 

“Oh I’m sorry, I thought you were chinese”

Saya kembali melanjutkan urusan saya terkait dengan administrasi, sementara dia menuju sebuah layar monitor dekat dengan pintu masuk gedung. Sembari menunggu, saya agak sedikit menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil mengingat kejadian tadi. Baru kali ini saya dikira memiliki keterhubungan dengan tanah kelahiran Andy Lau.

Selang sepuluh menit kemudian, urusan saya selesai dan bergegas untuk kembali ke flat untuk sekedar beristirahat. Pria yang mengira saya dari daratan Cina masih berkutat di depan monitor. Antara penasaran dan siapa tahu bisa membantu, meski bulan Ramadan sudah lewat.

“Hi, is there something I can help you with?”

“Yes, I don’t know how to change my address. Can you help me?”

“What address, email?”

“No, ummm…..” jawabnya sembari menggelengkan telunjuknya kemudian diletakan di depan bibir.

“Your flat address?”

“Yes, but no….” jari telunjuknya kembali di depan bibir.

Saya ikutan terdiam.

“I want to change my home address!” 

“Well, your home address means your flat or accomodation address, right?

“No! My home address”

Sempat terlintas di otak kalau saya berbicara dengan anak orang kaya. Kuliah jauh-jauh dan punya rumah di tanahnya Ratu Elizabeth. Saya melirik ke arah teman wanita yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Berharap dapat pencerahan. Kalau pun tidak, setidaknya bicaralah sedikit atau sunggingkanlah senyuman. Halah!

“I want to change my home address in China”

“WHAT? YOUR-HOME-ADDRESS-IN-CHINA?” bayangkan seekor kucing yang sedang terperanjat karena disiram air, pada bagian ini. Saya kaget betulan.

Setahu saya memang ada form isian untuk mahasiswa baru tentang data alamat di negara asal masing-masing. Yang jadi pertanyaan disini adalah saya atau mungkin mahasiswa lain tidak ada yang mengutak-atik terkait data ini setelah di-submit. Jujur, saya tidak tahu letak persis menu di laman registrasi yang bakalan mengarahkan kursor yang saya gerakan ke form alamat dimaksud. Pokoknya asal klak-klik saja. Alhamdulillah, ketemu juga.

Selanjutnya saya menggeser mouse beserta keyboard ke arahnya. Jarinya kemudian berpindah dari satu tombol ke tombol berikutnya pada kolom alamat tadi. Setelah dirasa benar, sebuah tombol kecil bertanda checklist meminta untuk ditekan. Selesai.

Bayangan kasur di flat kemudian mendadak muncul. Ah, sepertinya saya harus bergegas untuk merebahkan diri di kasur tercinta. Mengingat ada janji jam dua siang untuk menyusuri kota bersama teman satu grup untuk mengambil beberapa gambar untuk tugas poster. Saya kemudian pamit kepada mereka berdua.

“Sorry, I gotta go now”

“Thanks for your help. Btw, where are you come from?

“Indonesia”

“Ah, Indonesia. How to say thank you in your language?”

“Te-ri-ma ka-sih” 

“Ah, one more question. I don’t want to repeat the mistake in the future. How to define a person who comes from Indonesia, physically?”

-oOo-

Saya seperti terlempar beberapa tahun silam. Masa dimana saya mengenakan seragam putih dan celana merah. Berada di dalam kelas sembari mendengarkan ibu guru mengajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Beliau mengajarkan tentang banyaknya perbedaan yang ada di negara ini. Suku, agama, budaya, termasuk segi fisik juga.

Kulit putih, sawo matang, kuning langsat, hingga hitam pun ada di Indonesia.

Rambut lurus, keriting, dan ikal pun juga ada di Indonesia.

Saya agak mengalami kesulitan untuk bisa menjawab pertanyaan dari dia. Duh, kenapa dia tidak bertanya tentang hal lain yang sekiranya mudah dijawab dan pasti. Misal, berapa satu ditambah satu. Nggak mungkin juga sih pertanyaan model seperti itu yang keluar dari mulutnya. Suara-suara tak jelas rimbanya seperti berlalu lalang dalam pikiran. Mendesak untuk segera disudahi pertanyaan dia dengan jawaban. Takutnya dia akan bertanya masalah personal, seperti mengungkit masalah mantan. Dheg!

“Bro, I’m a lil bit hard to describe the physical characteristics of Indonesian people in general. Black, white, curly, straight hair, can be found by you in my country. But you can see from their smile. Over friendly smile!”

Saya menyeringai lebar. Selebar senyuman Luffy, karakter One Piece.

Advertisements