Harusnya posting-an ini ditulis jauh-jauh hari. Tapi apa daya, baru sempat sekarang. Tulisan kali ini akan dimulai ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan aman dan selamat di Bandara Manchester (MAN) tanggal 18 Juli kemarin. Untuk cerita sebelum keberangkatan dari Jakarta, saya butuh berpikir banyak untuk bisa menuliskannya. Tapi yang pasti, itu adalah salah satu kejadian yang bakalan sulit bisa dilupakan.

Jadi, mohon pasang dan kencangkan sabuk keselamatan. Tegakkan sandaran kursi. Melipat meja di depan serta pastikan penutup jendela di samping Anda dalam keadaan terbuka, karena cerita akan segera dimulai!

-oOo-

08.30 am

Bandara Manchester tidak terlalu ramai. Saat itu, tidak ada maskapai lain yang mendarat dalam waktu berdekatan baik sebelum dan sesudah dengan pesawat yang saya tumpangi. Jadi, suasana bandara bisa dikatakan cukup senggang. Kaki melangkah memasuki area bandara sembari melihat pemandangan melalui kaca-kaca tembus pandang sepanjang koridor. Di pundak, bersemayam sweater hitam untuk berjaga-jaga seumpama dingin tiba-tiba menyergap kulit.

Langkah kaki melambat ketika tampak antrian imigrasi. Ada tiga kelompok antrian, pemegang passport UK, Eropa, dan bukan kedua-duanya. Tentu saja saya mengantri di kelompok antrian yang disebutkan terakhir. Bisa dikatakan, antriannya tidak terlalu panjang ketimbang pemegang passport negara Eropa, hanya saja prosesnya adalah yang paling lama karena dilakukan manual. Face to face dengan petugas imigrasi dengan diselingi pemeriksaan dokumen dan tanya jawab sedikit. Berhubung saya datang dengan tujuan study, tentu saja petugas imigrasi bertanya tidak jauh seputar itu. Contohnya, minta lembaran CAS dari kampus yang dituju, dimana nanti tinggal. Tenang, tidak ada pertanyaan mengenai status hubungan asmara ataupun ungkit-ungkit soal mantan.

Seperti halnya fasilitas publik dimana pun berada, fasilitas wi-fi di bandara bisa dimanfaatkan untuk mengabari sanak saudara, kerabat, ataupun teman jika kaki sudah menginjak daratan UK. Tapi ada sedikit yang janggal, entah hanya saya yang mengalaminya atau orang lain juga. Fasilitas wi-fi yang diberikan hanya bisa untuk mengakses aplikasi chat semacam whatsapp, bbm, dan path talk. Sedangkan, aplikasi sosial media tidak bisa sama sekali. Jadi, tahan dulu bagi kamu yang gatal ingin update status “TOUCHDOWN UK!” sampai benar-benar menemukan wi-fi yang full service atau bisa juga ganti dengan nomor UK saat itu juga. Kalau tak mau repot, tinggal aktifkan saja fasilitas roaming. Dengan catatan, jika nomor Anda pra-bayar, pulsa akan terkuras banyak.

Dari Manchester menuju Leeds terhubung dengan jalinan rel kereta. Ada bisa dengan menggunakan moda semacam bus, tapi yang paling mudah adalah dengan menggunakan rangkaian besi. Dari bandara menuju stasiun, Anda tidak perlu menggunakan jasa porter. Saya yang kebetulan membawa dua koper tidak begitu banyak merasa kerepotan. Selain karena sudah terhubung, seumpama harus naik ataupun turun juga sudah tersedia lift. Ah, hanya satu yang agak merepotkan ketika menaikkan koper dari platform ke dalam kereta. Butuh sedikit tenaga, karena ketinggian permukaannya yang berbeda.

09.30 am

Kereta berangkat menuju Leeds. Sebisa mungkin saya menikmati laju kereta yang diperkirakan mengantarkan saya ke kota tujuan dalam waktu satu jam ke depan. Bukan karena keretanya tidak nyaman, tapi harga tiketnya yang cukup mahal sebab baru beli pada hari H keberangkatan. Yup, tiket seharga £25.00 untuk jarak seperti Jakarta – Bogor rasanya sungguh memberatkan.

10.30 am

Selamat datang di Leeds.

Sejatinya, saya tidak menemukan spanduk bertuliskan seperti itu.

Kembali saya menggeret-geret dua koper di kanan dan kiri saya. Sebelum benar-benar keluar, saya kembali merogoh saku celana dan mengambil ponsel dan menyalakan wi-fi sekedar untuk memberi kabar kepada orang terdekat di Indonesia jika sudah sampai. Hembusan angin di Leeds terasa lebih dingin karena kebetulan hujan juga turun saat itu. Dari sini, saya menggunakan taksi yang dari pintu keluar stasiun Leeds sudah berjejer antri menunggu penumpang.

Kepada sang pengemudi, saya minta diantarkan ke akomodasi milik kampus yang sekarang ditempati, Montague Burton.

Dia seorang pria yang kemungkinan berumur pertengahan antara 40 dan 50 tahun. Perawakan wajahnya khas kawasan Timur Tengah atau Asia Selatan. Berkulit sawo matang dengan hiasan bulu-bulu yang menyambung antara kumis dan jenggotnya. Orangnya sangat ramah, ketika saya masuk dan menutup pintu mobil dan langsung dibuat kaget oleh sapaannya.

“Assalamualaikum…”

“Eh, wa..waalaikumsalam…”

“You’re muslim, right?”

“Yes. How did you know?” 

“Just guessing. I’m muslim too.” 

Sepanjang perjalanan, dia bertanya tujuan saya datang ke sini. Memberi informasi provider apa yang cocok, beberapa lokasi restoran cepat saji yang halal dan beberapa nama gedung yang dilalui sepanjang perjalanan. Ah, sebuah “welcome drink” bisa bertemu dengan saudara muslim di negeri orang. Sesampai di gerbang Montague Burton, dia sedikit memberi pesan agar tidak usah khawatir berada disini. Jika ada kesulitan, jangan ragu-ragu untuk menghubunginya kapan saja. Saya mengangguk.

Dua koper sudah diturunkan. Seorang petugas nampak di depan gerbang dan segera membawa bawaan saya dan menunjukan dimana kamar saya berada. Baru beberapa langkah memasuki gerbang, saya menoleh ke belakang dan menghampiri sang pengemudi untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih.

“You can eat at 9.30 pm” 

Ah, ada rasa malu ketika mendengar beliau memberi tahu kapan waktu maghrib tiba. Saya sedang tidak berpuasa.

01.00 pm

Saya menuju kampus untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasi yang tertunda karena datang terlambat sekitar dua minggu. Beberapa jawaban yang sekiranya diplomatis sudah dipersiapkan. Terbayang yang bakalan pertama kali ditanya adalah kenapa bisa datang terlambat.

Seorang wanita paruh baya menyapa saya yang sedang asyik mendengarkan lagu di ruang tunggu. Dia memperkenalkan diri, tapi saya tak pernah ingat dengan namanya. Antara Jane, Janet, Jean, atau Joan. Saya diajaknya berkeliling sekitar kampus, memberi tahu beberapa ruangan yang kemungkinan bakalan saya sering kunjungi terhitung hari Senin nanti. Selepas berkeliling, saya dipersilakan untuk kembali ke flat untuk beristirahat dan untuk urusan administrasi bisa dilakukan hari Senin nanti.

Ah, senang sekali mendengarnya. Meski dilarang untuk tidur supaya tidak tidur untuk mencegah jetlag, tapi sekedar meluruskan badan di atas kasur sungguh sulit untuk ditolak.

04.00 pm

Membuat janji dengan senior yang (bukan kebetulan) dari Indonesia untuk bertukar barang. Saya membawakan barang titipan sekaligus mengambil barang-barang warisan darinya yang bisa digunakan untuk setahun ke depan. Mendengarkan tentang gambaran suasana kampus sekaligus petuah-petuah yang terkait dengan perkuliahan nanti.

07.30 pm

Kembali ke flat dan tetap berada di flat hingga hari Sabtu dan Minggu.  Tidur.

Advertisements