9 Juli 2014. Selamat berpesta demokrasi, teman!

Bagi saya pemilihan umum bukan hanya berpartisipasi dalam menentukan nasib bangsa melalui calon pemimpin yang dipilih, tapi juga mengenang kebersamaan bersama almarhum bapak. Beliau adalah pengagum sosok presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Jauh sebelum saya mempunyai hak suara, ada sekian banyak cerita mengenai idolanya yang keluar dari mulutnya. Kemudian, ketika umur saya beranjak menjadi 17 tahun dan bisa berpartisipasi dalam urusan coblos-mencoblos di balik bilik tempat pemungutan suara, beliau bukan lagi memberi wejangan partai mana yang sebaiknya saya pilih, melainkan cenderung mendoktrin untuk menyamakan partai yang sama dengan dirinya. Rasa cintanya kepada sosok sang proklamator rupanya mengalir sampai kepada partai politik yang dipimpin langsung oleh garis keturunannya.

Dear bapak,

Hari ini sedang berlangsung pemilihan presiden. Seumpama bapak berkesempatan ikut memilih kali ini, saya sepertinya tahu pasangan capres dan cawapres mana yang bakalan dipilih. Kemudian, ketika ada kesempatan sebelum hari pemilihan, bapak akan memanggil saya dan menjabarkan kelebihan-kelebihan pilihan yang bapak pilih dan saya mendengarnya. Mungkin bapak juga sebenarya sudah tahu kalau selama ini hanya saya cuma meng-iya-kan saja, tapi pada kenyataannya paku di tangan lebih tertarik melubangi partai lain, caleg partai lain, dan calon presiden partai lain. Bukan bermaksud untuk mengabaikan arahan dan perintahmu, pak. Hanya saja pilihan kita berbeda. Maafkan anakmu ini, pak.

Politik dan turunannya adalah bukan topik favorit saya. Tapi saya akan bersedia berlama-lama jika bapak yang berbicara. Meski harus diselingi berbagai alasan untuk sekedar izin ke toilet ataupun menerima telepon, agar tak bosan. Saya ingat betul sebuah raut kekecewaan ketika pemilihan presiden dimana rakyat bisa memilih langsung, dimana yang terpilih adalah presiden yang sebentar lagi menyerahkan tahta kepemimpinannya kepada si-nomor-1 atau si-nomor-2.

Seumpama bapak belum tahu, si-nomor-1 adalah yang dulu menjadi wakil dari si ibu pada pemilu sebelumnya dan si-nomor-2 adalah bukan si ibu melainkan kadernya yang lain. Lebih muda dan menjadi buah bibir beberapa tahun belakangan. Si ibu rupanya tak berhasrat lagi menjadi seorang pemimpin selepas kepergian sang suami tercinta, dan memberikan mandatnya kepada sang penerus yang sebelumnya menjabat Walikota Solo dan sekarang Gubernur DKI Jakarta. Meskipun demikian, saya yakin bapak akan sangat bangga dengan si-nomor-2. Sama bangganya dengan banyak rakyat Indonesia yang meng-elu-elu-kan dirinya. Apalagi jika melihat tim sukses yang berdiri dibelakangnya.

-oOo-

Dan diakhir perbicangan, seperti sebelum-sebelumnya bapak akan bertanya siapa pilihan saya? Dan jika pertanyaan itu kembali dilontarkan kali ini, saya akan memulainya dengan permintaan maaf, karena pilihan kita lagi-lagi saling berseberangan. Tapi bapak tidak usah terlalu kecewa, hasil update terakhir perhitungan cepat menyatakan kalau si-nomor-2 dinyatakan unggul.

 

 

 

Advertisements