Semenjak dari yang namanya ikut ujian tertulis pertama kali, yang namanya lembar jawaban selalu berwarna putih. Pun kalau ada warna-warna lainnya, tetap saja putih yang paling dominan. Dari yang namanya memilih jawaban dengan diberi tanda silang, dilingkari hitam, ataupun essay, selalu saja kertasnya berwarna putih.

Ujian hari kedua, saya masuk ke ruang ujian agak sedikit terlambat. Mungkin sekitar 5 menit (saja). Lembar soal beserta jawaban sudah tersedia di atas meja dan kulihat peserta ujian yang lain sudah asyik menggoreskan penanya. Entah sudah mulai menuliskan jawaban atau baru sekedar mengisi identitas diri sambil menunggu tanda tangan kehadiran yang diedarkan oleh pengawas.

Setelah sekilas membaca soal dan aturan bermainnya, saya mulai mentransfer apa yang terlintas di otak sebagai jawaban menjadi bentuk kalimat pada secarik kertas ukuran folio yang terdiri dari tiga lipatan. Lipatan terakhir hanya kertas kosong tak bergaris untuk lembar coret-mencoret soal hitungan.

15 menit berlalu dan saya merasakan ada sesuatu yang sedikit gatal dan mengalir dari hidung.

INGUSAN…?!

DUH MAAF, SAYA SUDAH TERLALU BERUMUR UNTUK MASIH BISA DIBILANG SEBAGAI ANAK INGUSAN!

Menyadari alirannya semakin deras, saya keburu menyapu area hidung dan darah itu kembali mengalir lagi (baca: mimisan). Ini kali kedua bagi saya mimisan dalam waktu dekat. Sebelumnya, sekitar beberapa minggu yang lalu dan sempat memeriksakan diri ke rumah sakit dan setelah hasil tes darah keluar dan dinyatakan tidak apa-apa.

Tak mau sampai menetes di lembar jawaban, saya segera mengusapnya dengan menggunakan tissue yang kebetulan ada di tas. Dulu, sempat mempunyai pengalaman buruk terkait dengan lembar jawaban yang ternoda. Ketika masih menempuh pendidikan S1, entah semester berapa, ketika itu tanpa diberi komando tiba-tiba hidung bersin. Berhubung sedang sedikit pilek, bisa ditebaklah apa saja yang keluar dari lubang hidung dan mendarat dengan cantiknya diatas lembar jawaban. Yang menyebalkan adalah, saat itu yang digunakan adalah lembar jawaban yang diproses menggunakan komputer (LJK) yang pengisiannya dengan cara menghitamkan lingkaran yang super kecil itu. Disini, beruntunglah kalian yang memiliki nama super pendek. Kalian tidak perlu repot-repot menuliskan nama dengan lengkap lalu berlanjut dengan menggoreskan pensil 2B sesuai dengan abjad yang dituliskan. Well, saya pun meminta lembar jawaban baru kepada pengawas dan dengan konsekuensi tak ada penambahan waktu.

-oOo-

So becareful with your answer sheet! Kalau mau semacam tips mungkin beberapa hal berikut bisa dilakukan agar lembar jawaban tidak kotor :

  1. Letakan botol air minum di bawah. Jangan ditaruh di atas meja meskipun sudah serapat mungkin menutupnya. Airnya tidak tumpah, tapi suara jatuhnya bisa ganggu konsentrasi peserta yang lain. Apalagi kalau ada yang suka latah jorok.
  2. Cuci tangan sampai bersih. Apalagi kalau abis makan snack momogi, yang warnanya suka sampai luntur di tangan. Pakai sarung tangan sungguh tidak dianjurkan!
  3. Pakai masker kalau lagi pilek. Supaya tidak mengalami kejadian seperti saya.
  4. Gunakan penghapus yang bagus dari segi kualitas. Ada lho penghapus yang justru bikin kotor.
  5. Kalau pakai pulpen, pastikan tintanya yang cepat kering. Jangan yang bleber-an.
  6. Karena tidak mau lembar jawaban kotor, terus tidak menulis apa-apa di lembar jawaban. Ngapain lo ikut ujian?
  7. Seumpama kotor, jangan malu untuk minta lembar jawaban yang baru. Nggak usah inisiatif untuk bawa ke laundry terdekat.
(pic source : http://txstateu.wordpress.com)

 

Advertisements