Reaksi kebanyakan mahasiswa yang akan menghadapi ujian mata kuliah yang didalamnya banyak terdapat proses perhitungan matematika, akan belajar banting tulang, putar otak, hingga mengorbankan jam tidur untuk begadang supaya lebih lancar dalam mengerjakan soal ujian. Saya termasuk satu diantaranya.

Well, mengorbankan jam tidur adalah bukan kali pertama untuk saya demi alasan yang berkaitan dengan perkuliahan. Hanya tidur satu atau dua jam bahkan hingga tak terpejam sama sekali selama seharian. Malam kemarin, saya melakukan berbagai macam gaya belajar demi memahami soal ujian hari ini dengan mengerjakan soal tahun kemarin. Dari gaya konvensional -menggunakan meja belajar, hingga menggelepar di lantai hingga terdengar adzan subuh berkumandang.

Sejatinya, bahwa proses perhitungan matematika juga didahului oleh sebuah teori ataupun penjelasan kenapa. Entah tipikal kebanyakan mahasiswa, atau sayanya saja yang bebal. Konsentrasi apa yang dipelajari hanya berpusat pada langkah-langkah matematis ketimbang membaca apa maksudnya. Kebetulan, pada semester sebelumnya, dosen yang sama memberikan soal dengan banyak pertanyaan yang meminta penyelesaian dengan simbol-simbol yang biasa ditemui pada papan ketik kalkulator scientific.

-oOo-

Mata saya masih mengantuk. Sangat mengantuk! Tapi tidak mungkin melewatkan ujian hanya karena alasan sedemikian sepele. Lah, yang sakit saja nge-bela-bela-in untuk tetap masuk dan mengikuti ujian meskipun kondisi badan sedang tidak memungkinkan. Ini kok pakai alasan mengantuk.

Tepat jam sembilan pagi dan soal dibagikan. Hanya ekspresi takjub yang bisa saya lakukan seraya berujar, “ANJRIT!”

Soalnya kelewat susah? Hmmm, bisa jadi. Tapi kali ini definisi susah sedikit bergeser. Bukan karena tak bisa menerjemahkan formula yang akan digunakan tapi lebih parahnya, soal hari ini lebih bermuatan teori yang pada proses belajar pada malam-malam sebelumnya tak pernah tersentuh. Padahal, yang ditanyakan adalah sekedar pengertian!

Nanti, ketika dosen memeriksa lembar jawaban mungkin beliau menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut. Duh, padahal diberi soal yang jika dengan membaca sekilas sudah bisa menjawab mendekati benar. Ini kok melenceng dan cenderung menjauhi jawaban yang seharusnya. Ibarat perang, dengan persiapan yang sedemikian rupa, saya adalah sosok prajurit yang berada di garis depan medan pertempuran tapi mendadak tewas karena tersandung kaki sesama prajurit. Fatal! Saya membawa senjata dengan ukuran besar, dengan membayangkan sosok musuh adalah serupa dengan Godzilla, padahal kenyataannya hanya seorang Suneo -anak manja yang hobi pamer di serial kartun Doraemon. Atau bisa juga saya seperti orang yang salah kostum, datang ke pesta pernikahan tapi menggunakan pakaian pantai, yang kemudian diusir oleh satpam.

-oOo-

Bahwasanya, sebelum bisa berjalan maka bayi akan merangkak terlebih dahulu kemudian merambat dan dituntun. Inilah yang saya lupakan terkait dengan soal ujian hari ini. Lebih memilih untuk berlari kencang dan melupakan ada yang juga harus dipersiapkan di garis start, yang kemudian diabaikan. Perhitungan yang rumit itu juga bermula dari proses sederhana penjumlahan dan pengurangan, dan ada baiknya untuk kembali membaca maksud dan tujuan sebelum berlanjut pada kesimpulan.

Dan jika sang dosen benar menggelengkan kepala dan tersenyum kecut terhadap jawaban saya, maka tulisan ini adalah penjelasannya.

(Pic source : http://www.gazettelive.co.uk/)
(Pic source : http://www.gazettelive.co.uk/)
Advertisements