Dear Jogja, kota yang hampir setahun ini saya tinggali.

Tidak pernah mengira kalau waktu berjalan demikian cepatnya. Mungkin, tak sampai akhir bulan ini saya bakalan keluar dari sini dan berpindah di tempat yang baru. Itulah kenapa saya membiarkan kondisi kamar saya (hancur) berantakan. Sebenarnya, ada perasaan risih dan memanggil jiwa asisten rumah tangga yang terbenam untuk sekedar merapikan. Tapi saya memilih bertahan dengan rasa malas.

Beberapa peristiwa lucu, sedih, bahkan sampai yang menggores luka di hati pernah terjadi dalam rentang waktu hampir setahun ini. Tak akan pernah saya melupakan kejadian di minggu-minggu awal, ketika seorang bapak tua memberi nasehat gegara tidak bisa berbahasa jawa saat diajak ngobrol. Padahal nama pemberian orangtua, Jawa banget. Wahai para leluhur tanah Jawa, ketahuilah di tahun 2014 ini ada keturunanmu yang meminta maaf melalui tulisan ini karena gagal menjadi seorang Jawa seutuhnya karena permasalahan bahasa.

Permintaan maaf juga dihaturkan kepada bapak dan ibu kost jikalau saya pamit nanti dan lupa mengatakannya. Lemari yang ada di kamar mendadak somplak dan susah untuk tertutup sempurna. Kala itu saya sedang emosi tinggi dan butuh pelampiasan sehingga terpaksa menjadi objek sasaran untuk ditendang.  Oh iya, perihal peraturan dilarang mencuci terpaksa saya langgar dan sepertinya bapak dan ibu kost sudah mengetahuinya. Berat bagi saya apabila pakaian dalam harus dicuci di laundry.

Datang dengan status tanpa pasangan menjadi tantangan dengan populasi mahasiswi yang cukup tinggi disini. Haha, beruntunglah yang pernah merasakan jatuh cinta dengan wanita Jogja yang kental akan kultur Jawanya. Makan malam (formal) dengan dia tak semudah yang dikira. Pernah beberapa kali kena tegur, karena dianggap kurang sopan. Saya, yang biasa tergesa-gesa mendadak harus mengerem laju sendok yang masuk ke mulut. Sempat berpikir kalau keburu diusir oleh empunya restoran kalau makan dengan cara begini. Bukan cuma dengan wanita asli Jogja yang bakalan ditemui. Banyak pula yang mahasiswa pirang khas Eropa, keriting Afrika, mancung Timur Tengah, atau pun mak cik dan pak cik negara tetangga.

Dear Jogja, kota istimewa.

Terima kasih untuk malam-malam yang berkesan.  Menyusuri jalan dengan berjalan kaki dari alun-alun selatan menembus malioboro dan mencari persewaan mobil tengah malam. Meski segala bujuk rayu dilancarkan tapi pemilik persewaan tetap tak bergeming, hingga akhirnya berlanjut berfoto ria di Tugu Nol Kilometer dan terdampar di Dunkin’ Donuts hingga adzan subuh berkumandang. Ini maksudnya, berjalan-jalan di Jogja meski larut malam bisa dikatakan relatif aman.

Meski tidak terlalu suka dengan makananmu yang manis, percayalah tidak ada rasa sesal di tiap kunyahan gudeg yang meluncur melalui kerongkongan. Sekali saya kaget dibuat karena gudeg yang menggunakan ayam kampung harganya cukup mahal. Oh iya, di kota ini saya akhirnya merasakan antrian luar biasa melelahkan untuk bisa bersantap di Sushi-Tei. Ah, tapi itu tak seberapa dibandingkan jika pesanan makanan yang tak kunjung datang saat makan ala-ala lesehan. Juga untuk kedai-kedai kopi dan cangkir-cangkir istimewanya, karena menjadi pelarian ketika rasa kantuk tak kunjung datang.

Dear Jogja dan matahari siangnya.

Panasmu menyengat seperi Jakarta. Tapi tak apa karena ada abang penjual rujak es krim yang menghapus peluh keringat. Beberapa kali ibu di rumah dibuat pangling karena kulit anaknya mendadak menghitam. Entah ini harus berterima kasih atau tidak, tapi bisa merasakan peristiwa hujan abu dari Gunung Kelud sungguhlah pengalaman berharga.

Pagi dan sorenya, sulit untuk melupakan GSP dan Sunmor  sebagai tempat yang sering saya sambangi untuk sekedar berlari. Menyaksikan pasangan muda-mudi, entah yang sedang dimabuk asmara ataupun mengakhiri perjalanan cintanya, adalah semacam hiburan yang membuat lari menjadi cukup menyenangkan.

-oOo-

Dear Jogja, harusnya tulisan ini (jauh) lebih panjang lagi. Sepanjang jalan RingRoad Utara, Barat, Timur, dan Selatan seumpama disambungkan. Meski hanya hampir setahun disini dan itu sekitar se-per-lima dari usia yang sekarang, sulit untuk mengesampingkan bahwa saya sudah menciptakan telaga kenangan saya sendiri tentang kota ini. Bawa saya kembali kesini, entah sendiri atau bersama anak istri. Entah itu sekedar plesiran, pekerjaan, atau pendidikan.

TuguNolKilometer

Advertisements