“Kapan kawin?”

“Masih jomblo aja!”

“Cari pacar, gih! Gak bosen apa sendirian melulu!”

Dulu sih sempat jengah dengan lontaran pertanyaan macam tersebut, tapi seiring berjalannya waktu dan pengalaman untuk makan manis, asam dan asinnya kehidupan terus bertambah kayanya telinga ini sudah cukup kebal menerimanya. Apalagi sampai kepikiran dan kemudian sakit hati. Duh!

Ada beberapa masa ketika pertanyaan itu kembali bergema, saya benar-benar jomblo alias tanpa pasangan. Tapi, beberapa bulan terakhir dan kembali mendapati soal serupa, entah kenapa saya lebih memilih diam tak bergeming. Padahal sudah ada seseorang yang bisa di-proklamasi-kan sebagai pacar. Meskipun pada Minggu malam kemarin (25/5/2014), hubungan itu kandas. Persoalan yang sekarang tiba-tiba melintas di otak bukanlah soal status sekarang tapi cerita berikut.

-oOo-

Beberapa minggu sebelum (hubungan berakhir -red), sebuah SMS meluncur ke ponsel saya.

“Bro, tadi gw kaya liat lo di Prambanan. Yang sama lo siapa, pacar? Kagak pernah dikenalin!”

Jujur, saya bukan tipe orang yang suka berbalas SMS. Termasuk ketika masih menjadi primadona dan whatsapp dan BBM belum terlahir ke dunia digital dan menggerus pendapatan operator dari layanan berkirim pesan. SMS itu saya abaikan dan melanjutkan kencan saya di Candi Prambanan bersama dia dan terik matahari.

Hubungan kami terbentang jarak antara Stasiun Gambir dan Stasiun Yogyakarta Tugu. Sederhananya, kami menjalin hubungan jarak jauh. Aslinya, dia adalah orang asli Kota Gudeg tapi kemudian merantau karena pekerjaan dan saya disini karena meneruskan pendidikan.

Kencan di Candi Prambanan yang disebutkan diatas adalah peristiwa langka terkait dengan jalinan asmara saya dengannya. Lebih sering bertemu di sebuah restoran dan menyantap potongan daging sembari berbicara mengenai topik apa yang sedang hangat di negeri tercinta. Saya ataupun dia sama-sama belum pernah diperkenalkan ke keluarga masing-masing. Terkecuali kepada sepupunya, itupun ketika tidak sengaja bertemu di tempat yang sama. Mungkin kita sama-sama berpikir positif, bahwa akan ada waktu yang tepat ketika saya ataupun dia berdiri di depan pintu rumah, kemudian ada sosok orangtua yang menggamit tangan kita. Mempersilakan masuk dengan senyum terbuka.

Ya, moment inilah yang luput dari kebersamaan kami. Saling memperkenalkan, setidaknya kepada teman terdekat. Tadi, sempat secara tidak sengaja mendengar seorang gadis belia umur belasan di depan temannya yang dengan berapi-apinya mengatakan pentingnya status pacaran untuk dibawa “go-public”. Sampai disini, saya tertohok. Adapun kandasnya hubungan ini tak ada sangkut pautnya dengan hal tersebut.

-oOo-

Saya merogoh ponsel dan menyusuri folder inbox dan mencari SMS teman yang mendapati saya di Candi Prambanan kala itu.

“Sorry bro, baru bales. Iya, waktu itu dia pacar gw, tapi sekarang dah putus. Minta doanya supaya bisa rujuk lagi.”

(Pic source : www.hdwallpaperpc.com)
(Pic source : http://www.hdwallpaperpc.com)
Advertisements