Berbulan-bulan memendam rasa deg-deg-an rasanya sungguh menyiksa. Hampir setiap malam, berharap kepada Tuhan untuk bisa merubah keadaan yang sejatinya apapun hasilnya adalah buah dari kerja saya. Ini bukan perihal mengenai asmara dan sejenisnya. Jika kau berpikir demikian, ada baiknya segera tutup halaman ini!

Deg-deg-an adalah kondisi dimana detak jatung mendadak bertambah kecepatannya yang diiringi dengan setetes, dua tetes keringat yang mengucur padahal tidak sedang lari pagi. Ditambah dengan rasa gelisah yang terkadang terlarut dalam bentuk mimpi buruk. Untungnya, apa yang terjadi dalam mimpi tidak bertranformasi menjadi semacam mengigau.

-oOo-

Kali pertama kenal dengan yang membuat deg-deg-an itu ketika selepas ujian tengah semester untuk mata kuliah “transport economics”, beberapa bulan yang lalu. Saat itu, saya merasa gagal, seperti halnya wakil Puteri Indonesia di ajang pemilihan Miss Universe. Sesaat setelah menerima lembar soal, apa yang seharusnya saya tulis di lembar jawaban mendadak tak berwujud. Seperti hilang sinkronisasi antara otak dan tangan kanan. Tak mungkin saya menyerahkan lembar jawaban hanya bertuliskan nama saja dan mungkin sedikit tetesan airmata yang membekas. Seingat saya, ada lima soal yang masing-masingnya beranak pinak menjadi ada pertanyaan a, b, c, d, dan e. Jadi sebenarnya ada duapuluh lima soal! 

Soal pertama, kedua, dan ketiga saya lewatkan terlebih dahulu. Sesuai perintah soal, kerjakan soal yang dianggap mudah terlebih dahulu. Mulailah saya menggoreskan pena untuk soal nomor empat dan berlanjut ke nomor lima. Sebisa mungkin mengotak-atik, mencorat-coret rumus tapi kedua soal itu tak berhasil saya selesaikan. Lalu bagaimana dengan tiga soal sebelumnya? Begitulah, kutinggalkan beberapa coretan sebagai formalitas sembari berharap semoga kiranya sedikit usaha saya itu dihargai dengan sedikit pula.

Waktu ujian selesai dan kusodorkan lembar jawaban dan bersama setumpuk rasa malu didalamnya.

Keluar ruang ujian, kupanggul beban dalam bentuk deg-deg-an itu sembari membayangkan nilai yang bakalan tertera nanti. Seumpama di sinetron, mungkin saya tiba-tiba digambarkan sebagai anak rantau yang membayangkan perasaan orangtua yang kecewa terhadap anaknya. Meski mereka bilang tidak apa karena saya sudah berusaha, tapi tentu saja airmata dan getir suaranya menggambarkan luka hatinya.

Kutanya beberapa teman yang kebetulan lulusan universitas yang sama, bagaimana mekanisme pemberian nilai disini? Berapa besar prosentase antara nilai UTS dan UAS? Berharap jika porsi UAS lebih besar, tapi faktanya perbandingannya adalah 50:50, maka saya harus berjuang keras pada ujian berikutnya dan berharap (berkesempatan) bisa menutupi kebodohan dimaksud. Mata kuliah berlanjut dengan pengajar yang berbeda. Ketika niat untuk merubah keadaan sedang membara, ternyata dosennya sangat tak terkira kesibukannya. Jadual perkuliahan mendadak berubah dari yang seharusnya. Duh, sambil berharap ini bukanlah sebuah pertanda yang tidak-tidak.

Hari persidangan tiba! UAS untuk mata kuliah yang sama pun muncul ke permukaan. Bermodalkan belajar mati-matian, semoga kali ini tak terulang kejadian kemarin. Sebelum membuka lembar soal, sebisa mungkin kuhapus bayang-bayang kegagalan pada ujian sebelumnya, meskipun deg-deg-an itu semakin memberikan sensasi yang luar biasa menyiksa. Kali ini ada dua soal, tapi tetap beranak-pinak. Meskipun diburu waktu, tak ingin kali ini saya menjawab dengan tergesa-gesa. Meski pikiran sedang kalut dan mendung, semoga masih ada cahaya yang menyembul dan menerangi tangan saya untuk menulis dengan jawaban yang benar. Singkat cerita, saya menjawab keseluruhan soal meskipun tidak yakin 100% benar tapi jauh lebih bagus ketimbang ujian sebelumnya.

Selepas ujian akhir dan menyongsong liburan semester, deg-deg-an itu masih menghantui. Bahkan ketika sedang berlibur menyusuri timur Jawa, ada saja dia tiba-tiba muncul dan mengacaukan pikiran. Lagi, manusia ketika sedang kalut mendadak menjadi  ingat dengan Tuhan. Astagfirullah.

-oOo-

Semester kedua berjalan mulai tanggal 10 Februari kemarin. Liburan panjang tak menjamin kesenangan dan itu yang saya rasakan. Memikirkan huruf apa yang bakalan tercetak nanti untuk mata kuliah “transport economics” terkadang membuat saya berteriak tak jelas. Hari demi hari, pertanyaan tersebut semakin membuncah. Ada rasa takut tapi bagaimanapun tetap harus dihadapi.

Senin kemarin, hasil keputusan pun keluar. Rasa deg-deg-an sedang mencapai klimaks-nya. Antara ingin tahu dan tidak sama besarnya, apalagi sudah berhembus desas-desus oleh rekan yang lainnya. Kuusap dada dan degup jantungnya tak bisa lagi tergambar, semakin cepat dan tidak beraturan. Ibarat lukisan, abstrak! Untunglah dada saya tidak sebesar dada milik Jupe. Bisa jadi berguncang-guncang nantinya.

Baiklah, ketimbang tahu dari orang lain, ada baiknya jika saya tahu dengan mata kepala sendiri dan hasilnya ternyata bisa mengusir rasa deg-deg-an yang berbulan ini mencengkram jiwa.

Alhamdulillah dapat B.
Alhamdulillah dapat B.

-oOo-

Saya percaya dengan yang namanya kesempatan kedua. Hanya saja, tak tahu kapan datangnya dan bagaimana ke-ber-pihak-an-nya. Akankah sesuai dengan keinginan atau malah sebaliknya. Ketimbang nanti menanggung beban deg-deg-an, ada baiknya untuk meninjau apa yang salah dengan cara belajar saya.

Selamat bagi kalian yang mendapat nilai sempurna.

Advertisements