Jalanan yang Tertutup oleh Abu Vulkanik
Jalanan yang Tertutup oleh Abu Vulkanik

Dua malam berlalu sejak meletusnya Gunung Kelud. Selama dua hari itu pula, praktis saya mendekam di kamar kost. Pun kalau terpaksa keluar hanya dalam radius yang cukup dekat, sekitar 100 meter. Ya, untung saja ada sebuah tempat makan yang lokasinya berdekatan. Jarak sedekat itu pun bukan tanpa perjuangan! Memakai masker, topi, hingga jaket meskipun di-tengah-siang-bolong dengan posisi matahari baru condong sedikit dari tegak lurusnya. Panas? Tak usah ditanya!

Yogyakarta adalah wilayah yang termasuk cukup parah terkena dampak letusan Gunung Kelud. Padahal ada lebih dari 200 kilometer jarak yang memisahkan. Lihat saja bandaranya, harus ditutup hingga tanggal 18. Dari pemberitaan pun, bahwa ada abu yang juga sampai ke negeri sangkuriang. Seakan ingin berbagi dengan seluruh daratan Jawa.

Kali ini, saya berharap awan hitam menaungi negeri keraton ini. Terkesan negatif memang, hanya saja hujan adalah memang jawaban untuk tumpukan abu yang menumpuk dan berserakan. Apalagi angin, gemar sekali ia menghembuskan abu yang menghinggap di daun dan ranting pepohonan serta atap-atap perumahan. Berterbangan, liar, dan bebas!

Adapun konsekuensinya adalah jarak pandang yang semakin berkurang. Kumpulan abu yang melayang seakan membentuk sebuah gugusan yang siap menghadang apapun yang datang. Sekali kau diterpanya, niscaya mata akan merana. Tak peduli dengan berapa lapis masker yang kau ikatkan, kering dan pahitnya merasuk hingga ke tenggorokan. Rambut indah yang kau banggakan, sirna sudah. Dengan cepat akan berubah kusut laksana sapu ijuk.

Kau bisa saja bersembunyi dari balik kemudi mobil. Sergapan debu sulit menembus kaca hitam yang dijadikan perisai. Panas dan keringnya pun bisa hilang oleh hembusan angin dingin yang dinyalakan di dalam sana. Tapi, ketika pedal gas terinjak dan mobil melaju, tidakkah kau tengok apa yang ditinggalkan? Deru mesin serta putaran roda mobil justru membangkitkan debu yang sedianya sudah merapat ke bumi. Karena seketika ia seperti terbangun dari tidur dan kembali berhamburan.

-oOo-

Dari depan teras kost, sekali saya melihat sebuah sedan melaju dan tak kupedulikan siapa pengemudinya. Kupandangi hingga bagian belakangnya menghilang. Sembari berlindung dan menutup hidung, tak bisa kujaga mulutku untuk mengumpat.

“MOBIL SIALAN…!!!”

Advertisements