Pantai Tanjung Papuma menjadi destinasi kami di Jawa Timur. Waktu kali pertama tempat ini untuk dikunjungi, tak ada bayangan bakalan seperti apa rupa dan kisah yang beredar mengenai pantai ini. Sekedar googl-ing pun rasanya sangat malas. Tampaknya nama besar Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen lebih menghipnotis saya dan mungkin teman saya yang lainnya. Hanya ada satu yang kebetulan pernah kesini dan tentu saja yang merekomendasikan karena ia lahir, besar, dan tumbuh di Jember.

-oOo-

Mendadak kami menjadi sosok pendiam selepas dari Kawah Ijen. Ke-ria-an hanya muncul sesaat di mobil sepanjang perjalanan, pecah lalu kembali menjadi sunyi. Bukan, kami tidak sedang “ke-sam-bet”. Hanya saja, energi kami terkuras hampir habis demi mengeksplorasi pesona api biru dan keindahan sekitarnya yang tersembunyi dibalik selimut kabut. Pantai Sukamade yang diniatkan untuk dikunjungi pun terpaksa dicoret dan kami kembali ke Jember.

Di Jember, di rumah salah satu dari kami, tak ada pikiran lain selain untuk merebahkan diri lalu tertidur dan berharap terbangun dengan kondisi seperti ponsel yang selesai di-charge. Hanya saja, tubuh manusia tidak ada yang dikondisikan untuk 100% kembali pulih hanya dalam hitungan jam, mungkin hanya atlet-atlet profesional dan berpengalaman yang bisa. Saya, yang semenjak menuruni Kawah Ijen mendapati cedera pada kaki kiri dan tidak bisa berjalan sebagaimana model diatas catwalk. Teman yang lain, mendadak suaranya menjadi pelan dan bindeng karena tenggorokannya sakit. Ada pula yang menjadi sering bolak-balik ke toilet karena pencernaan menjadi bermasalah.

Selain pengalaman yang menghunus bola mata dengan keindahannya, Kawah Ijen juga memberikan kami kenangan “sakit” yang tak terlupakan.

-oOo-

Kami berangkat menuju Pantai Tanjung Papuma saat waktu hampir memasuki jam makan siang. Masih dengan sedikit gairah. Perjalanan dari rumah rekan kami tidak terlampau lama, kurang lebih 45 menit dan kami mendaratkan kaki di pantai dimaksud. Tapi, sebelum benar-benar memasuki gerbang tempat membayar tiket masuk, deretan pohon jati serta jenis pohon yang biasa ditanam di perkebuhan serta hamparan sawah sungguh menggoda untuk diabadikan. Sayang, kami tidak turun.

Saat itu, kondisi pantai tidak terlalu ramai. Ramai pun tidak, karena lebih cocok dibilang sepi. Kebetulan, mobil dibolehkan masuk hingga ke area pantai dan disediakan jalur yang memang hanya cocok dilalui oleh satu mobil sehingga hanya boleh satu arah. Di dalam, sudah dibangun beberapa fasilitas pendukung seperti penginapan dan beberapa saung untuk beristirahat, hanya saja pengelolaannya kurang baik.

Pantai Tanjung Papuma sendiri memiliki garis pantai yang panjang dan itu tidak lurus sehingga secara garis besar ada dua pantai disini. Pantai Watu Ulo memiliki pasir berwarna hitam sedangkan Pantai Papuma memiliki pasir berwarna putih dan juga sedikit lebih rimbun karena ada rimbunan pepohonan.

-oOo-

Foto kebanyakan diambil dari jarak jauh. Kaki saya masih berasa cederanya, jadi malas untuk menuruni bukit yang ada di Pantai Tanjung Papuma.

Advertisements