Secara geografis, Kawasan Wisata Kawah Ijen atau Cagar Alam Taman Wisata Ijen terletak di dua wilayah administratif yakni Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. Kawah Ijen yang menjadi objek wisata utama itu sendiri terletak di puncak Gunung Ijen yang termasuk dalam ring of fire di propinsi Jawa Timur, bersama Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Merapi. Kawah Ijen berada di ketinggian sekitar 2.368 dpl dan merupakan kawah dengan tingkat keasaman tinggi dengan pH hampir mendekati 0. Dengan kata lain, mampu melarutkan tubuh manusia dengan cepat! (wikiindonesia.org)

-oOo-

Manusia berencana, Tuhan menentukan.

Kami terpaksa membatalkan niat untuk bermalam di Taman Nasional Baluran. Padahal, segala persiapan mulai dari tenda hingga logistik sudah dipersiapkan. Awalnya, menyewa penginapan adalah prioritas utama kami ketika berkunjung kesini. Hanya saja, ketika dikonfirmasi kondisi penginapa tidak bisa ditempati karena sedang direnovasi. Secara pribadi, saya tidak begitu bermasalah jika harus tidur dalam tenda, meski ada rasa was-was bin khawatir juga karena katanya sempat melintas harimau Jawa. Tapi, mungkin karena demi keselamatan dan kesenangan bersama, akhirnya rencana dibatalkan dan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke titik berikutnya, Kawah Ijen.

Belum jam 9 pagi kami meninggalkan Taman Nasional Baluran dan mendapati begitu banyak bus pariwisata yang terparkir di pintu masuk, merasa bersyukur karena bisa menikmati Taman Nasional Baluran ketika masih hening dan sepi. Bermodalkan peta serta GPS ternyata tidaklah cukup bagi kami petualang pemula untuk menuju Kawah Ijen. Mata dipasang untuk selalu awas dan waspada terhadap papan penunjuk arah.

Setengah perjalanan, kami memutuskan untuk berhenti sejenak demi mengisi perut yang keroncongan karena belum sarapan dan sekedar untuk membasuh diri. Mengambil jalur yang sama ke Dermaga Ketapang, kami mampir ke sebuah restoran seafood yang sebenarnya ragu untuk dimasuki karena tak ada pengunjungnya. Lalu baru disadari ketika meninggalkan restoran, wajar saja jika tadi terlihat sepi pengunjung, karena ternyata masih jauh dari waktu makan siang. Rumus pertama jika mencari tempat makan yang enak, pastikan banyak pengunjungnya.

Tempat makan yang dipilih langsung menghadap laut dan dari kejauhan bisa terlihat aktifitas kapal penyeberangan yang bertolak dari Pulau Jawa menuju Pulau Bali dan sebaliknya. Dari tempat kami berenam memilih kursi dan meja pun sudah tampak Pulau Bali dari kejauhan. Terlintas ide bagaimana jika selepas Kawah Ijen lalu menyeberang ke seberang? Beberapa meng-iya-kan, beberapa lagi terdiam, terkesan bimbang.

Bali is in behind
Bali is in behind
Bon Appétit
Bon Appétit

-oOo-

Berdoa sebelum perjalanan adalah keharusan, terlebih jika menuju Kawah Ijen. Medan jalan yang dilalui sungguh sangat berat. Jalan yang berliku-liku serta licin karena sedang musim penghujan. Jangan membayangkan seperti jalan di kawasan Puncak, Bogor. Meskipun juga perbukitan, tapi jalannya lebih landai dan cukup panjang. Sedangkan menuju Kawah Ijen, jalan mendakinya sangatlah curam dan tidak terlalu panjang di setiap kelokannya. Ya, jalannya tidak seperti di jalur Bogor menuju Puncak tapi setara jika dibandingkan dengan Kelok 44 di Sumatera Barat. Dari sini saya berniat akan mengasah kemampuan untuk mengendarai mobil jenis manual.

Sempatkanlah melongok ke luar jendela untuk menikmati hutan serta perkebunan yang diselimuti kabut. Seperti bukan berada di daerah tropis. Udara sejuknya tak kuasa untuk ditolak sehingga mematikan air conditioner kendaraan adalah suatu keharusan. Deretan pohon cokelat yang sesekali terselip tanaman edelweiss diantara rumput ilalang yang semakin keatas berganti dengan pohon pinus yang berjajar diantara dua tebing yang terbelah oleh jalan. Belum sampai ke Kawah Ijen saja, alam sudah membuat kami terpesona.

Sesampai di pos akhir, Paltuding, yang merupakan pemberhentian terakhir untuk kendaraan yang selanjutnya untuk mencapai Kawah Ijen ditempuh dengan pendakian, kabut tebal menyapa. Rasa dinginnya langsung memeluk erat tubuh-tubuh manusia yang ada. Suhu rata-rata sekitar 10 derajat celcius dan untuk terendahnya bisa mencapai 2 derajat celcius. Bring out your winter collection!

Red Riding Hood is Real!
Disney’s Red Riding Hood is Real!

-oOo-

Kami harus menunggu pertengahan malam untuk melakukan pendakian demi bisa menyaksikan api biru di dasar Kawah Ijen. Beruntunglah, kami bisa mendapatkan penginapan, meskipun sederhana dan ala kadarnya. Ketimbang harus membentangkan tenda. Malam disini sungguhlah hening, minim pencahayaan dan tentu saja dengan dingin yang semakin menikam kulit dan tulang. Menikmati bakso ataupun nasi goreng yang baru saja dimasak tak begitu terasa panasnya, seakan-akan dingin sudah melumpuhkan keseluruhan panca indera. Cobalah untuk merasakan airnya, niscaya dinginnya sulit untuk dilupakan.

Untuk melakukan pendakian nanti, kami ditemani oleh seorang guide. Sekedar untuk membuat lebih tenang dan nyaman adalah tidak ada salahnya bagi kami para yang masih pemula. Meskipun nanti pada tengah malam, akan ada banyak yang melakukan perjalanan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai pendakian, diantaranya :

  1. Pastikan outfit pelindung tubuh dari dingin seperti jaket, sarung tangan, syal, ataupun topi kupluk melekat di badan;
  2. Senter ataupun jenis alat penerangan yang portable juga harus dibawa karena itulah sumber penerangan yang akan membawa sampai ke puncak sampai sinar matahari menerangi jalan;
  3. Sepatu, setidaknya yang alasnya tidak licin;
  4. Air mineral (secukupnya), apalagi bagi yang merasa mudah kelelahan, (ps : buang sampahnya jangan SEMBARANGAN!);
  5. Mantel hujan. Entah, selama pendakian sulit untuk membedakan antara hujan atau tetesan embun. Sama derasnya! Payung? That’s not a good idea;
  6. Masker.

Butuh kurang lebih sekitar tiga jam bagi kami untuk bisa sampai ke puncak. Beberapa kali menepi sekedar untuk mengistirahatkan kaki dan meneguk air. Benarlah kata pepatah jika semakin tinggi pohon, maka semakin tinggi anginnya dan itulah yang dirasakan ketika sudah sampai di ketingginan maksimal dari Gunung Ijen. Matahari belum terbit benar, tetapi perlahan langit mulai memudar gelapnya. Pertanda siang segera datang dan kesempatan untuk menyaksikan api biru dari dasar Kawah Ijen menipis.

Waktu terbaik untuk bisa melihat api biru memang sebelum matahari terbit. Itu artinya, pendakian dilakukan dari tengah malam dan bergantung pula kepada kecepatan kita untuk bisa sampai diatas. Saat itu, kami sampai diatas sekitar pukul lima pagi dan dari kejauhan pesona geliat api biru masih terlihat dari kejauhan. Sementara kami, para kaum adam, memutuskan untuk turun ke dasar kawah, para kaum hawa memilih untuk tetap berada diatas. Oleh guide kami memang disarankan agar para wanita untuk tidak ikut turun karena medan menuju dasar kawah cukup berbahaya. Tumpukan bebatuan sisa penambangan disusun sedemikian rupa dengan lebar seadanya serta permukaan yang tidak rata menjadi pijakan kaki. Oleng sedikit, niscaya fatal akibatnya. Sebenarnya saat berada diatas, ada papan larangan bagi pengunjung untuk turun mendekati dasar kawah tapi entahlah bagaimana pengawasannya. Saya memutuskan untuk turun karena memang ingin melihat api biru lebih dekat tetapi juga ada sedikit kekhawatiran yang tertutupi karena ditemani oleh guide.

Api Biru Dari Kejauhan
Api Biru Dari Kejauhan

Hal menantang ketika turun menuju dasar kawah adalah berpapasan dengan para penambang yang membawa hasil tambang berupa belerang. Dengan lebar yang sempit, mereka harus diprioritaskan untuk mendapatkan lajur, maka kita harus menyingkir dengan menepi ke sisi yang dikira aman. Bau belerang semakin menusuk hidung dan asapnya mengusik mata untuk berair. Pastikan membawa air mineral, sekiranya bisa untuk membasuh mata jika terasa perih. 

Api biru di dasar Kawah Ijen sungguhlah mempesona. Kobaran serta alirannya bersama lava yang mengalir seperti menghipnotis mata. Satu hal yang cukup disesali karena kamera yang dibawa tidak mampu mengabadikannya secara maksimal. Untuk gambar Kawah Ijen yang lebih menakjubkan bisa dilihat disini.

Api Biru
Api Biru [1]
Api Biru
Api Biru [2]
-oOo-

Selepas api biru memudar cahayanya akibat sinar matahari. Maka, waktu yang tepat menikmati puncak Gunung Ijen yang berselimutkan awan, kabut serta hembusan angin dinginnya. Danau yang karena gelap tak terlihat, perlahan memulai pesonanya. Berwarnakan hijau toska serta sedikit efek asap penghabisan api biru. Berdindingkan tebing-tebing dingin yang guratnya yang tegas membuatnya semakin eksotis.

Danau Kawah Ijen
Danau Kawah Ijen
Gunung Ijen
Gunung Ijen

Sekembalinya di puncak adalah waktunya moment of fun! Yup, apalagi kalau bukan menjadi ajang foto-memfoto. Tidak cuma kami berenam kok, wisatawan asing yang pun banyak yang melakukan. Mulai dari minta bantuan orang lain untuk difoto sampai yang selfie. Sayang, keberadaan tongsis disana belum terdeteksi.

Say cheese... :)
Say cheese… 🙂 [1]
Our Guide
Our Guide

Sekalipun  menyusuri jalan turun untuk kembali ke penginapan, pemandangan yang disajikan pun tak sesekali membuat bosan. Sembari tangan tetap mengabadikan melalui kamera, sahut-sahut terdengar para penambang belerang teriak bersahutan dalam bahasa Jawa yang terbalut dalam logat (agak) Madura, saling bercengkerama.

Negeri diatas Awan
Negeri diatas Awan

Negeri diatas Awan [2]
Negeri diatas Awan [2]
Take a Picture While Back Down
Say cheese… 🙂 [2]
-oOo-

Sejatinya, ijen memiliki arti sepi atau sendiri dalam bahasa Jawa. Entahlah mengapa disebut demikian, tapi yang pasti Ijen bagi saya adalah kepingan surga dibalik kabut di timur Jawa. Dinginnya akan merasuki persendian tulang-tulang mereka yang pernah kesana yang kelak semoga bisa kembali lagi atau setidaknya selalu mengingatnya untuk bisa diceritakan kepada orang tercinta.

Advertisements