Taman Nasional Baluran (Baluran National Park) berlokasi di Kab. Situbondo, Jawa Timur. Luas total taman nasional ini adalah sekitar 25.000 Ha yang peruntukkannya terbagi menjadi beberapa zona.  Taman nasional ini bisa dibilang paket lengkap karena menyajikan hamparan savana, rimbunan hutan, mangrove, gunung, pantai, dan tentu saja eksotisme hewan yang menempatinya. Sedari awal, Taman Nasional Baluran memang direncanakan menjadi destinasi pertama selepas meninggalkan Jogja.

-oOo-

Tengah malam di salah satu sudut rumah di Jember, enam orang terpilih (baca : kami) berangkat menuju Taman Nasional Baluran menggunakan mobil. Medan yang dilalui, saya tidak tahu persis, karena tak lama setelah mobil melaju mata saya terpejam. Beberapa hal yang saya ingat, mobil kami terpaksa mencari rute lain dikarenakan adanya ruas jalan yang ditutup karena sedang dalam perbaikan dan rute alternatif yang saat itu diambil adalah berkat kemajuan teknologi bernama GPS. Meskipun tidak berjalan sempurna 100% karena kondisi sinyal yang timbul dan tenggelam, bahkan ponsel harus terpaksa dijulurkan keluar jendela. Untung saja ini bukan Jakarta, tak perlu khawatir kalau tiba-tiba ada penjambret yang melintas. Permasalahan sinyal inilah yang oleh rekan kami sarankan untuk tetap membawa peta.

Meski dalam kondisi tertidur, saya bisa merasakan kalau kondisi jalan antara Jember menuju Taman Nasional Baluran cukup bagus. Jarang saya terbangun akibat goncangan karena permukaan jalan yang tidak rata. Satu hal yang membuat mata ini terbuka adalah sinar lampu truk-truk besar dari arah berlawanan. Jangan lupa dengan suara klaksonnya yang memecah keheningan malam.

-oOo-

Adzan subuh belum berkumandang dan kami sudah di Taman Nasional Baluran dan harus menunggu sekitar hampir satu jam untuk bisa masuk ke dalam. Anggap saja kami berenam adalah pengunjung yang beruntung karena bisa masuk kedalam saat fajar belum menampakkan parasnya.

Taman Nasional Baluran bisa dilalui oleh kendaraan. Hanya saja, jika yang terbiasa masuk ke Taman Safari di Cisarua, maka segeralah hapus bayangan itu, karena kondisi jalan dari mulai pintu masuk hingga ke dalam sungguh luar biasa. Permukaan yang tidak rata, berbatu, serta ruas yang tidak terlalu lebar. Dibutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Bagi yang tidak membawa kendaraan, sebenarnya ada motor yang disewakan oleh penduduk sekitar. Tarif pasti, saya tidak tahu. Yang pasti, pintar-pintarlah bernegoisasi.

Sebelum keberangkatan, kami menyadari kalau cuaca kurang begitu mendukung. Bepergian ke alam tapi langit sedang berbayang awan hitam dan siap menumpahkan bebannya kapan saja. Tak hanya air, tapi juga angin yang berhembus cukup kencang dan dibuktikan pada saat sekian ratus meter mobil kami meniti jalan, terpaksa harus berhenti karena ada batang pohon yang melintang menghalangi jalan akibat tumbang.

Proses Evakuasi Pohon Tumbang
Pohon Tumbang [1]
Proses Evakuasi Pohon Tumbang [2]
Pohon Tumbang [2]

Tidak tahu, pohon yang tumbang termasuk jenis apa. Batangnya sebenarnya tidak terlalu besar seperti beringin, hanya saja dahannya sangatlah rimbun. Proses evakuasi dilakukan dengan cara manual, dengan memotong-motong bagian rantingnya. Sedangkan untuk bagian batangnya, beruntung tidak terlalu menjorok ke bagian jalan sehingga masih ada space untuk mobil melintas. Saat proses evakuasi tersebut, kebetulan selain kami berenam ada dua orang lain menggunakan sebuah sepeda motor yang awalnya kukira adalah petugas dari Taman Nasional Baluran, yang kemudian diketahui adalah bukan. Satu diantara mereka mengatakan sebelum sampai di lokasi tumbangnya pohon, dia melihat seekor Harimau Jawa yang melintas.

What? Harimau Jawa? Melintas? Man, ciutlah nyali ini! Bukannya mereka sudah punah? Entahlah, tapi di papan informasi yang terpasang dekat dengan padang savana bahwa juga terdapat macan tutul yang ada di Taman Nasional Baluran selain banteng dan rusa. Penampakan macan tutul dimaksud bisa dilihat disini. Di laman dimaksud tertulis kalau itu adalah foto pertama macan tutul di Taman Nasional Baluran setelah 30 tahun!

-oOo-

Pemberhentian pertama kami di Taman Nasional Baluran adalah Pantai Bama. Saat datang, kondisi air pantai sedang surut. Bisa terlihat dengan jelas karang-karang kecil serta gundukan-gundukan pasir kecil yang seperti rumah kepiting menyembul disana. Dua orang yang tadi mengendarai motor sudah sampai terlebih dahulu. Yang mengemudikan ternyata adalah penduduk sekitar yang juga biasa berprofesi sebagai pengantar pengunjung yang ingin memasuki Taman Nasional Baluran, dan yang satunya lagi adalah wisatawan lokal dari Jakarta. Sebelum kesini, dia terlebih dahulu hinggap di Bali. Liburan tak direncanakan, katanya. Bermodalkan pakaian ala kadarnya, dia nekat terbang ke Bali. Meninggalkan mobilnya terparkir di Bandara Soekarno-Hatta dan melanglang buana karena malas dengan banjir yang kala itu sedang melanda ibukota.

Awalnya kukira kami sudah terlambat untuk bisa menyaksikan sunrise, karena saat itu langit diatas Pantai Bama bisa dibilang sudah cukup terang. Dikarenakan awan sedang mendung, sehingga matahari tidak menampakkan diri. Dari kejauhan, nampak beberapa ekor rusa kecil yang berlarian menuju kelompoknya hingga beberapa saat kemudian semburat khas matahari terbit mengeluarkan pesonanya.

Pantai Bama
Pantai Bama
baluran4
Seekor Rusa di Pantai Bama
Matahari Terbit
Matahari Terbit
Take Nothing But Picture
Take Nothing But Picture
Burung Bangau
Burung Bangau

Terpesona dengan sunrise? Jangan sampai Anda lengah dengan keberadaan monyet-monyet disekitar pantai. Jumlah mereka cukup banyak dan entah kenapa secara tiba-tiba keluar dari pepohonan yang tumbuh di sepanjang pantai sesaat setelah matahari terbit. Perhatikan makanan yang dibawa, mereka juga mengambil apa yang kita buang di tempat sampah.

Monyet
Monyet

-oOo-

Selepas Pantai Bama, kami beranjak menuju hamparan savana dengan latar Gunung Baluran. Jika ingin mendapatkan kesan yang lebih eksotis laksana Afrika, memang lebih disarankan untuk datang kesini saat musim kemarau. Mungkin itu saja yang disayangkan dengan keputusan kami untuk singgah disini saat musim penghujan. Tapi, percayalah keindahannya tetap membuat berdecak kagum.

Hamparan Savana dengan Latar Gunung Baluran
Hamparan Savana dengan Latar Gunung Baluran
Oh, I wish I could change the car into a jeep :)
Oh, I wish I could change the car into a jeep 🙂

Pesona lain yang berada di sekitar savana adalah deretan pohon dengan ranting yang tak berdaun. Entah memang sudah mati atau sedang meranggas. Pohonnya tidak terlalu tinggi, tak terlalu jauh dari tinggi rata-rata orang Indonesia.

Pohon Mati?
Pohon Mati?

Mungkin, bisa dikatakan belum ke Taman Nasional Baluran jika belum berpose di depan deretan tulang kepala banteng yang disusun rapi dekat dengan penginapan. Persis di tikungan menuju Pantai Bama jika dari pintu masuk.

Kepala Banteng?
Kepala Banteng?

-oOo-

Taman Nasional Baluran juga dikenal dengan julukan Africa van Java. Sangatlah jelas kenapa mendapat julukan tersebut karena pemandangan alam yang disajikan ala-ala Benua Hitam. Seorang teman, entah kenapa tidak suka dengan julukan tersebut harus melekat. Katanya, apakah karena ada embel-embel Afrika, lalu baru kemudian orang-orang berbondong kesana? Kenapa harus menjual pesona tanah orang di negeri sendiri?

Advertisements