I don’t know much about Jember. When in elementary school, I just know if Jember is one of the districts in East Java province and located in the south, so it has a direct line to the Indian Ocean coast. Then, the infotainment tell more if it also the birthplace of some Indonesian musicians. Btw, kindly read my previous post before continue to read.

-oOo-

Hari keberangkatan tiba!

Kami berenam dengan barang bawaan masing-masing serta tugas tambahan yang disebarkan melalui grup whatsapp. Dari Stasiun Lempuyangan, KA Sri Tanjung berangkat pukul 07.45 pagi dan diperkirakan sampai di Stasiun Jember pada pukul 17.45 sore. Jadi, butuh 10 jam perjalanan yang dihabiskan oleh kami berenam untuk duduk saling berhimpitan dimana bahu saling bersinggungan dan antara lutut saling bertemu. Beruntunglah, dua diantara kami bisa melipir terlebih dahulu ke kursi penumpang yang baru terisi di beberapa stasiun berikutnya.

Menyusuri Jawa dari atas rel. Melihat hamparan sawah yang beberapa diantaranya baru saja ditanami dengan latar perbukitan yang terlihat kaku dan dingin. Satu yang disyukuri, arah sinar matahari tidak berasal dari jendela di samping kami. Meski perjalanan menggunakan kereta siang hari sungguh menggiurkan, saya pribadi lebih menyukai kereta malam, coz I can sleep along the trip!

KA Sri Tanjung akan terlebih dahulu menuju Surabaya dan berhenti cukup lama di Stasiun Surabaya Gubeng. Bagi yang ingin menjalankan shalat dzuhur bisa di mushola stasiun, sekalian di jama’ dengan ashar jika stasiun akhir masih jauh.

-oOo-

Touchdown Jember!

KA Sri Tanjung yang kami tumpangi datang terlambat 30 menit di Stasiun Jember, sekitar pukul 18.15. Kondisi stasiun terlihat sungguh bersih dan terawat, termasuk toiletnya. Meski saat itu beberapa penumpang turun dan naik, secara keseluruhan bisa dibilang cukup sepi. Seperti halnya beberapa kota yang aktifitasnya berangsur-angsur memudar ketika hari berubah menjadi malam.

Stasiun Jember
Stasiun Jember
Bring The Boys Out!
Bring The Boys Out!
Assalamualaikum Ukhti :)
Assalamualaikum Ukhti 🙂

Meski belum memiliki mall besar, Jember cukup memenuhi persyaratan sebagai tempat untuk ditinggali versi saya. Ada Universitas Jember yang dirasa-rasa luasan wilayahnya juga cukup besar, toko buku Gramedia, Pizza Hut, and my favourite – KFC. Hahaha! Btw, I’m not gonna tell you if we eat at KFC right after we are arrived in Jember. So let me introduce you, sop kekel.

Sop Kekel
Sop Kekel

Kekel sama artinya dengan kikil. Rasanya beda-beda tipis dengan sop yang menggunakan jeroan, hanya saja ini lebih ringan. Lokasi kedai penjual terletak di pinggir jalan dan tidak terlalu jauh dari Stasiun Jember. Ukuran kedainya sendiri tidak terlalu luas, hanya terdapat bangku panjang yang berjejer serta meja yang merapat ke tembok. Harga seporsi sop kekel tanpa nasi sebesar Rp.8.000,-

-oOo-

Jember menjadi gerbang kami menuju destinasi berikutnya. Disini, segala rencana mengenai destinasi berikutnya diatur dan dijadwalkan. Dengan bermodalkan “menumpang” di rumah orang tua salah satu dari kami, istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pada tengah malam.

Advertisements