Kisah berikut bukanlah kelanjutan dari film 5 Cm yang tahun kemarin menjadi hits di bioskop kesayangan Anda. Terinspirasi? Bisa jadi, meskipun bisa dibilang prosentasinya teramat-sangat-kecil. Sama-sama pergi berenam ke wilayah timur pulau Jawa. Jika Zafran dkk, bepergian ke Malang demi mendaki Gunung Semeru. Maka, saya dan kelima rekan menuju Banyuwangi untuk meyusuri Taman Nasional Baluran sebagai destinasi utama, yang pada perjalanan selanjutnya merambah tempat yang lainnya.

Tersebutlah enam orang mahasiswa pasca sarjana yang gundah gulana menjelang berakhirnya UAS. Libur yang bisa dibilang cukup panjang serta demi alasan me-rileksasi otak setelah hampir empatbelas harinya dipaksa bekerja ekstra demi mengingat, menghapal, mempersepsikan dan menterjemahkan materi yang disampaikan oleh para pengajar diatas lembar jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.

Entah siapa yang memulai, ide untuk move on from Jogja menuju Baluran tercetuskan dan langsung saya dan beberapa rekan iya-kan, meskipun ada satu dari kami yang ikut karena dipaksa. Biarlah, saat tulisan ini meluncur di dunia maya semoga tak ada rasa penyesalan yang terbersit.

-oOo-

Tiket Kereta, Pesan On-line saja!

Hari itu, kami sedang ada responsi untuk mata kuliah Analytical Method yang oleh pengajar diberikan 3 bulan lamanya untuk mengerjakan. Berhubung pembagian jadwalnya dibagi menurut nomor urut kelompok yang dimana nomor urut kelompok tersebut berdasarkan absensi yang  tentu saja di belahan dunia manapun nama yang berawalan huruf A selalu menjadi daftar teratas.

Saya, yang kebetulan sudah selesai responsi kebagian tugas untuk membeli tiket kereta api dari Yogyakarta menuju Jember. Loh kok Jember, katanya Banyuwangi? Iya, kami berenam ingin mampir dulu ke tanah dimana Dewi Perssik dibesarkan. Syukur-syukur sekalian bisa ketemu dengan Anang Hermansyah. 

Diputuskan untuk berhenti di Jember karena perjalanan menuju Taman Nasional Baluran dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan darat yaitu mobil yang di-rental sesuai dengan anjuran Bule (panggilan perempuan untuk adik perempuan dari orang tua) salah satu teman saya. Kelak dalam perjalanan, tak hanya nama Bule yang tercuap dari bibirnya, tetapi banyak lagi nama kerabat yang dengan bangga dia sebutkan, meskipun lima rekan lainnya tak ada yang mengenal. Bahkan, tak ada satupun lima dari kami yang ingin mengetahuinya. Huh!

Kembali ke permasalahan tiket, sebenarnya saat itu saya sudah memesan via on-line melalui web tapi ternyata terjadi kesalahan pada tanggal. Maklum, pesannya melalui tablet yang ukurannya tidak seberapa apalagi ditambah dengan ukuran jempol yang lebih sering menyebabkan typo. Tak ingin terjadi kesalahan lagi, maka ber-inisiatif-lah saya dan seorang lagi untuk memesan langsung di Stasiun Lempuyangan yang ternyata sudah banyak sekali orang yang berjubel di ruang tiket yang tak seberapa besar. Mengisi formulir, mengambil nomor antrian, dan menunggu dipanggil sambil kipas-kipas kepanasan padahal Yogyakarta sedang diguyur hujan. Saya sendiri belum pernah merasakan menunggu istri melahirkan, tapi mungkin begitulah kira-kira rasanya membeli tiket langsung di loket stasiun. Penuh rasa gusar!

Sejatinya, sekarang tiket kereta api apapun kelasnya bisa dipesan selain dengan membeli langsung di loket stasiun. Saya sendiri lebih sering via on-line di laman https://tiket.kereta-api.co.id/ karena sekalian bisa memilih posisi tempat duduk yang diinginkan. Adapun cara lain bisa dilihat pada gambar berikut yang saya print screen langsung dari laman yang disebutkan sebelumnya.

tiket KA
Alternatif Pembelian Tiket KA

Menit demi menit berlalu , rasa gusar semacam berubah menjadi batu. Duhai umat manusia yang perasaanya sedang digantung, I know that feel, bro! Entah di puluhan menit keberapa akhirnya nomor antrian saya dipanggil dan transaksi pembelian tiket pun berlangsung antara saya dan mbak penjual tiket yang bisa dibilang cute, tapi entah kenapa beberapa pembeli sebelum saya menyempatkan diri untuk marah-marah. Kasihan loh!

Dari Yogyakarta menuju Jember, tersedia dua jenis kereta api yaitu KA Sri Tanjung yang kami tumpangi yang berangkat pagi hari jam tujuh pagi dari Stasiun Lempuyangan dan KA Logawa. Selain pergi berenam, mungkin ini adalah salah satu kesamaan dengan film 5 Cm, yaitu menggunakan kereta api kelas ekonomi AC. Duduk berenam, saling berhadap-hadapan.

Tiket KA Sri Tanjung

-oOo-

Dear Jogja, tak ada yang satu pun yang sangsi dengan pesonamu. Kami berenam move on sementara darimu sekedar untuk mencari pengalaman baru di timur Jawa. Terlebih darah tanah Majapahit mengalir dalam tubuh ini dan tak inginlah saya menjadi generasi yang laknat akan daerah dimana orang tua tumbuh besar, bertemu, dan saling jatuh cinta meskipun pada perjalanan rumah tangga mereka, saya terlahir di Jakarta.

Advertisements