Salah satu hari di penghujung bulan Desember tahun 2013.  Saya “berkesempatan” untuk kembali mengunjungi kantor yang hampir selama 6 bulan ditinggalkan. Kangen? Pasti adalah meski sedikit, tapi alasan pertama saya kesana adalah karena ada beberapa hal yang harus diurus sebelum kembali lagi ke Jogja dan berganti status sebagai mahasiswa.

Hari itu adalah Jum’at. Dari rumah saya berangkat dari rumah hampir jam setengah sembilan. Sebuah waktu yang bisa dikatakan bukan lagi jam sibuk. Hampir enam bulan tidak menggunakan jasa commuter line, saya sudah lupa jam keberangkatan pastinya. Yang terlintas dibenak saya adalah kereta tidak terlalu penuh sesak karena mayoritas pengguna kereta di pagi hari adalah pekerja kantoran. 

Menginjak pelataran stasiun Depok (Lama), saya terpaksa mengantri membeli tiket karena punya kartu berlangganan saya tertinggal di kamar kost di Jogja. Percayalah, sejauh-ini, pengalaman mengantri tiket commuter line sungguh kurang meng-enak-an. Deretan manusia yang mengular, sebisa mungkin menyiapkan uang pas, dan ketika sampai di stasiun tujuan harus kembali mengantri untuk mengambil uang deposit. Pengelola menerapkan ini agar kartu tiket harian dikembalikan karena ketika sistem tiket ini kali pertama diluncurkan, banyak yang “dicuri” oleh penumpang.

Sungguh saya salut kepada orang-orang yang memiliki insting kuat. Insting saya? Kebalikannya. Sengaja berangkat dari rumah agak siang dan berharap semoga kereta menjadi sedikit lengang, tapi ternyata tidak. Sekian lama tak mengenyam “bangku sekolah”, sampai lupa jadwal rutin kapan anak sekolah libur. Ya, kali ini bukan pria berkemeja ataupun wanita dengan blazer ala karyawan dan karyawati yang kudapati memadati stasiun, melainkan anak kecil dengan baju warna-warninya beserta orang tua dan remaja tanggung dengan deretan gigi berpagar, topi terbalik, dan ber-sneakers ria.

Satu commuter line datang dan saya pun bersiap untuk menaikinya dengan berdiri sedikit pinggir ketika pintu terbuka, maksudnya tak lain dan tak bukan untuk memberi prioritas bagi penumpang yang ingin turun. Ah, tapi melihat penumpang yang lain, entah kapan mereka bisa berubah. Di dalam, tentu saja saya berdiri, berdampingan dengan seorang anak kecil yang mungkin berumur sekitar enam tahun. Tangannya menggenggam erat seorang yang lebih dewasa, yang dalam percakapan mereka saya tahu kalau itu adalah kakaknya. Saya sempat takjub dengan perbedaan usia yang cukup jauh diantara mereka. Kakaknya, saya taksir berusia sekitar se-per-empat abad, berarti sekitar sembilan belas tahun selisihnya. Duh, sungguh berani saya mengira-ngira umur oang lain, bukankah insting saya lemah?

Sepanjang perjalanan, kuping saya menguping pembicaraan ringan antara mereka berdua. Rupanya sang kakak mengajak sang adik ke kantornya untuk mengisi liburan di Jakarta. Sang adik bersekolah di sebuah sekolah negeri, di sebuah desa kecil, di sebuah kecamatan, di sebuah kabupaten, di provinsi Jawa Tengah. Di setiap stasiun pemberhentian, sang adik selalu bertanya apa nama stasiunnya.

Tiba di stasiun Pasar Minggu, gerbong yang saya, sang adik, dan sang kakak naiki, tiba-tiba dimasuki oleh penumpang dengan jumlah yang cukup banyak karena kami bertiga sampai gak terdorong ke belakang dan saya melihat tangan sang kakak dengan reflek memeluk adiknya. Ia mengucap istighfar. 

Selepas stasiun Cikini, ketika penumpang yang turun jauh lebih besar ketimbang penumpang naik dan kondisi dalam gerbong menjadi sedikit lebih longgar. Saya kembali memperhatikan mereka. Tampak ada sedikit kekhawatiran di wajah sang kakak. Sepertinya ia tidak mau pengalaman pertama adiknya naik commuter line menjadi semacam mimpi buruk untuk anak kecil berusia enam tahun.

“Kamu nggak papa, kan?” Sang kakak bertanya sembari membetulkan posisi topi bergambar tokoh Angry Birds yang dipakai sang adik. “Setiap hari kalau mau ke kantor kakak naik kereta ini, dan selalu penuh kaya gini. Nanti kalau kamu besar dan hidup di Jakarta, kamu jangan lembek, ya dek! Jakarta itu keras.”

Ada ekspresi heran di wajah sang adik sesaat mendengar wejangan sang kakak. Dari bibirnya, ia seperti mengulang tanpa suara, kata “lembek” yang baru saja didengarnya. Sepertinya, ia belum bisa menarik kesimpulan antara Jakarta dan lembek. Lembek yang selama ini dipikirannya, mungkin ibarat  sepotong agar-agar yang biasa dibeli ketika istirahat jam sekolah atau, lembek, ketika tidak sengaja menginjak kotoran kerbau ketika bermain di pematang sawah.

-oOo-

Saya hampir sampai di stasiun tujuan. Sesaat sebelum turun, saya memperhatikan mereka kembali. Ekspresi heran sang adik berubah kagum terpana ketika rangkaian kereta melewati Monas dan tangan kecilnya menunjuk pucuk tugunya. Ah, biarlah waktu yang akan menjawab kebingunganmu, adik kecil. Jakarta memang kota keras, selagi kau mencari arti nasihat kakakmu, semoga kesehatan selalu menaungimu.

pic source : http://www.ivytrailsgarden.com/
pic source : http://www.ivytrailsgarden.com/
Advertisements