Hampir sebulan berada di kampung halamannya para pelajar Indonesia, Jogjakarta. Tak hanya pelajar, Jogja juga mempersilakan segala jenis profesi yang tertulis di kartu tanda pengenal. Jika sebelumnya datang ke Bumi Gudeg karena pekerjaan dan sekedar berjalan – jalan, kali ini sebagai status mahasiswa.

Berikut adalah recap kehidupan saya hampir sebulan disini. Berhubung ini bukan resep masakan jadi anda tak harus menyiapkan kertas dan pulpen untuk mencatat. Kalaupun ingin disimpan dan dibaca di kemudian hari, kan bisa di-print.

1. Looking for The Room(s).

Tepat saat Indonesa berumur yang ke 68 tahun, Kami (kebetulan, saya tidak sendiri) datang di kota ini di pagi hari. Menyusuri jalan untuk mencari apartement kost-kost-an. Tidak seperti yang kami bayangkan, ternyata mencari tempat berteduh disini butuh perjuangan.

Dari tiap deret rumah yang berjejer, kami mengetuk pintu, memencet bel, mengucapkan salam, melompati pagar, dilakukan untuk mencari apakah masih ada kamar kosong dan jawabannya selalu, “maaf, sudah penuh”. Beberapa dari pemilik kost berkata kalau kami terlambat karena rata – rata kamar kost sudah terisi penuh sejak tiga atau dua bulan sebelumnya.

OK! Kami buntu saat itu dan memutuskan untuk kembali ke hotel yang semula diniatkan hanya untuk menitip koper.

(update : saya kemudian mendapatkan kost pada hari keempat. harga kost sangat variatif dari dua ratus ribu rupiah sampai yang diatas satu juta rupiah. Ada baiknya kalau menanyakan harga, mengaku saja sebagai mahasiswa baru atau extension, katanya kalau mengaku S2 harganya dimahalin.)

2. Too Sweet To Serious.

Ingat gonjang – ganjing karena harga cabai yang meroket? Yah, saya sedih mengingatnya karena sambal menjadi langka. Entah karena Jogja adalah tempat yang menenangkan dan saking tenangnya hingga harga cabai yang tinggi tidak membuat batin menjerit.

Anggaplah berikut adalah analisa sotoy saya.

Makanan di Jogja seperti halnya beberapa wilayah Jawa dibagian tengah yang memiliki cita rasa dominan manis. Pernah satu ketika, saya memakan tumis daun pepaya dengan bertabur ikan teri dan seketika itu bayangan rasa gurih dan pedas tipis yang melekat di lidah seperti yang sering dibuat oleh ibu. Gurih? Bisa jadi! Pedas? NGGAAAKKKK…!!!!

Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa banyak tempat makan yang menawarkan menu sambal sebagai andalan mereka. Tapi dari beberapa yang sudah kuhinggapi, pedasnya belum sesuai dengan ekspektasi.

(update : mie ayam disini rata-rata kuahnya banjir, buat yang suka makan mie ayam dengan kuah yang sedikit-cenderung-kering, ada baiknya penjualnya diberi tahu terlebih dahulu.)

3. The Direction(s).

Tahu daerah Pondok Indah di Jakarta, kan? Perumahan dengan sejuta portal menghadang jalan. Disini ada yang serupa, Pogung Baru namanya. Rata – rata portal ditutup jam 11 malam dan baru dibuka jam 5 pagi. Sedang berkeliaran diantara jam tersebut? Pintar – pintarlah mencari jalan.

Seumpama tersesat, ada baiknya kalian tidak buta arah mata angin. Karena kalau bertanya kepada penduduk lokal, mereka lebih senang menggunakan mata angin sebagai penunjuk arah. Jarang ada yang menggunakan “kiri atau kanan”.

(update : berjalan kaki di Jogja, terutama sekitar kampus UGM, sangat dimungkinkan, tapi kalau bisa sih punya kendaraan semacam sepeda. Motor dan mobil harap disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga masing – masing.)

4. Kearifan Lokal.

Bisa berbahasa Jawa disini sangatlah menguntungkan. Selain bisa lebih memikat untuk menawar barang di Malioboro atau di Pasar Beringharjo, bisa nguping pembicaraan cewek-cewek Jogja yang sedang ngobrol itu sepertinya menyenangkan. Hahaha…

(update : saya nggak bisa berbahasa jawa. Kalau cuma dengar dan bukan bahasa jawa versi halus masih bisa mengerti, selebihnya mending bawa translator aja. Enggih!)

5. Where to Hangout.

Buat yang gemar cuci mata, ada baiknya tampil seganteng dan secantik mungkin di Minggu pagi dan melipir dengan kostum olahraga (meski hanya jadi kamuflase) ke sekitar Lembah UGM. Siangnya, lanjut ke Ambarrukmo Plaza. Jangan lupa, mandi dulu.

(update : kali sekian ke Ambarrukmo Plaza saya mendapati banyak cewek Jogja yang gemar memakai sepatu boot.)

6. Mama!

Ibu Kost. Ah, berbicara tentang ibu kost ada baiknya beliau kita baik-baik-in semampu kita. Cantik atau biasa saja, seksi atau standar saja penampilannya, dia yang menyediakan tempat tinggal sementara bagi kita sebagai perantau. Baiknya dia bisa seperti ibu kandung sendiri dan marahnya dia, jangan – jangan sampai tega mengusir kita. Maka dari itu, bersikap ramahlah dan tentunya bayar biaya kost tepat pada waktunya.

(update : saya belum pernah ketemu ibu kost. #kecewa)

-oOo-

Selamat kuliah!

MSTT XXVI
MSTT XXVI

Advertisements