Memasuki pertengahan bulan Ramadan, sudah bosankan mata anda melihat iklan televisi yang bolak – balik tayang silih – berganti. Pindah channel pun, yang muncul itu – itu lagi.

Iklan sirup,

iklan sarung,

iklan obat maag,

iklan minuman dalam botol,

dan iklan – iklan yang lainnya.

Satu dari sekian iklan yang rutin muncul tiap tahun adalah milik perusahaan rokok. Tema yang diangkat sama seperti tahun sebelumnya, mengenai ibu. Kali ini lebih personal, tak ada urusan dengan menantu judes seperti tahun yang lalu.

Adalah tiga orang anak, dua laki – laki dan satu perempuan yang sedang berdebat untuk siapa yang bertugas merawat ibunya. Sekilas, ada sosok bapak dalam iklan dimaksud. Iklan dengan durasi 30 detik itu berhenti (bersambung) setelah asisten rumah tangga yang diminta untuk tidak usah pulang (mungkin menjelang mudik lebaran) dan gajinya dibayar 2 kali lipat, menolak permintaan mereka. Alasannya sama, ingin merawat ibunya yang sudah tua juga.

Beberapa teman saya, dengan terang – terangan membenci tingkah laku tiga orang anak dimaksud. Alasannya panjang, mengalir, berbobot tak ubahnya untaian kalimat di buku – buku motivasi. Padahal mereka tahu, iklan itu pasti akan berakhir bahagia dengan ketiga anak tersadarkan untuk merawat ibu mereka. Sweet!

Berharap ending yang berbeda? Melihat realita yang ada, sedih karena (sedikit) banyak yang berakhir di ….. panti jompo.

Sigh!

Advertisements