…dan manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

-oOo-

Setinggi-tingginya manusia sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna, sekecil apa pun kesalahan pasti pernah diperbuat. Akal sehat, kemampuan berpikir, ditambah dengan daya rasa hati bernama perasaan terkadang kurang mampu untuk membendung niat-niat jahat yang semula berbungkus ‘ke-iseng-an belaka’ atau ‘hanya bercanda’.

Keceriaan yang pernah dilalui bersama, manusia mana yang bisa menerka kalau satu diantara kita ada yang terluka. Meski sama-sama mengeluarkan tawa yang sama, siapa yang menyangka kalau satu diantara kita justru teriris hatinya? Kesedihan yang dibagi bersama, dengan deraian air mata, adakah yang bisa mengira kalau ada satu diantara kita justru tertawa bahagia?

Pernah, tangan ini terulurkan kepadamu. Meringankan beban yang saat itu membatu dipundakmu?

Senyum manis kau sembahkan padaku sembari ucapan terima kasih mengalun pelan dari bibirmu. Puja puji berhambur kepadaku seakan aku adalah malaikat penyelamatmu.

Ah, andai saja kau tahu ada sekian persen pamrihku saat itu.

Sekali, tangan ini mengusap air mata yang mengalir di-pipi-mu. Merapatkan pundak untuk sekedar kepalamu melabuh. Membuka telinga untuk menampung segala keluh kesah yang kau tumpah.

Ah, lagi-lagi kau salah!

Tadi itu ibarat sandiwara di malam perpisahan sekolah dan aku berperan sebagai antagonisnya.

Semisal hari ini lebih panjang, mungkin tak akan tertampung kisah lukamu akibatku.

Entah kenapa hari ini aku berkisah?

Basa-basikah menjelang esok hari kita semua berpuasa?

Entahlah apa itu, semoga tak ada lagi pengakuanku ini yang kembali berulang pada esok waktu.

-oOo-

Selamat berpuasa.

Mohon maaf atas segala salah dan lupa.

Advertisements