Semestinya saya menuliskan ini sesaat setelah menonton film A Good Day To Die Hard. Ini bukan spoiler ataupun berupa resensi film, pun kalau bisa dibilang begitu saya ingin Dian Sastro di film Ada Apa Dengan Cinta?  jadi komentator yang pertama dengan mengucapkan BASI!!! madingnya udah siap terbit!!

Seorang bapak paruh baya yang masih menyisakan sisa-sisa ke-kekar-an masa mudanya dengan kepala tanpa rambut sehelai pun datang ke Rusia demi mengetahui keadaan anak laki-lakinya yang menjadi tahanan. Entah apa rasanya, lama tak bersua dan mendapati titisan darahnya menjadi pelaku kejahatan di negeri orang.

Di hari kedatangan, yang sekaligus menjadi kali pertama mata saling beradu setelah sekian waktu menjadi garis awal sebuah petualangan dimana “perang dingin” yang tersekat diantara mereka berangsur berubah menjadi bara hangat yang mencairkan dingin yang menyelimuti Negeri Beruang Merah.

Keberangsuran yang berubah tadi, disuguhkan melalui peristiwa dimana sang bapak hadir menjadi penolong dikala kalut, disaat akal mendadak dangkal, dimana emosi semakin menjadi-jadi. Ah, padahal Cinta pernah bersabda, “bila emosi mengalahkan logika, bener ‘kan banyakan ruginya?”

Well, A Good Day To Die Hard memang tidak semengharu biru seperti The Pursuit Of Happyness dan tidak semenyenangkan Finding Nemo. (Wait… menyenangkan? Kill Dory please, a fish with short-term memory loss!) Tapi entahlah sedatar apapun film yang berkisah mengenai hubungan bapak dan anak, sebelum ataupun sepeninggal bapak, rasa haru pasti serasa menjelajahi seluruh pembuluh.

Bruce-Willis-and-Jai-Courtney-in-A-Good-Day-to-Die-Hard

-oOo-

 A good day to die hard. A good movie to watch. A good moment to say, I LOVE YOU, DAD.

Ditulis untuk mengenang satu tahun sekian hari kepergian bapak.

Advertisements