Tetiba saya teringat ketika berusia masih satu digit angka. Meski tidak mengalami masa bersekolah di taman kanak-kanak, saya cukup banyak mendengar cerita rakyat yang bermuatkan pesan moral ataupun dongeng ala Disney yang dimana pada akhirnya sang putri dan sang pangeran hidup bahagia, selamanya.

Menginjak usia belasan. Ketika diri ini sudah cukup dewasa untuk diberi kepercayaan melakukan transaksi perbankan (yang makin kesini makin kelihatan kalau sifat boros sepertinya melekat erat jiwa ini), adalagi kisah yang sampai kemarin saya tidak pernah bisa percaya. Kisah yang sering saya gumamkan dalam hati dengan “what the fvck are you talking about?” kepada dia / teman / rekan / mantan / yang bercerita tentang kartu ATM yang tertelan.

Mendengar ATM tertelan itu ibarat seperti mendengar cerita tentang kisah dukun Ponari dengan batu saktinya. Duh, perumpamaan yang sungguh-amat-sangat tidak keren didengar. Mungkin seperti mendengar cerita Doraemon yang hijrah ke Jakarta dari Tokyo karena bosan menjadi budak Nobita. Gimana, lebih keren didengar kah? Well, anggap saja iya!

-oOo-

Kamis sore, jiwa ini seperti berpacu dengan Ariel Noah itu mencari “dirimu” yang menjadi separuh aku. Pekerjaan tidak terlalu menumpuk, tapi pikiran sedang bercabang, merambat keatas mencari sinar matahari sebagai sumber kehidupan.

Jam setengah lima, saya sudah berada dalam perjalanan pulang dan memutuskan untuk melipir ke mall sekedar mencari kesenangan untuk menghibur diri. Makan, masuk ke departemen store, nonton film, dan membeli buku. Selepas maghrib sampai menjelang mall tutup, saya berkelana dari toko A ke toko berikutnya dan toko berikutnya hingga tersadar kalau ibunda tercinta berpesan untuk dibelikan sebuah barang yang kemudian menuntun saya untuk menuju ATM untuk keperluan transaksi.

Masukkan kartu. Masukkan pin. Pilih transaksi. Masukkan nominal. Transaksi selesai. Tapi kartu tak kunjung juga keluar.

DHEG!

Sehubungan dengan maraknya tuduhan tentang konspirasai. Saya pun turut menuding kalau mesin ATM ini sengaja mengerjai saya yang sedari dulu tidak mempercayai kejadian yang sedang saya alami. Ingin teriak histeris, tapi untunglah akal sehat ini masih bisa bekerja. Telepon call center? Duh, mendadak nomor cantik yang hanya lima digit itu mendadak hilang di kepala, entah bersembunyi dimana. Semoga kemarin cctv tidak merekam kejadian saya “mengobrak-abrik” tumpukan brosur bank yang untuk sekedar mencari nomor call center, padahal jika saya bisa tenang sedikit nomor itu tercetak jelas di mesin ATM. Duh, rasanya seperti ingin membenturkan kepala ini ke mesin ATM yang sungguh dengan teganya memakan saudaranya sendiri.

-oOo-

Tuhan, jika ini adalah bentuk teguran karena saya sering tertawa senyum mendengar cerita mereka yang ATM nya tertelan, maafkan saya ya Tuhan.

*kemudian membentangkan sajadah*

atm

Advertisements