Hari kesekian dari awal bulan Januari, saya sudah tiba di kantor jam enam pagi. Tak ada yang untuk dikeluhkan, kebetulan bisa bangun pagi bukanlah sebuah persoalan besar. Sedari dulu, setiap jam setengah lima pagi, ibu akan selalu mengetuk pintu yang lebih mirip gedoran ibu kost yang menagih uang sewa bulanan kepada mahasiswa yang suka telat bayar.

Hari kesekian dari awal bulan Januari, meski ada bantuan ketukan ibu di pintu kamar, alarm di kamar sudah berubah jadi satu jam lebih awal bunyi deringnya. Buruknya saya, sudah tahu jam tidur berkurang tapi masih saja hobi tidur diatas jam dua belas malam. Ibu secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya dengan kebisaaan saya yang satu ini.

Hari kesekian dari awal bulan Januari, saya merindukan sarapan nasi kuning bungkus yang dijual di dekat rumah. Saya merindukan sarapan lontong sayur yang dijual dengan gerobak keliling di dekat rumah. Saya merindukan sarapan lontong dan jajanan pasar lainnya yang dijual oleh wanita paruh baya di dekat rumah.

Hari kesekian dari awal bulan Januari, roti tawar gandum menjadi menu sarapan andalan. Paling praktis di pagi hari yang masih buta, tinggal berlapis selai atau mentega dengan taburan cokelat butir alias meises. Ibu selalu menyelipkan dalam tas, empat lembar untuk saya habiskan dalam perjalanan ataupun sesampainya di ruangan.

Pagi ini, tak ada empat lembar roti gandum. Kamis ini, sudah diniatkan untuk menahan lapar hingga sore menjelang.

Tapi, benarlah kalau rejeki datang dengan berselimutkan misteri.

“Nih, untuk bukan puasa nanti.”

Seorang teman memberikanku sebuah bungkus starbucks berwarna cokelat ukuran sedang yang dari luarnya tercium aroma sesuatu yang dipanggang. Harumnya semakin menjadi saat perlahan lipatan kertas yang menjadi penutup perlahan kubuka.

Ah, sandwich roti gandum 🙂

roti gandum starbucks2

Advertisements