Hampir seminggu di tahun yang baru. Tak ada perubahan yang mendasar terkecuali umur yang bertambah. Orang (sok) bijak biasanya akan membuat apa yang mereka sebut dengan resolusi, yang buat saya pribadi sih, hanyalah seperti istilah “ribet-amat-sih-lo-nambah-kerjaan-aja-pake-bikin-kaya-begituan”. 

Kali pertama berkenalan dengan si – resolusi adalah ketika saya masih duduk di bangku SMA. Kala itu, isinya gak muluk-muluk. Hanya bisa naik kelas dengan nilai yang memuaskan, setidaknya gak bikin malu orang tua pas menerima raport. Perkara dapat ranking berapa, ah sudahlah. I’m not that smart, but hey… I’m not that stupid also.

Bikin resolusi punya pacar waktu SMA, sama saja bunuh diri. Guru pendidikan agama gak segan-segan memberi angka merah bagi siapa yang ketahuan berpacaran. Beberapa pasang siswa-siswi sih ada yang berhasil gak ketahuan, tapi saya sih agak melas juga kalau ada yang kedapatan sedang berpacaran. Taruhannya gak main-main. Nilai agama dikasih merah. Duh!

Jadilah, 3 tahun berseragam putih abu-abu dilalui dengan kesendirian.

Jadi anak kuliahan. Disinilah saya mengenal resolusi lebih dalam tiap tahunnya. Pertama kali menyusunnya, ada sekitar 20 hal yang ingin saya gapai dari awal Januari hingga akhir Desember. Dapat IP bagus, bisa punya ini – punya itu, sampai dengan urusan berat badan juga masuk sebagai daftar harapan. Satu berhasil, dua tergapai, tiga terlaksana, empat dalam proses, lima sedang diniatkan, enam, tujuh, depalan, hingga dua puluh, terlupakan seiring waktu berjalan. Jumlahnya semakin menyusut, tiap kali resolusi disusun pada tahun berikutnya. Lalu menghilang seperti sekarang.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan menyusun resolusi. Saya yang salah karena menganggapnya sebagai beban. Tentu saja hidup saya memiliki tujuan, meskipun hanya berupa uraian umum seorang anak muda yang ingin membahagiakan orang tua. Terdengar standar? Ya, memang begitulah adanya. Teringat setiap ada soal pelajaran PPKn yang berbunyi, “membahagiakan orang tua adalah …………………………….”. Entah itu pilihan ganda atau isian, jawablah dengan jawaban “tugas yang mulia” atau yang satu tipe. InsyaAllah, dapat nilai 8 waktu pembagian raport. Dengan catatan, gak pernah dipanggil oleh guru BP. 

Satu hal detil yang mungkin bisa disebut sebagai resolusi saya pribadi adalah untuk tidak tidur larut malam, dan sekarang saya harus mematuhinya karena sudah sekian menit beranjak dari jam 2 pagi.

Selamat tahun baru 2013.

happy new year
Advertisements